Waisakha Raya 2026 di Solo, dari Kirab Bhikkhu Thudong hingga Puncak Harmoni Lintas Umat

Juru Bicara Perayaan Waisakha Raya 2570 TB/2026, Pandita Mettasiri Sutrisno (empat dari kiri) menjelaskan rangkaian acara peringatan Hari Raya Waisak di Kota Surakarta pada Mei-Juni 2026, Selasa (13/5/2026). (Thia/Fokusjateng.com)

Fokusjateng.com-SURAKARTA-Perayaan Waisakha Raya 2570 TB/2026 umat Buddha Solo akan digelar sepanjang Mei hingga Juni 2026 dengan menghadirkan rangkaian kegiatan spiritual, budaya, sosial, dan kebangsaan di Kota Surakarta.

Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Balai Kota Surakarta ini melibatkan ribuan peserta, tokoh lintas agama, komunitas budaya, pemerintah daerah, hingga masyarakat umum sebagai bentuk penguatan harmoni dan persaudaraan kebangsaan.

Juru Bicara Perayaan Waisakha Raya 2570 TB/2026, Pandita Mettasiri Sutrisno, mengatakan perayaan Waisak tahun ini diharapkan menjadi simbol penguatan toleransi dan harmoni kebangsaan melalui pendekatan spiritual, budaya, dan kemanusiaan.

“Pada perayaan Waisak tahun ini kami mengusung tema “Menapaki Jalan Mulia, Bersumbangsih bagi Negeri”,” ujar Pandita Mettasiri Sutrisno saat jumpa pers rangkaian agenda Perayaan Waisakha Raya 2570 TB/2026 di gedung PMS Surakarta, Selasa 12 Mei 2026.

Tema tersebut mengandung pesan bahwa nilai-nilai luhur Buddha Dharma tidak hanya menjadi pedoman spiritual umat Buddha, tetapi juga diwujudkan melalui kontribusi nyata kepada masyarakat, bangsa, dan negara.

Ketua Panitia Perayaan Waisakha Raya 2570 TB/2026, Subekti, menegaskan Waisak menjadi momentum memperkuat semangat persaudaraan, toleransi, dan gotong royong dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Hari Raya Trisuci Waisak merupakan momentum suci untuk memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Buddha Gautama, yakni kelahiran Pangeran Siddhartha, pencapaian penerangan sempurna, dan Parinibbana Buddha Gautama,” ungkap Subekti.

Selain menjadi kegiatan keagamaan, rangkaian Waisak juga diharapkan mempererat kerukunan antarumat beragama serta memperkuat nilai kebangsaan di tengah masyarakat yang majemuk.

“Kegiatan ini menjadi bentuk kolaborasi antara umat Buddha, pemerintah daerah, tokoh lintas agama, komunitas budaya, dan masyarakat umum,” ujar Pandita Mettasiri Sutrisno menambahkan.

Rangkaian kegiatan Waisakha Raya akan dimulai pada 19 Mei hingga 19 Juni 2026 melalui pemasangan ornamen Buddhis dan lampion di kawasan Gladag, Balai Kota Surakarta, serta koridor Jalan Jenderal Sudirman. Berbagai instalasi tematik seperti gapura stupa, naga penjaga, Pilar Raja Asoka, ornamen hewan Jataka, penjor, hingga Rupang Buddha Maha Parinibbana akan menghiasi pusat kota untuk memperkuat nuansa spiritual dan budaya Waisak.

“Instalasi ini diharapkan menjadi ikon visual Waisak 2026 sekaligus daya tarik wisata masyarakat,” tutur Pandita Mettasiri Sutrisno.

Ia menyebut Panitia juga akan menyambut kedatangan Bhikkhu Thudong di Vihara Dhamma Sundara pada Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 15.00 WIB. Para Bhikkhu Thudong yang menjalankan perjalanan spiritual dengan berjalan kaki itu akan disambut melalui ritual penghormatan dan pembasuhan kaki sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pura Mangkunegaran.

“Bhikkhu Thudong menjadi simbol praktik kesederhanaan, disiplin, dan pengendalian diri dalam ajaran Buddha,” katanya.

Pada hari yang sama, penyambutan Bhikkhu Thudong juga akan dilaksanakan di Pura Mangkunegaran pada pukul 16.45 hingga 17.45 WIB. Prosesi tersebut akan diisi dengan ritual penghormatan dan tari selamat datang sebelum rombongan mengikuti Kirab Waisak menuju Balai Kota Surakarta.

“Keterlibatan unsur budaya dalam penyambutan ini menunjukkan bahwa Waisak menjadi ruang harmoni antara nilai spiritual dan budaya Nusantara,” Pandita Mettasiri Sutrisno.

Kirab Waisak dan Prosesi Pemandian Bodhisattva Siddhartha akan menjadi salah satu agenda utama yang digelar pada Sabtu malam, 23 Mei 2026. Kirab dengan rute Loji Gandrung menuju Balai Kota Surakarta itu diperkirakan diikuti sekitar 1.500 peserta, termasuk 55 Bhikkhu Thudong, dua Bhikkhu Indonesia, dua samanera, organisasi Buddhis, pemuda lintas agama, serta komunitas seni budaya Nusantara.

