Fokus Jateng – BOYOLALI – Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, masyarakat di berbagai wilayah Kawasan lereng Merapi Merbabu di Boyolali menggelar tradisi nyadran atau sadranan atau mengunjungi makam leluhur, pada Selasa 25 Agustus 2026.
Tradisi turun-temurun ini tidak hanya menjadi sarana kirim doa bagi leluhur, tetapi telah bertransformasi menjadi ajang budaya untuk memperkuat kerukunan antarumat beragama dan pelestarian identitas lokal.
Seperti di lingkup RW 04 dan 05 Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali. Ratusan warga anak-anak hingga orang dewasa mengikuti tradisi yang berlangsung di pemakaman umum Dukuh Mlambong, Desa Sruni. Kegiatan pun berlangsung meriah.
“Tradisi sadranan ini merupakan tradisi tahunan, yang sudah turun temurun dari zaman nenek moyang dahulu. Dilaksanakan dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, dan juga untuk mendoakan para leluhur yang dimakamkan di makam Mlambong,” kata tokoh agama setempat, Ngateman, dalam tradisi sadranan di pemakaman umum Dukuh Mlambong, Desa Sruni.
Tradisi ini diawali dengan bubak atau bersih-bersih makam yang dilaksanakan sehari sebelumnya atau Minggu 24 Agustus kemarin. Kemudian hari ini tadi dilaksanakan sadranan atau nyadran.
Dengan membawa tenong maupun rinjing berisi beraneka makanan, warga berbondong-bondong ke pemakaman umum tersebut. Mereka berasal dari 6 RT di lingkup RW 04 serta beberapa RT di RW 05 Desa Sruni.
Juga diikuti para warga dari berbagai daerah lain yang memiliki leluhur yang dimakamkan di makam Mlambong. Tak hanya warga yang sudah dewasa, anak-anak pun ikut, laki-laki dan perempuan.
Kenduri sadranan diawali dengan pembacaan dzikir tahlil dan pembacaan surat Yasin yang dipimpin pemuka agama setempat. Setelah doa, kemudian dilanjutkan makan bersama. Warga juga saling berbagi makanan yang dibawanya.
Menurut Ngateman, kegiatan trandisi ini juga sebagai wujud syukur warga kepada Allah SWT. Juga untuk melestarikan tradisi dari nenek moyang yang telah berlangsung turun temurun.
“Ini juga sebagai wujud rasa syukur kami kepada Allah SWT, atas limpahan nikmat dan rezeki kepada kita semua. Juga untuk nguri-uri tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun,” imbuhnya. ( yull/**)
