Korban Kecelakaan Lalulintas Di Boyolali Didiminasi Usia Produktif

Polisi olah TKP kecelakaan di barat Pasar Sambi, Boyolali pada pertengahan tahun 2021. (/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI – Jumlah korban meninggal dunia akibat lakalantas juga naik sekitar 55 persen dibandingkan tahun lalu. Secara umum jumlah kecelakaan lalulintas di Boyolali tahun ini meningkat 101 persen.
“Jadi kejadian kecelakaan lalulintas pada tahun 2021 ini meningkat dibandingkan tahun 2020. Di tahun 2020 lalu, jumlah kejadian laka lantas di Boyolali sebanyak 393 kejadian. di tahun 2021 meningkat menjadi 790 kejadian. Naik 397 kasus atau 101 persen,” kata Kapolres Boyolali, AKBP Morry Ermond dalam press rilis akhir tahun di halaman Sat Reskrim Polres Boyolali, Jumat (31/12/2021).
Kapolres menuturkan tingkat fatalitas dalam kecelakaan lalulintas ini juga meningkat. Dari 790 kasus kejadian laka lantas tahun ini jumlah korban meninggal dunia sejumlah 73 orang, luka berat (LB) 12 orang dan luka ringan (LR) 1.055 orang.
Adapun korban meninggal dunia tahun ini bertambah 26 orang atau naik 55,3 persen dibandingkan kejadian tahun 2020. Di tahun 2020 itu, dari 393 kejadian, korban meninggal dunai sebanyak 47 orang, luka berat satu orang dan luka ringan 500.
Menurut Kapolres, korban meninggal dunia dalam kecelakaan lalulintas di Boyolali rata-rata adalah masih berusia produktif. Mereka mengalami kecelakaan lalulintas saat berangkat atau pulang kerja.
“Usia dari korban yang meninggal dunia maupun yang luka berat cenderung usia produktif. Secara kumulatif, saya sampaikan rata-rata usia produktif mulai dari 16 sampai dengan 45, 46 dan ada yang 48 tahun. Itu (kecelakaan) terjadi karena memang pergerakan mobilitas masyarakat pada saat bekerja, baik berangkat bekerja maupun pulang bekerja. Rata-rata diangka usia produktif,” jelasnya.
Kapolres mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada dan hati-hati saat berkendara di jalan raya. Patuhi aturan lalulintas yang berlaku, tidak ngebut dan mematuhi rambu-rambu yang ada.