Pandita Mettasiri Sutrisno mengatakan Kirab Waisak ini menjadi simbol harmoni dan persatuan dalam keberagaman. Kirab itu akan menghadirkan Kereta Kencana Mahājāti yang melambangkan kelahiran agung Siddhartha Gautama. Di akhir prosesi kirab, masyarakat akan mengikuti Puja Pemandian Rupang Bodhisattva Siddhartha di Plaza Balai Kota Surakarta sebagai simbol penyucian batin dan pengembangan kebijaksanaan.

“Prosesi pemandian rupang mengajak umat untuk membersihkan batin dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari,” kata Subekti.

Kegiatan Sangha Dana bersama Bhikkhu Thudong akan berlangsung di Vihara Dhamma Sundara pada Minggu pagi, 24 Mei 2026. Setelah kegiatan tersebut, para Bhikkhu Thudong akan melanjutkan perjalanan menuju Balai Kota Surakarta untuk mengikuti prosesi pelepasan dan pindapata yang diperkirakan diikuti sekitar 1.000 peserta.

Pandita Mettasiri Sutrisno menambahkan nilai utama dalam pindapata adalah kesederhanaan, kepedulian, dan kebersamaan antara umat serta masyarakat. Pada hari yang sama, panitia juga akan menggelar donor darah di Pendhapi Gedhe Balai Kota Surakarta sebagai bentuk kepedulian sosial umat Buddha kepada masyarakat luas. Selain kegiatan sosial, masyarakat juga akan disuguhi stand kuliner khas Solo pada beberapa periode pelaksanaan Waisak, yakni 22–24 Mei, 29–31 Mei, 5–7 Juni, dan 12–14 Juni 2026. Subekti mengatakan,

“Rangkaian kuliner dan hiburan budaya diharapkan mampu menggerakkan sektor UMKM dan memperkuat wisata budaya Kota Surakarta,” katanya.

Pentas Seni Hari Trisuci Waisak akan digelar pada Sabtu, 30 Mei 2026 di Plaza Balai Kota Surakarta dengan melibatkan sekitar 500 peserta. Acara tersebut akan menampilkan tari tradisional, musik religi, pertunjukan budaya Nusantara, dan kolaborasi lintas komunitas sebagai simbol keberagaman budaya Indonesia.

Menurut Pandita Mettasiri Sutrisno, pentas seni menjadi ruang perjumpaan budaya yang memperkuat semangat toleransi dan kebersamaan. Puncak spiritual Waisak akan berlangsung pada Minggu, 31 Mei 2026 dengan detik-detik Waisak jatuh pada pukul 15.44.44 WIB. Prosesi sakral ini akan dilaksanakan di Vihara Dhamma Sundara dan vihara-vihara Buddhis di wilayah Surakarta sebagai momentum refleksi dan pendalaman spiritual umat Buddha. Pandita Mettasiri Sutrisno mengatakan,

 

“Waisak adalah momentum memperkuat perdamaian dan toleransi,” ujarnya lagi.

 

Pada malam harinya, masyarakat akan mengikuti meditasi umum bersama Bhikkhu di Pendhapi Gedhe Balai Kota Surakarta. Meditasi tersebut terbuka bagi masyarakat luas sebagai sarana menumbuhkan kedamaian batin dan refleksi spiritual di tengah kehidupan sosial yang majemuk.

“Kami mengajak masyarakat menjadikan meditasi sebagai ruang bersama untuk menghadirkan kedamaian dan ketenteraman,” katanya.

Sementara itu, puncak acara Waisakha Raya 2570 TB/2026 akan digelar pada Sabtu, 6 Juni 2026 di Pendhapi Gedhe Balai Kota Surakarta dengan menghadirkan sekitar 1.000 peserta. Acara tersebut akan diisi doa bersama, pesan kebangsaan, pentas budaya, dan kebersamaan lintas umat, termasuk pesan Waisak dari Y.M. Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera.

 

“Kota Surakarta kembali menunjukkan komitmennya sebagai kota budaya yang menjunjung tinggi keberagaman dan kerukunan antarumat beragama,” ujar Pandita Mettasiri Sutrisno.

 

Panitia menilai rangkaian Waisakha Raya 2570 TB/2026 tidak hanya berdampak pada penguatan nilai spiritual dan toleransi sosial, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor UMKM dan pariwisata budaya religi. Sejumlah pihak telah diajak bersinergi dalam penyelenggaraan kegiatan ini, mulai dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Surakarta, Kementerian Agama, tokoh lintas agama, hingga unsur budaya dan masyarakat. Subekti mengatakan,

 

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga suasana damai, tertib, aman, dan harmonis selama rangkaian Waisak berlangsung,” ucap Subekti.

Panitia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan Perayaan Waisakha Raya 2570 TB/2026 di Kota Surakarta. Panitia berharap rangkaian kegiatan ini mampu menghadirkan kedamaian, memperkuat semangat kebersamaan, dan menjadi teladan harmoni kebangsaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

“Semoga perayaan ini membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi semua makhluk,” ujar Pandita Mettasiri Sutrisno menutup pernyataannya. (Thia/***)