Angkitivitas Gunung Merapi Meningkat, Ini yang Dilakukan BPBD Boyolali

Simulasi dan pengkondisian masyarakat serta petugas bila terjadi bencana di Selo. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Pemkab Boyolali sejak tiga bulan ini kembali melakukan intervarisir jumlah dan lokasi untuk pengungsian, hingga simulasi evakuasi menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Merapi.

Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Bambang Sinungharjo menjelaskan Pemkab Boyolali Melalui BPBD terus mempersiapkan skema evakuasi untuk antisipasi dampak bencana Merapi, termasuk mengingatkan kembali Memorandum of Understanding (MoU) pada 2018 lalu dengan Kabupaten Magelang yang menjadi lokasi pengungsian warga Desa Klakah dan Desa Tlogolele, Kecamatan Selo.

“Kita kembali malkukan kunjungan ke wilayah kabupaten terdampak, adapun Merapi memang sudah membentuk kubah lava, dimungkinkan erupsi ada, tapi sejauh ini aman,” katanya, Kamis (9/7/2020).

Menurut Bambang Sinungharjo, untuk proses evakuasi bilamana diperlukan, lokasi evakuasi untuk dua desa di Kecamatan Selo ada di wilayah Kabupaten Magelang, yakni Desa Klakah ke Desa Gantang, Kecamatan Sawangan, dan Desa Tlogolele ke Desa Mertoyudan, Kecamatan Mertoyudan. Meski berbeda wilayah administrasi, lokasi evakuasi tersebut dipilih sebab aksesnya lebih mudah dicapai.

“Untuk Desa Klakah dan Desa Gantang sudah ada MoU. MoU untuk Desa Tlogolele dan Desa Mertoyudan juga sudah diproses, dimana jumlah penduduk yang perlu dievakuasi bila aktivitas Merapi meningkat sebanyak 4000an jiwa,” katanya.

Skema evakuasi dua desa tersebut, lanjutnya, yakni pengungsi akan tinggal di rumah-rumah warga yang memang sudah dipersiapkan. Konsep tersebut mengadopsi konsep sister village, dimana sebanyak 17 desa di Kecamatan Cepogo, Selo, dan Musuk yang masuk kawasan risiko bencana (KRB) II dan III menjalin kerja sama dengan desa lain di wilayah yang aman untuk lokasi evakuasi.

Meski di wilayah Magelang, namun bila evakuasi dilakukan, suplai logistik masih menjadi tanggung jawab Pemkab Boyolali.

Demikian halnya proses evakuasi, pihaknya terus melakukan simulasi dan pengkondisian masyarakat serta petugas bila terjadi bencana. Simulasi meliputi kesiapan jalur evakuasi, dapur umum, komunikasi, hingga penanganan kesehatan. Sejak beberapa tahun terakhir, simulasi dilakukan tiga kali dalam setahun.

“Masyarakat setempat pun sudah dilatih untuk siap bila harus melakukan evakuasi,” katanya.

Di sisi lain, menyusul gempa Merapi yang terjadi berturut turut pada akhir Juni lalu, hal tersebut belum mempengaruhi kondisi masyarakat setempat. Dari rapat koordinasi dengan pemerintah kabupaten wilayah terdampak lainnya, terkait evakuasi nantinya tetap menggunakan protokol kesehatan covid 19.

“Jadi seperti dalam penyusunan rencana kontijensi (renkon) untuk merapi, dalam renkon yang tersusun 2018 kemarin, tapi hanya catatan yakni tetap menggunakan protokol covid,” pungkasnya.