44 Tahun PPMI Assalaam, Delapan Alumni Raih Assalaam Award

Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Surakarta memberikan penghargaan Assalaam Award 2026 kepada delapan alumni yang dinilai memiliki kontribusi menonjol di berbagai bidang dalam rangkaian Sarasehan Alumni dan Ceramah Umum di lingkungan PPMI Assalaam, Sabtu, 22 Agustus 2026. (Istimewa. /*Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng-SURAKARTA-Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam Surakarta memperingati 44 tahun kiprahnya dengan memberikan penghargaan kepada delapan alumni yang dinilai memiliki kontribusi menonjol di berbagai bidang. Penghargaan bertajuk Assalaam Award 2026 itu diserahkan dalam rangkaian Sarasehan Alumni dan Ceramah Umum di lingkungan PPMI Assalaam, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri pimpinan dan pengasuh pondok, alumni yang telah meraih gelar profesor dan doktor, serta ribuan santri. Ceramah umum dalam kegiatan itu disampaikan Prof. Madya Dr. Hj. Betania Kartika, BA (Hons), MA, alumni angkatan kedua yang kini menjadi bagian dari INHART Training and Consultancy Committee, International Islamic University Malaysia (IIUM).

Direktur PPMI Assalaam, Ustadz Drs. Uripto M. Yunus, M.Ed., mengatakan perjalanan 44 tahun PPMI Assalaam tidak terlepas dari peran para asatiz dan asatizah, santri, serta walisantri. Menurut dia, seluruh pihak telah memberikan kontribusi melalui pengabdian, proses pendidikan, dan doa.

“Alhamdulillah, kami bersyukur atas perjalanan selama ini. Tentu tidak mudah. Ada para asatiz dan asatizah yang siang dan malam berupaya memberikan yang terbaik,” kata Uripto.

Ia berharap perjalanan panjang tersebut terus membawa keberkahan dan melahirkan generasi yang mampu memberikan manfaat lebih luas.

Assalaam Award 2026 diberikan kepada delapan alumni dengan latar belakang yang beragam. Mereka antara lain tokoh keumatan, akademisi, pengusaha, legislator, polisi, dai, hingga penggerak pemberantasan buta aksara Al-Qur’an.

Penerima penghargaan pertama adalah Ir. Merza Edy Nadzari, alumni angkatan pertama. Ia dikenal sebagai dai dan tokoh keumatan di Papua serta pernah menjabat Ketua BAZNAS Provinsi Papua periode 2015–2026.

Penghargaan juga diberikan kepada Prof. Dr. Ustadi Hamsah, M.Ag., alumni angkatan ketujuh yang merupakan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga. Ia juga menjabat Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah serta Sekretaris Jenderal Asosiasi Studi Agama Indonesia.

Dari kalangan profesional, penghargaan diberikan kepada Eko Teguh Aristianto, S.E., alumni angkatan keenam yang menjabat Direktur Utama PT Suryatama Sejati sekaligus Komisaris PT Gunung Sulah Medica dan PT Gunung Pesawaran Medica.

Sementara itu, Anindha Maharani Alboneh, alumni angkatan ke-25, mendapat penghargaan atas kiprahnya sebagai tokoh muda muslimah dan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, periode 2024–2029.

Dua alumni angkatan ke-26, Syukriyatun Ni’amah, S.T. dan Tita Shabrina Maulinda, S.E., turut menerima Assalaam Award. Keduanya merupakan pendiri PT Siklus Karya Global atau ROBRIES yang mengolah limbah plastik menjadi produk interior bernilai tambah.

Penghargaan berikutnya diberikan kepada AKP Agus Subroto, S.H., alumni angkatan keenam yang bertugas sebagai Tenaga Pendidik Fungsional SPN Polda Jawa Tengah. Selain menjalankan tugas kepolisian, ia aktif dalam kegiatan dakwah kamtibmas.

Dua penerima lainnya adalah Dr. Yogi Prana Izza, Lc., M.A., alumni angkatan kedelapan yang menjabat Wakil Rektor UNUGIRI Bojonegoro dan Ketua III MUI Kabupaten Bojonegoro, serta Ustadz Mohammad Fikrie Syahrijal, Lc., alumni angkatan ke-19 yang berkiprah sebagai Master Trainer Cinta Quran Learning.

Melalui program Indonesia Bisa Baca Al-Qur’an, Fikrie disebut telah menjangkau lebih dari 350.000 peserta.

Pemberian penghargaan tersebut menjadi bagian dari upaya PPMI Assalaam menegaskan nilai yang diusung lembaga, yakni Local Value, Global Standard. Para penerima menunjukkan bahwa pengalaman pendidikan di pesantren dapat menjadi bekal untuk berkiprah di bidang akademik, profesional, kewirausahaan, pemerintahan, kepolisian, dakwah, maupun pemberdayaan masyarakat.

Momentum peringatan 44 tahun itu sekaligus diharapkan menjadi inspirasi bagi para santri. Kiprah para alumni menjadi gambaran bahwa pendidikan dan pembinaan di pesantren dapat dilanjutkan dengan pengabdian nyata di tengah masyarakat, bangsa, hingga lingkup internasional. (*Thia/**)