FOKUS JATENG – SEMARANG – Aksi massa menolak pembangunan PLTPB Gunung Slamet di depan kantor bupati Banyumas, Senin malam 9 Oktober 2017 diwarnai kericuhan. Pembubaran paksa dari aparat kepolisian dilakukan secara brutal. Sehingga salah satu wartawan Metro TV, Darbe Tyas menjadi korban kekerasan fisik.
Yakni berupa pemukulan dan pengeroyokan sejumlah anggota kepolisian Polres Banyumas dan Satpol PP Pemkab Banyumas. Saat terjadi aksi pembubaran paksa massa secara brutal dan membabi buta sekitar pukul 22.00 WIB. Empat wartawan dari Suara Merdeka (Agus Wahyudi), Satelitpost (Aulia El Hakim), Radar Banyumas (Maulidin Wahyu), dan Metro TV (Darbe Tyas), langsung mengabadikan momen tersebut.
Sebelum empat wartawan ini datang ke lokasi aksi, fotografer Suara Merdeka yang mengabadikan gambar lebih awal mengalami kekerasan psikis. Yakni dengan dirampas alat kerjanya (foto). Padahal yang bersangkutan sudah memberitahukan dari media Suara
Merdeka.
Saat empat wartawan tersebut berhasil mengabadikan atau mendokumentasikan momen tersebut, sejumlah oknum polisi dan satpol PP, memaksa dan berusaha merampas alat kerjanya, seperti HP dan kamera. Bahkan, jika alat kerja tersebut tidak diserahkan dan gambar yang sudah diabaikan dihapus, telepon genggam dan kamera akan dibanting dan ada yang dirampas dibawa pergi.
Penghalangan untuk tidak boleh meliput, juga sempat dilontarkan oknum aparat kepada wartawan Radar Banyumas (Maulidin Wahyu) dan Satelitpost (Aulia El Hakim). Ketika itu saat masuk ke lingkungan kabupaten (depan Pendapa Si Panji), untuk menyaksikan dari dekat represifitas aparat kepada puluhan pengunjuk rasa yang mengalami kekerasan fisik dan diangkut memakai kendaraan Dalmas untuk diamankan.
Alat dokumentasi (handphone) kedua wartawan tersebut juga ikut diminta paksa, dan foto hasil dikomentasi dipaksa dihapus. Handphone wartawan Suara Merdeka (Agus Wahyudi) juga diminta paksa. Diancam jika tidak diberikan dan foto tidak dihapus maka handphone akan dibanting. Sehingga yang bersangkutan dipaksa dengan ditunggui sekitar
tiga polisi untuk membuka pasdword dan menghapus semua foto yang berisi tindakan kekerasan aparat ke massa.
Kejadian yang patut disesalkan dan dikutuk saat wartawan Metro TV, diinjak-injak, ditendang dan dipukul oleh sekitar 10 aparat. Saat terdorong hingga tersungkur, yang bersangkutan sudah menyampaikan adalah wartawan dan memperlihatkan ID Card-nya. Namun hal itu tetap tidak diindahkan oknum aparat yang melakukan kekerasan fisik di sudut gerbang kabupaten sebelah barat sekitar pukul 22.05 WIB hingga berlangsung sekitar 10
menit.
Kemudian, saat yang bersangkutan sudah tak berdaya, ditolong wartawan lain, Wahyu dan Dian. Jika helm yang dipakaI sampai lepas, kemungkinan besar akan mengalami kondisi yang lebih parah. Wartawan Metro TV awalnya berusaha melindungi fotografer Suara Merdeka (Dian Aprilianingrum) yang sedang terancam menjadi sasaran pengEroyokan oleh anggota Polres Banyumas dan Satpol PP.
Darbe Tyas sudah menggunakan kartu identitas pers dan mengatakan dirinya seorang wartawan. Namun justru ia ditangkap, diarak oleh sejumlah anggota polisi dan satpol PP. Setelah diarak ke arah gerbang kabupaten dari arah depan Pendapa Si Panji, langsung dianiaya.
Aksi tersebut berhenti, setelah Dian berteriak histeris. Dian berulang kali berteriak yang diarak tersebut adalah wartawan Metro TV, namun tidak diindahkan. Tindakan brutal oknum aparat tersebut, selain menyebabkan luka di sejumlah tubuh, kacamata Darbe hilang
dan kartu ID Card, ikut dirampas dan tidak dikembalikan.
Oknum aparat melakukan tindakan tersebut karena melihat posisi wartawan televisi ini paling banyak mengabadikan momen kekerasan terhadap massa aksi. Setelah kondisinya Darbe mengkhawatirkan terjadi sesuatu, sejumlah wartawan dan relawan dari masyarakat
mengantar ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi kesehatan.
Awalnya sekitar pukul 22.35 datang ke RS Elisabet di ruang IGD, untuk memeriksakan kondisi kesehatan dan visum untuk bukti tindakan kekerasan yang dialami. Namun dokter jaga dan petugas rumah sakit tersebut menolak, dengan alasan harus ada izin dari kepolisian.
Sekitar pukul 22.55 WIB, pindah ke RS Wijayakusuma, dan pihak rumah sakit bersedia melakukan pemeriksaan kesehatan dan memberikan bukti permintaan visum (bukti terlampir). Hasil pemeriksaan visum sementara tidak bisa diminta karena alasan kode etik, yang bisa mengambil adalah pihak kepolisian, demi kepentingan hukum.
Setelah diperiksa dokter, disimpulkan mengalami memar di beberapa bagian tubuh, seperti dada, punggung dan tulang rusuk sebelah kiri. Yang bersangkutan juga merasakan ada posisi tubuh bagian dalam yang luka dan rasa nyeri. Selang beberapa menit kemudian, rekan media lainnya berdatangan ke rumah sakit untuk menengok.
Dokter yang memeriksa kemudian memberi resep obat. Setelah itu, sekitar pukul 23.30 WIB keluar dari rumah tersebut menuju ke kantor perwakilan Suara Merdeka Purwokerto.
Peristiwa ini mendorong Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banyumas untuk bersikap. Para wartawan mengutuk aksi kekerasan terhadap wartawan yang sedang meliput. Meminta kepada pelaku tindak kekerasan terhadap wartawan untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
”Meminta kepada Kapolres Banyumas dan Bupati Banyumas, agar bisa mengembalikan sejumlah barang yang hilang dan menganti kerusakan yang ditimbulkan,” kata Ketua PWI Banyumas Sigit Oediarto.
