Harga kedelai naik, ukuran tempe di Boyolali mengecil

Fokus Jateng-BOYOLALI, –Kenaikan harga kedelai dunia mulai berdampak langsung pada dapur produksi perajin tahu dan tempe di Boyolali, Jawa Tengah. Para perajin terpaksa mengecilkan ukuran tahu dan tempe yang akan dijual.

Subandi, seorang perajin tempe di Dukuh Bantulan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, mengatakan harga kedelai di pasaran telah menembus Rp 10.500 per kilogram. Kenaikan ini terjadi secara bertahap sejak dua pekan terakhir, dengan rata-rata kenaikan Rp 100 hingga Rp 200 setiap harinya.

“Kenaikan harga ini sudah terjadi sekitar 10 hari terakhir, merangkak terus setiap harinya,” ungkap Subandi.

Menghadapi tren kenaikan tersebut, Subandi terpaksa mengubah dimensi tempe produksinya. Cara ini dilakukan agar perajin tidak rugi, karena harga kedelai naik.

“Untuk mensiasatinya, ya ukurannya yang dikurangi. Yang sebelumnya panjang sekarang menjadi lebih pendek, tapi kalau harga masih tetap sama,” katanya. Sabtu 4 April 2026.

Sedikit berbeda dengan perajin tempe. Seorang perajin tahu di Desa Bendan, Mardiyanto mengaku memilih untuk mengalah dengan cara memangkas margin keuntungannya sendiri. Ia menjelaskan, berbeda dengan tempe yang bisa dipotong lebih pendek, ukuran tahu menurutnya sudah memiliki standar minimal yang sulit untuk diperkecil lagi tanpa merusak kualitas teksturnya.

“Ya sementara mengurangi keuntungan kita. Keuntungan jadi berkurang karena kita memang belum menaikkan harga jual ke pelanggan,” kata Mardiyanto.

Kendati demikian, ia menegaskan bahwa strategi bertahan dengan cara memangkas keuntungan ini memiliki batas waktu demi menyelamatkan usahanya dari kebangkrutan.

“Kita kalau sudah terpaksa sekali, baru menaikkan harga. Kalau sudah di titik saya tidak mampu lagi menutup biaya produksi, ya mau tidak mau harga kita naikkan,” tegasnya.

Jika harga kedelai terus melonjak tanpa ada intervensi, Mardiyanto mengaku berencana melakukan penyesuaian harga secara signifikan pada produk tahu miliknya. (yull/**)