FOKUSJATENG.COM-SRAGEN – Dana warga Desa Kandangsapi, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, tidak bisa diambil alias macet di kantor Badan Kredit Desa Lembaga Keuangan Desa (BKD-LKD) desa setempat. Warga mengaku pusing lantaran dana yang tersimpan mencapai miliaran rupiah. Dana tersebut milik ratusan nasabah dari golongan petani tebu, perkebunan dan buruh harian.
Mereka harus gigit jari lantaran uang yang mereka tabung hilang dan macet tidak bisa diambil. Penyebab macetnya dana ini karena diduga banyaknya anggota yang memiliki pinjaman besar, namun pembayarannya macet. Salah satu warga, Ngadimin, mengatakan, dirinya nasabah sejak tahun 2007. Selama belasan tahun, pelayanan lembaga keuangan tersebut sebenarnya berjalan sangat lancar.
Dia menyetorkan uang RT, namun terdaftar atas namanya. “Iya kalau awalnya lancar. Setor, ambil, setor, ambil, begitu lancar. Setiap saat bisa, tapi setelah itu kami sudah tidak bisa mengambil uang kami yang kita tabung disitu,” kata mantan ketua RT ini Rabu 8 Juli 2026.
Macet ini muncul memasuki Januari 2024. Saat mendengar desas-desus bahwa kondisi keuangan LKD mulai goyah, Ngadimin bergegas mendatangi kantor tersebut bersama anak laki-lakinya untuk menarik dana. Sayangnya, ia justru pulang dengan tangan hampa. Pihak pengelola berdalih bahwa kas mereka kosong karena uangnya sedang berputar di tangan peminjam.
Uang yang tertahan di LKD tersebut nyatanya bukanlah uang pribadi Ngadimin, melainkan uang kolektif milik warga RT yang didepositokan atas namanya sewaktu ia masih menjabat. Berdasarkan catatan buku tabungan terakhir tahun 2024, total dana warga yang tersendat mencapai Rp19.447.000.
Ngadimin mengaku sudah mencoba melakukan penarikan hingga tiga kali, namun selalu ditolak dengan alasan tidak ada dana tunai. Ironisnya, tabungan milik organisasi Karang Taruna desa yang diketuai oleh anak Ngadimin-juga ikut menjadi korban.
“Tabungan Karang Taruna di sana juga ada, sekitar Rp6 juta. Kemarin mau diambil buat bikin acara 17-an (Hari Kemerdekaan) ya tetap tidak bisa. Alasannya uangnya tidak ada,” katanya.
Hingga saat ini, Ngadimin dan warga lainnya mengaku belum melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian maupun ke tingkat kelurahan. Mereka mengaku masih mencoba bertahan dan mencoba berprasangka baik, sembari berharap ada iktikad baik dari pengurus LKD untuk mengembalikan hak-hak mereka.
Kendati demikian, Ngadimin tidak menampik bahwa dirinya terus menanyakan nasib uang RT tersebut. “Maunya warga ya uangnya segera kembali. Karena itu kan tabungannya masyarakat. Kalau orang mau ada keperluan kan uang itu mau dipakai buat kebutuhan dulu. Sekarang pegang buku tabungannya ada, buktinya ada, tapi uangnya tidak bisa keluar,” pungkasnya penuh harap.
Kondisi di lapangan semakin diperparah dengan tutupnya pelayanan. Kantor LKD setempat kedapatan dalam kondisi terkunci rapat saat dikunjungi. Tak hanya itu, Wasito, yang menjabat sebagai Ketua LKD, bak ditelan bumi, nomor telepon selulernya tidak bisa dihubungi saat awak media mencoba meminta kejelasan permasalahan tersebut. (hr)
