Aksi Damai Peternak Telur di Pemkab Boyolali, Dikeluhkan Harga Ayam Maupun Telur Jatuh Serendah-Rendahnya

Plt Kepala Disnakan Boyolali Ahmad Gojali : Disnakkan membeli 1 kuintal atau 100 kg telur dari dana swadaya ASN sesuai harga acuan pemerintah, yaitu Rp24 ribu per kilogram. (yull/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng-BOYOLALI, – Anggota Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Boyolali menggelar aksi terkait anjloknya harga telur dan daging ayam yang terjadi sejak beberapa waktu terakhir di kantor Pemerintah Kabupaten Boyolali, Kamis 9 Juli 2026.

Dalam aksinya mereka membawa mobil bak terbuka di parkiran kantor dinas, dan menjual kepada pegawai pemerintahan di Pemkab Boyolali.

“Saat ini para peternak  mulai merasakan dampak yang sangat buruk. Kondisi hari-hari ini mempertemukan dua masalah utama, yaitu mahalnya harga pakan dan rendahnya harga jual telur di pasaran,” kata Ketua Pinsar Boyolali, Krishandika Immanuel Raharjo, Kamis.

Dia mengemukakan bahwa aksi damai juga menjadi bentuk protes atas tingginya harga pakan ternak yang semakin membebani peternak. Dia mencontohkan keterpurukan juga terlihat dari harga ayam afkir. Saat ini, harga ayam afkir di tingkat peternak ada yang terjual di angka Rp12.500 per kilogram, bahkan di luar wilayah kota sudah ada yang menjual seharga Rp8 ribu per kilogram.

“Kondisi saat ini harga ayam maupun telur jatuh serendah-rendahnya. Jadi ayam hidup itu sampai mencapai Rp8 ribu per kilogram. Terus telur mencapai Rp17 ribu-18 ribu per kilogram dari peternak. Sudah dua bulanan ini peternak mengalami kerugian ratusan juta hingga milyaran rupiah,” katanya.

Kendati demikian, Krishandika mengapresiasi langkah Pemkab Boyolali yang menerbitkan surat imbauan agar seluruh ASN membeli minimal 1 kilogram telur.

“Kami sangat berterima kasih, khususnya kepada Bapak Bupati Boyolali yang telah berkenan mengeluarkan surat imbauan agar seluruh ASN di Boyolali membeli minimal 1 kilogram telur,” lanjutnya.

Dia menurutnya, berdasarkan perkiraan jumlah ASN yang ada, gerakan ini berpotensi menyerap sekitar 6 sampai 7 ton telur.

Dia juga mengapresiasi Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) yang memborong telur dengan harga acuan pemerintah terbaru Rp24 ribu per kilogram.

Saat ini, harga telur di tingkat peternak masih berkisar antara Rp19 ribu hingga Rp21 ribu per kilogram, tergantung kualitas dan volume.

“Jika dibandingkan biaya produksi, harga acuan lama sebesar Rp26.500 per kilogram sebenarnya angka ideal agar peternak bisa bertahan dan untung,” jelasnya.

Menurut Krishandika, beban peternak semakin berat karena harga bahan baku pakan terus naik. Salah satunya akibat kebijakan monopoli impor BKK oleh BUMN Berdikari.

“Harga bungkil kedelai saja sudah naik Rp2 ribu per kilogram dalam setengah tahun terakhir,” katanya.

Dia juga menyoroti harga jagung. Penegakan harga acuan jagung sebesar Rp5.500 yang ditetapkan pemerintah sampai hari ini belum terealisasi.

Faktanya, saat ini para peternak harus membeli jagung dengan harga Rp6.700 hingga Rp7 ribu per kilogram.

“Kami meminta pemerintah untuk memperhatikan keseimbangan ini. Jika harga jual produk kami ditekan agar murah, mohon bantu kami juga memastikan harga bahan baku pakan bisa murah dan stabil. Jika Harga Pokok Produksi (HPP) bisa ditekan, kami pasti akan dengan senang hati mengikuti harga yang diminta pemerintah,” tegasnya.

Sementara itu, Plt Kepala Disnakkan Boyolali, Ahmad Gojali, mengatakan aksi ini menindaklanjuti surat imbauan Bupati Boyolali, Agus Irawan.

“Mereka (peternak) mengeluhkan kondisi peternakan saat ini, di mana harga jual telur sedang turun drastis. Kondisi tersebut diperparah oleh melimpahnya produksi telur yang tidak sebanding dengan harga pakan yang tinggi, serta kurangnya daya serap pasar,” ujar Gojali.

Sebagai langkah awal, Disnakkan membeli 1 kuintal atau 100 kg telur dari dana swadaya ASN sesuai harga acuan pemerintah, yaitu Rp24 ribu per kilogram. Dia berharap gerakan ini bisa membantu para peternak lokal.

Selain itu, Gojali juga berharap imbauan ini diikuti seluruh OPD. Sebagai informasi, jumlah ASN di seluruh Kabupaten Boyolali berkisar 12 ribu hingga 13 ribu orang. (yull/*”)