Menjelang Bulan Bung Karno, H. Sumanto Nyalakan Semangat ‘Jogo Kali’ di Lereng Lawu Karanganyar

Foto : H Sumanto saat menanam pohon dengan warga seloromo guna pentingnya menjaga lingkungan alam

 

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Saban Sabtu pagi, saat sebagian besar orang memilih menghabiskan akhir pekan dengan bersantai, riuh langkah kaki justru terdengar di sempadan sungai kawasan lereng Gunung Lawu. Di antara kerumunan warga, tampak seorang pria paruh baya mengenakan pakaian olahraga kasual, memegang cangkul dan memanggul bibit pohon.

Ia adalah H. Sumanto, S.H., Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah.

Menjelang peringatan Bulan Bung Karno yang jatuh setiap bulan Juni, Sumanto memang tengah gencar-gencarnya menggerakkan program “Jogo Kali, Merawat Bumi.” Sebuah gerakan ekologis massal yang difokuskan pada pemulihan hulu-hulu sungai di wilayah Solo Raya, khususnya di Kabupaten Karanganyar, mulai dari Kecamatan Kerjo, Karangpandan, hingga Jenawi.

Bagi politisi kawakan ini, merawat sungai bukan sekadar urusan menanam pohon. Ini adalah ritus kebudayaan, sebuah jalan sunyi nasionalisme untuk memastikan anak-cucu tak menangis karena kekeringan di masa depan.

Ziarah Kebangsaan di Aliran Sungai

Banyak orang memperingati Bulan Bung Karno di dalam gedung atau mimbar-mimbar pidato. Namun bagi Sumanto, menjaga kelestarian alam dan sumber air adalah bentuk paling otentik dalam menerjemahkan ajaran Marhaenisme dan gotong royong yang diwariskan oleh Sang Proklamator.

” Bung Karno selalu mengajarkan kita tentang berdikari dan berpihak pada rakyat kecil. Kedaulatan pangan dan kedaulatan air adalah kunci kemandirian bangsa. Kalau sungai kita rusak, air mengering, yang paling pertama menderita adalah petani dan rakyat kecil. Maka, ‘Jogo Kali’ ini adalah ziarah kebangsaan kami yang nyata di lapangan,” ujar H. Sumanto saat ditemui di sela-sela aksi penanaman.

Langkah konkret yang dilakukan Sumanto bukan sekadar seremonial tanam lalu ditinggal. Setiap pekan, ribuan bibit pohon berkategori tangkapan air tinggi, seperti Elo, Preh, dan Bulu, ditanam secara masif di sepanjang daerah aliran sungai (DAS).

Melawan Mitos dengan Logika Ekologi

Ada hal menarik dalam pendekatan yang dilakukan Sumanto saat mengedukasi masyarakat pedesaan. Ia kerap kali menggunakan pendekatan kearifan lokal yang dikemas dengan logika modern untuk menyadarkan warga tentang pentingnya menjaga pohon-pohon besar di area mata air.

“Dulu orang tua kita sering bilang kalau pohon bulu besar itu ada ‘penunggunya’ dan tidak boleh ditebang. Secara spiritual mungkin itu mitos, tapi secara ekologis itu kebenaran yang mutlak. ‘Penunggunya’ itu apa? Ya air yang melimpah untuk kehidupan desa kita. Jika pohon itu ditebang, ‘penunggunya’ pergi, yang datang adalah bencana kekeringan dan tanah longsor,” jelas Sumanto sembari tersenyum.

Melalui narasi yang membumi tersebut, warga desa justru lebih mudah tergerak. Mereka kini tidak lagi melihat pohon-pohon di pinggir sungai sebagai semak belukar biasa, melainkan sebagai aset masa depan desa mereka.

Membentuk Jaringan Relawan Desa

Sadar bahwa gerakan lingkungan memerlukan napas panjang, Sumanto menginisiasi pembentukan jaringan relawan “Jogo Kali” di tingkat desa. Relawan-relawan inilah yang bertugas merawat, memupuk, dan memastikan bibit pohon yang ditanam tumbuh dengan baik.

Beliau juga menciptakan kultur baru di tengah masyarakat: merawat alam sembari berolahraga.

“Saya ajak warga, ayo setiap pagi jalan sehat atau keliling desa, tapi tujuannya sambil menengok pohon-pohon yang sudah kita tanam. Dipastikan hidup atau tidak. Kalau mati, langsung kita sulam dengan bibit baru,” tambah Sumanto dengan penuh semangat.

Ia menegaskan sebuah prinsip penting dalam kebencanaan:

“Prinsip saya sederhana, ‘Aja ngenteni ana bencana, baru kita bertindak’  (Jangan menunggu ada bencana baru bergerak). Kita harus mitigasi dari sekarang. Pohon beringin yang kita tanam hari ini, mungkin baru akan terasa dampaknya 5 atau 10 tahun ke depan. Tapi inilah warisan terbaik kita untuk anak cucu.”

Aksi nyata “Jogo Kali” menjelang Bulan Bung Karno ini kini terus bergulir bagai bola salju. Dari hulu Sungai Kledung di Karangpandan, mata air Desa Kwadungan di Kerjo, hingga kawasan lereng curam Desa Seloromo di Jenawi, ribuan pohon kini telah berdiri, bersiap menjadi benteng hijau yang menjaga ketersediaan air bersih di Jawa Tengah.

Di tangan dingin Sumanto, politik tidak hanya bicara soal kontestasi kekuasaan, melainkan sebuah jalan pengabdian untuk memastikan bumi pertiwi tetap lestari, hijau, dan menghidupi rakyatnya sendiri. ( bre suroto )