Fokusjateng.com – BOYOLALI, – Warga Desa Nepen, Kecamatan Teras, Boyolali kembali menemukan benda bersejarah. Benda yang ditemukan diduga merupakan bagian dari komponen bangunan candi berupa stupa atau struktur keagamaan masa lampau.
Sebelumnya, warga setempat juga menemukan benda serupa tak jauh dari lokasi ini. Ditemukannya benda bersejarah oleh beberapa warga Desa Nepen itu tidak disengaja. Penemuan itu berawal saat warga membuka lahan untuk akses jalan baru.
Perangkat Desa setempat, Aditama mengatakan sudah beberapa kali warga menemukan benda-benda bersejarah.
“Kalau di lokasi lahan ini ada dua, tadi kan diketahui adanya dua stupa yang ada. Yang satu sudah yang lama, akhirnya ada penemuan yang baru ini,” jelasnya.
Pihaknya berharap Pemkab Boyolali membantu penanganan temuan cagar budaya di Nepen. Desa Nepen memiliki potensi desa wisata dan sejumlah temuan cagar budaya lain yang tersebar.
Diketahui, Penemuan terjadi pada Kamis 14 Mei sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu, salah satu warga bernama Sopan Prasetyo tengah melakukan pembukaan akses jalan menuju pekarangan.
Dia menceritakan, bahwa temuan pertama kali muncul ketika melakukan pengerukan tanah untuk perataan jalan. Saat itu objek ditemukan dalam kondisi sedikit miring, dan tidak jauh dari lapik yang sebelumnya ditemukan.
“Pertama sekitar April lalu, saya menemukan pondasi atau landasannya. Kemudian saya angkat dan tanahnya mau diratakan untuk jalan. Saat saya keruk lagi, ternyata ditemukan batu yang diduga stupa pada 14 Mei 2026. Lokasinya sama, hanya beda kedalaman sekitar satu meter,” ujarnya.
Saat diangkat, objek masih tertutup tanah. Setelah dibersihkan dan diukur, diameter kedua benda itu ternyata sama persis. Yang membuatnya yakin ada keterkaitan, bentuk keduanya saling melengkapi, sebab satu memiliki lubang mengarah ke bawah, satunya mengarah ke atas.
“Lalu saya laporkan ke komunitas pegiat sejarah Buddha dan akhirnya diteruskan ke Disdikbud Boyolali,” kata Sopan.
Tim Ahli Pendaftaran Cagar Budaya, Farid Burhanuddin, membenarkan temuan itu. Menurutnya, objek yang ditemukan diduga masih dengan prasasti yang ditemukan sebelumnya di lokasi yang sama.
“Ketinggiannya 1,25 meter dan diameternya 1,30 meter. Dari struktur bentuk bangunannya, ini adalah struktur dari agama Buddha, berbentuk tabung seperti mangkok yang tertutup dan bawahnya ada prasasti Buddhis juga,” jelas Farid.
Dia menambahkan, di area sekitar 500 meter juga ditemukan objek serupa yang diduga stupa Buddhis. Laporan warga menyebut, di Desa Nepen banyak ditemukan objek diduga cagar budaya, mulai dari lapik, fragmen prigen, hingga bagian bangunan lain.
“Di sekitar sini banyak sekali ditemukan objek diduga cagar budaya. Baik itu lapik, fragmen prigen, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Farid menegaskan, untuk memastikan fungsi dan posisi pemasangan objek, perlu dilakukan kajian lebih lanjut.
“Untuk memastikan hubungan antara prasada dan stupa tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut. Nanti tetap dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan mendorong segera adanya kajian,” jelas Farid.
Dari karakteristik material dan bentuknya, batu tersebut diduga merupakan bagian dari bangunan candi bercorak Buddha yang berasal dari abad ke-8 hingga abad ke-9 Masehi atau masa Kerajaan Mataram Hindu–Buddha. Farid menduga temuan ini sezaman dengan prasasti yang ditemukan sebelumnya, dan kemungkinan besar digunakan untuk peribadatan umat Buddha pada masa lampau.
Kabid Kebudayaan Disdikbud Boyolali, Sunardi, mengatakan bahwa pihaknya sudah memiliki Perda dan Perbup tentang cagar budaya, namun SOP penanganan masih dalam proses penyusunan.
“Di Boyolali sudah ada perda dan perbup tentang cagar budaya, tapi belum ada SOP untuk penanganannya. Jadi kami sedang dalam proses merancang SOP, sehingga ke depan penanganan bisa lebih terarah,” ujarnya. ( yull/**)
