Kritik Tajam Ketua Formaska: Legislator Muda Karanganyar Jangan Alergi ‘Sinau’ Regulasi

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Kondisi dinamika pemerintahan di Kabupaten Karanganyar memancing perhatian serius dari Forum Masyarakat Karanganyar (Formaska). Ketua Fosmaka, Much “Yerry” Riyadi, dalam sebuah obrolan santai, melontarkan kegelisahannya terkait performa para wakil rakyat, khususnya generasi muda yang kini menduduki kursi legislatif.

Yerry menyoroti adanya kecenderungan legislator muda yang dinilai memiliki kemampuan “pas-pasan” namun enggan meng-upgrade diri. Menurutnya, menjadi anggota dewan bukan sekadar tentang popularitas atau perolehan suara, melainkan tentang penguasaan regulasi yang menjadi senjata utama dalam menjalankan fungsi pengawasan (monitoring).

Kelemahan Pengawasan Picu Celah Eksekutif

Menurut Yerry, jika fungsi pengawasan di gedung DPRD berjalan efektif, tajam, dan berbasis aturan yang kuat, maka potensi penyimpangan di tingkat eksekutif dapat ditekan seminimal mungkin.

“Seringkali kita melihat pengawasan hanya formalitas. Padahal, jika legislatornya mumpuni dan rajin belajar regulasi terbaru, mereka bisa lebih kritis. Pengawasan yang tajam adalah obat mujarab untuk mengurangi potensi ‘main mata’ atau kelalaian yang dilakukan oleh pihak eksekutif,” ujar Yerry.

Ia menyayangkan jika ada legislator yang justru malas membaca aturan main atau perundang-undangan yang dinamis. Akibatnya, fungsi monitoring menjadi tumpul dan hanya mengikuti arus tanpa daya tawar intelektual yang kuat.

Ajakan ‘Sinau Bareng’ Tanpa Sekat

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kemajuan Bumi Intanpari, Yerry menyatakan bahwa Fosmaka membuka pintu lebar-lebar bagi para legislator muda yang ingin berdiskusi. Ia menawarkan konsep “Sinau Bareng” atau belajar bersama secara informal.

“Tidak perlu formal atau kaku. Kita bisa duduk bareng, diskusi santai tentang update regulasi. Tujuannya satu, agar fungsi kontrol mereka sebagai wakil rakyat semakin berbobot. Kami di Fosmaka siap menjadi mitra diskusi agar kawan-kawan muda ini punya taji dalam mengawal kebijakan publik,” imbuhnya.

Keprihatinan Terhadap Isu Korupsi

Di sisi lain, Yerry tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya setiap kali mendengar kabar adanya tokoh publik di Karanganyar—baik dari jajaran legislatif maupun eksekutif—yang terendus praktik korupsi.

Bagi Yerry, korupsi adalah luka bagi masyarakat yang menggantungkan harapan pada integritas para pemimpinnya. Ia berharap, kedekatan tokoh publik dengan regulasi bukan untuk mencari celah hukum, melainkan untuk membentengi diri agar tidak terjerumus dalam pusaran rasuah.

“Sangat menyakitkan jika tokoh yang seharusnya menjadi teladan justru terseret kasus korupsi. Karanganyar butuh pemimpin dan pengawas yang bersih, cerdas, dan mau terus belajar demi kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau golongan,” pungkasnya. ( bre )