FokusJateng.com-SURAKARTA-Tjolomadoe Hall di destinasi wisata bekas pabrik gula De Tjolomadoe, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dipenuhi energi generasi muda saat Gen Darling Fest yang digelar pada Kamis 12 Februari 2026. Festival ini tak hanya menghadirkan hiburan musik, tetapi juga menjadi ruang bertemunya kreativitas dan kampanye keberlanjutan dalam satu panggung kolaboratif.
Mengusung gerakan Generasi Sadar Lingkungan (Gen Darling), acara ini dirancang sebagai wadah edukasi sekaligus ajakan nyata untuk lebih peduli terhadap bumi. Musik, diskusi, hingga aksi inspiratif berpadu, menegaskan bahwa isu lingkungan bisa dikemas dengan cara yang relevan bagi Gen Z.
Director Communication Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, menjelaskan gerakan ini berangkat dari kesadaran bersama bahwa kepedulian terhadap lingkungan perlu terus digaungkan melalui narasi positif. Kolaborasi dengan Solopos dinilai menjadi langkah strategis untuk menjangkau generasi muda yang memiliki peran penting dalam mendorong perubahan.
“Harapannya, gerakan ini bisa memperkuat semangat menjaga bumi sebagai tempat tinggal kita bersama,” ujarnya.
Presiden Direktur Solo Pos Media Group (SMG), Arief Budisusilo, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) kepada SMG sebagai mitra kolaborator. Menurutnya, gerakan ini bukan sekadar membangun kepedulian, tetapi juga membentuk kebiasaan dan gaya hidup berkelanjutan di kalangan anak muda.
Isu perubahan iklim dan dampaknya di berbagai daerah di Indonesia turut menjadi sorotan dalam festival tersebut. Karena itu, keterlibatan generasi muda dinilai krusial dalam menghadapi tantangan lingkungan ke depan.
Dalam acara ini hadir pula Pandawara Group yang selama ini dikenal aktif melakukan aksi bersih-bersih sungai dan pantai. Gilang Rahma Nabilah dan M. Rafly Pasha Putra Pratama berbagi cerita tentang perjalanan komunitas mereka.
Gilang menekankan pentingnya memulai dari langkah sederhana. “Kalau baru bisa bijak menggunakan plastik, mulai dari situ dulu. Jangan memaksakan aksi besar tanpa kesiapan,” pesannya.
Ia mengisahkan, di awal perjalanan empat hingga lima tahun lalu, Pandawara harus patungan untuk membeli perlengkapan dasar seperti sarung tangan dan karung sampah. Proses panjang itu kerap luput dari perhatian publik yang hanya melihat hasil akhirnya ketika aksi mereka viral.
“Semua butuh proses. Tidak ada yang instan,” tambahnya.
Suasana semakin semarak saat IDGITAF naik ke panggung. Penampilan penyanyi muda tersebut menjadi magnet utama festival yang digelar gratis ini. Deretan lagu seperti Mengudara, Satu-Satu, Takut, Terpikat Senyummu, hingga Hal Indah Butuh Waktu Untuk Datang sukses mengundang koor penonton.
Di sela penampilannya, IDGITAF turut menyampaikan pesan tentang tanggung jawab pribadi terhadap lingkungan. Ia mengajak generasi muda untuk tidak menunggu orang lain dalam menjaga kebersihan.
“Kita tidak bisa selalu bergantung pada orang lain. Sampah kita adalah tanggung jawab kita sendiri,” tuturnya.
Konser ditutup dengan lagu Sedia Aku Sebelum Hujan yang dinyanyikan bersama para penonton, menandai akhir festival yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menyemai kesadaran.
Gen Darling Fest membuktikan bahwa kampanye lingkungan bisa dikemas dengan cara yang dekat dengan anak muda: seru, inspiratif, dan penuh kolaborasi. (thia/**)
