FOKUSJATENG.COM WONOGIRI – Malam itu, kesakralan pertunjukan wayang kulit kembali hadir di sebuah rumah klasik di Desa Ngrakung, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri. Bukan di gedung pertunjukan modern, melainkan di pringgitan (serambi depan) rumah milik Bapak Katino. Panggung ini dipilih secara khusus oleh komunitas Solo Societeit dan Prodi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) untuk menghidupkan kembali fungsi historis rumah Jawa sebagai ruang pertunjukan seni.
Kegiatan ini berawal dari kegelisahan Solo Societeit tentang hilangnya fungsi rumah Jawa, terutama pringgitan, sebagai panggung wayang. Padahal, menurut pendiri Solo Societeit, Dr. Heri Priyatmoko, pringgitan adalah bukti kecerdasan arsitektur leluhur yang dirancang khusus untuk pertunjukan wayang.
“Perkembangan zaman dan teknologi tanpa disadari telah melenyapkan keunikan fungsi pringgitan untuk pentas wayang,” ungkap Dr. Heri, yang juga mengajar di Prodi Sejarah USD. “Ini sejatinya adalah bukti kecerdasan leluhur dalam bidang sejarah dan arsitektur ruang hunian.”
Untuk menjawab kegelisahan itu, Solo Societeit dan Prodi Sejarah USD menggelar pertunjukan wayang kulit gaya Surakarta dengan lakon “Dewa Ruci”. Yang menarik, dalang yang tampil adalah seorang dalang muda sekaligus mahasiswa Prodi Sejarah USD, Wahyu Prasetya Aji.
Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi “laboratorium budaya” yang mengimplementasikan kajian teoretis tentang fungsi ruang dalam konteks budaya Jawa. Desa Ngrakung sendiri dipilih karena masyarakatnya masih memelihara tradisi pewayangan, seperti melalui perayaan Rosulan. Selain itu, dinamika sosial di desa ini—dengan kehadiran kelompok penghayat Kejawen, komunitas santri, hingga SMA Katolik—menjadi objek kajian menarik bagi mahasiswa untuk melihat bagaimana tradisi Surakarta dapat beradaptasi dalam masyarakat yang heterogen.
Romo Heri Setyawan SJ, seorang imam Yesuit sekaligus dosen Prodi Sejarah USD yang berasal dari Giriwoyo, menambahkan bahwa acara ini menjadi momentum yang berharga. “Saya lahir dan besar di desa dekat sini. Jadi, acara wayangan di rumah Simbah Katino ini menjadi sarana saya bernostalgia,” ujarnya.
Malam itu, antusiasme masyarakat begitu luar biasa. Ratusan penonton memadati area pertunjukan, mulai dari depan kelir, pekarangan, hingga di balik kelir. Suasana yang sakral dan anggun berhasil mengembalikan spirit pertunjukan wayang kulit seperti puluhan tahun silam.
Diharapkan, kolaborasi antara komunitas dan akademisi ini bisa menjadi model dalam pelestarian warisan budaya berbasis riset. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi media sosialisasi bagi Prodi Sejarah USD untuk menunjukkan relevansi dan prospek kajian sejarah dalam pelestarian budaya. ( bre )
