Asah Kemampuan Navigasi, Puluhan Relawan Se-Karanganyar Perdalam Ilmu Kompas di Markas PMI

 

FOKUSJATENG.COM. KARANGANYAR – Kemampuan navigasi darat menjadi harga mati bagi seorang relawan, terutama dalam misi pencarian orang hilang atau tersesat di gunung. Menyadari pentingnya hal tersebut, SAR Karanganyar bersama PMI Karanganyar menggelar diklat khusus peningkatan kapasitas ilmu kompas dan peta yang rencananya akan di gelar minggu depan awal bulan maret.

Acara yang dipusatkan di Mako PMI Karanganyar ini diikuti oleh sekitar 20 organisasi relawan lintas sektor. Berdasarkan pantauan, antusiasme peserta sangat tinggi. Nama-nama besar seperti AGL, MDMC, SAR MTA, hingga UNS turut mengirimkan personel terbaiknya untuk menyamakan persepsi dalam teknik pencarian.

Pentingnya “Ilmu Tua” di Era Digital

Meski teknologi GPS sudah sangat canggih, penggunaan kompas bidik dan protaktor tetap menjadi kurikulum utama. Hal ini ditegaskan oleh Koordinator Kegiatan, Muhammad Rosyid Al Fauzan alias Cepak yg kerap di sapa Cepak Menurutnya, ketergantungan pada gadget bisa berisiko saat berada di medan hutan yang lebat atau saat kendala sinyal dan baterai terjadi.

“Relawan harus punya insting dan akurasi. Kompas tidak butuh sinyal, tapi butuh ketelitian. Di medan pegunungan seperti Lawu, meleset beberapa derajat saja bisa membuat tim menjauh dari titik koordinat target,” ujar Cepak  jelang pre pare acara kegiatan.

Daftar Organisasi yang Hadir

Dari data konfirmasi kehadiran, tercatat setidaknya 15 hingga 20 organisasi yang sudah merapat, di antaranya:

* AGL (5 Personel)
* Mojogedang Rescue(4 Personel)
* MDMC (3 Personel)
* PMI (10 Personel)
* SAR MTA (8 Personel)
* SAR Kab (6 Personel)
* Serta organisasi lainnya seperti Gentapala, Kumbang Lawu, Satber Beruk, hingga unsur mahasiswa (UNS).

Fokus pada Operasi SRU

Pelatihan ini tidak hanya teori di dalam kelas. Para relawan juga diajarkan bagaimana membagi tim ke dalam SRU (Search and Rescue Unit) yang efektif. Dengan total sekitar 60 personel yang terkumpul, diharapkan koordinasi antar organisasi saat terjadi operasi riil di lapangan menjadi lebih solid dan “well” (mantap).

Menariknya, sempat terjadi celetukan santai di grup koordinasi relawan mengenai sulitnya mencari alat pendukung seperti protaktor di wilayah Karanganyar, yang menunjukkan betapa spesifik dan bernilainya keahlian navigasi manual ini.

Dengan adanya diklat ini, diharapkan Karanganyar memiliki cadangan relawan navigasi yang handal, sehingga respon terhadap laporan orang tersesat di gunung bisa ditangani dengan lebih cepat dan presisi. ( bre )