Sempat Tenggelam, Tanaman Antorium Kembali Menggeliat, Ini Pangsa Pasarnya

Kontes Antorium Soloraya di ruang pameran Terminal Mbangun Makutarama Karangpandan, Minggu (1/3). (Bre Suroto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-KARANGANYAR-Tanaman antorium di wilayah Kabupaten Karanganyar sempat booming beberapa tahun silam. Namun, booming itu tidak bertahan lama dan akhirnya tenggelam.

Meski tenggelam, pehobi antorium tidak lantas gulung tikar. Melainkan bertahan dan kini mulai menggeliat dengan pangsa pasar khusus tumbuh di kalangan petani pembibitan, broker dan kolektor.

Ketua Komunitas Antorium Soloraya, Eko Irianto mengakui pergerakan antorium seakan menurun jika dibanding beberapa tahun silam saat tanaman hias ini seharga emas. Saat ini, jemani kembali menunjukkan seninya, yakni dipegang para pelaku pasar dan petani pembibitan.

“Dulunya waktu booming, siapa saja bicara jemani (jenis tanaman antorium). Siapa saja bisa menjual dan membeli dengan harga fantastis. Mereka itu spekulan dadakan. Namun sekarang bukan berarti antorium tenggelam karena tak seramai dulu. Justru sekarang yang berada di sini adalah pemain asli dari komoditas ini,” katanya kepada wartawan di sela Kontes Antorium Soloraya di ruang pameran Terminal Mbangun Makutarama Karangpandan, Minggu (1/3).

Broker, kolektor dan petani pembibit paling paham dan serius berkecimpung di pasar tanaman antorium. Seni memilih, berjualan dan memelihara tanaman ini sukses membuatnya meraih pundi-pundi melimpah. Kontes tanaman hias merupakan cara ampuh membuka pasar tersebut. Sebab, tiga kalangan itu bisa saling bertatap muka untuk menjalin kerjasama menguntungkan. Tak sedikit yang menjajal peruntungannya dengan mengikuti kontes. Bagi pemilik tanaman berlabel juara, dipastikan mendongkrak nilai jualnya.

“Keadaan yang menyaring pelaku pasar. Saat ini yang ada hanya orang yang betul-betul paham antorium. Kami masih eksis. Bahkan tidak hanya Karanganyar. Namun juga Solo sekitarnya sampai luar provinsi. Komunitasnya ada beberapa seperti Antorium Soloraya, Kompak, Semar, Kopaja dan lainnya,” kata pria yang juga mengikutkan sejumlah tanaman hiasnya ikut di kontes tersebut.

Di kontes Antorium Soloraya, sebanyak 205 peserta mengikuti kegiatan yang dibuka secara periodik itu. Terdapat 11 kategori kelas, yakni MK Ijo Pemula, MK Ijo Prospek, MK Variasi Pemula, MK Variasi Prospek, Varian Kobra Ijo Pemula, Madya Variegata, Mix Non Jemani dan sebagainya. Tanaman antorium ini seperti jemani, gelombang cinta dan hookeri. Tiga pakar tanaman hias ditunjuk menjadi juri untuk menentukan lima pemenang di kategori madya, prospek dan pemula.

Wakil Ketua Antorium Soloraya, Akapurabin mengatakan penilaian didasari performa tanaman yang meliputi karakter dan kesehatan. Ia menyebut target kegiatan tak sekadar memunculkan pemenang, namun juga wadah silaturahmi pelaku bisnis antorium. Mereka juga mengagendakan silaturahmi nasional. Akapurabin mengatakan harga antorium ditentukan kesepakatan penjual dan pembeli. Biasanya, kedua belah pihak tahu betul standar harganya. Dirinya menunjuk sebuah tanaman berukuran madya dapat menembus Rp 10 juta-Rp 15 juta per individu. Sedangkan kategori prospek Rp 1 juta lebih.