FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Awal tahun ajaran baru yang seharusnya identik dengan riuh tawa anak-anak dan derap langkah sepatu baru, justru terasa sunyi di lereng Gunung Lawu. Hari ini, suasana di SD Negeri 4 Seloromo, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, tampak lengang tanpa kehadiran wajah-wajah mungil siswa kelas satu.
Halaman sekolah yang dikelilingi udara sejuk itu sepi. Tiang bendera berdiri kokoh di tengah lapangan, namun tak ada barisan anak-anak berbaju putih-merah yang bersiap melaksanakan upacara hari pertama sekolah. Tahun ini, papan pengumuman penerimaan peserta didik baru (PPDB) bersih dari daftar nama. Sekolah ini resmi mendapatkan nol murid baru.
Bangku Kosong yang Menanti Tanpa Kepastian
Memasuki ruang kelas satu hari ini, pemandangan memilukan langsung terasa. Kursi dan meja kayu yang baru saja dibersihkan tertata rapi, namun tak berpenghuni. Hanya ada buku-buku tema baru yang menumpuk di meja guru, menanti tangan-tangan kecil yang tak kunjung datang.
Dwi Nunung Susilowati, salah seorang guru di SDN 4 Seloromo, tidak bisa menyembunyikan rasa prihatinnya. Persiapan matang yang telah dilakukan pihak sekolah selama berbulan-bulan seolah bertepuk sebelah tangan.
”Kami sudah bersiap sejak dua bulan lalu. Ruang kelas dicat ulang agar anak-anak nyaman, buku-buku baru juga sudah kami tata. Kami tetap bertahan dan berharap hingga menit-menit terakhir ada orang tua yang datang mendaftarkan anaknya. Tapi sampai hari ini, bangku-bangku ini tetap kosong,” tutur Dwi Nunung dengan tatapan mata nanar menatap ruang kelas yang sepi.
Kondisi di SDN 4 Seloromo ini sebenarnya bukan hal yang mengejutkan, melainkan sebuah kulminasi dari tren penurunan jumlah siswa yang terjadi selama beberapa tahun terakhir di wilayah tersebut.
Terjepit Demografi dan Evaluasi Dinas Pendidikan
Menanggapi fenomena ini, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar, Hendro Prayitno, menjelaskan bahwa faktor utama di balik kekosongan murid di beberapa sekolah negeri, termasuk di Jenawi, adalah masalah demografi yang dinamis dan ketatnya persaingan wilayah.
Menurut Hendro Prayitno, populasi usia anak sekolah di sekitar wilayah zonasi SDN 4 Seloromo memang mengalami penurunan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pasangan muda yang memilih pindah ke area perkotaan, menyisakan warga usia lanjut di pedesaan. Selain itu, jarak geografis dan menjamurnya sekolah alternatif juga menjadi tantangan tersendiri. Pihak dinas pun kini tengah mengkaji langkah strategis terkait masa depan sekolah-sekolah yang kekurangan siswa.
Menolak Menyerah demi Murid yang Tersisa
Meski tidak mendapatkan murid baru di kelas satu pada tahun ajaran ini, denyut nadi pendidikan di SDN 4 Seloromo menolak untuk mati. Di ruang kelas lain, proses belajar mengajar untuk siswa kelas dua hingga kelas enam tetap berjalan seperti biasa.
Bagi Dwi Nunung dan rekan-rekan guru lainnya, ketiadaan murid baru menjadi ujian loyalitas dan dedikasi. Mereka tetap datang setiap pagi dengan pakaian rapi dan senyum terbaik, memberikan ilmu dengan semangat yang sama tinggi demi segelintir anak yang masih menaruh harapan dan masa depan mereka di sekolah ini. Bagi mereka, selama masih ada satu murid yang duduk di bangku kelas, tugas mendidik tidak boleh berhenti. ( ak/ bre )
