Fokusjateng.com-SURAKARTA-Imam Besar Islamic Center of New York, H. Muhammad Syamsi Ali, Lc., M.A., Ph.D., menyebut perkembangan dakwah Islam di Amerika Serikat terus menunjukkan tren positif meski menghadapi berbagai tantangan, termasuk islamofobia dan sentimen politik.
Hal tersebut disampaikan Syamsi Ali saat menjadi pembicara dalam kuliah umum bertajuk “Dakwah Islam di Bumi Amerika” yang digelar Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di Masjid Hj. Sudalmiyah Rais UMS, Kamis 28 Mei 2026.
Di hadapan mahasiswa dan civitas academica UMS, Syamsi Ali membagikan pengalamannya berdakwah hampir 30 tahun di New York. Ia juga menceritakan perjalanan hidupnya sejak menempuh pendidikan di pesantren Muhammadiyah hingga akhirnya menetap di Amerika Serikat.
“Saya asli kader Muhammadiyah. Kita tidak perlu menampilkan diri dalam kepalsuan,” ujarnya disambut antusias peserta.
Pria asal Sulawesi Selatan itu mengaku pernah dikenal sebagai anak yang gemar berkelahi sebelum akhirnya dibina di Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara Makassar. Dari pesantren tersebut, ia kemudian melanjutkan studi ke Pakistan selama tujuh tahun sebelum mengajar di Arab Saudi dan berdakwah di Amerika sejak 1996.
Dalam pemaparannya, Syamsi Ali menilai Amerika Serikat memiliki sistem konstitusi yang menjamin kebebasan beragama sehingga memberi ruang luas bagi perkembangan dakwah Islam.
“Kami memiliki kebebasan penuh untuk beragama dan membawa misi agama di bumi Amerika. Konstitusi mereka menjamin itu,” katanya.
Ia juga menyinggung dampak tragedi 11 September 2001 atau 9/11 yang sempat memicu meningkatnya islamofobia di Amerika. Namun menurutnya, kondisi tersebut justru membuat banyak masyarakat Amerika tertarik mempelajari Islam lebih jauh.
“Islam berkembang unstoppable. Bisa ditantang, bisa dirintangi, tetapi tidak bisa dihentikan,” tegasnya.
Menurut Syamsi Ali, perkembangan Islam di Amerika didukung oleh sejumlah faktor, seperti ajaran Islam yang rasional, kebebasan hukum, serta sikap umat Islam yang mampu menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.
Ia mengingatkan pentingnya umat Islam menampilkan dakwah yang logis dan mudah dipahami, terutama bagi generasi muda.
“Agama kita sangat logis dan rasional. Persoalannya kadang kita sendiri menampilkan Islam dengan cara yang tidak rasional,” ungkapnya.
Selain membahas dakwah Islam di Amerika, Syamsi Ali juga menyoroti isu Palestina. Ia menegaskan pentingnya membedakan Yahudi sebagai agama dan Zionisme sebagai gerakan politik.
Menurutnya, tidak semua komunitas Yahudi mendukung tindakan Israel di Gaza. Ia mencontohkan adanya kelompok Yahudi di New York yang mendukung politisi pro-Palestina dan menyerukan keadilan bagi rakyat Palestina.
Kuliah umum tersebut ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab bersama peserta mengenai perkembangan Islam global, politik Amerika Serikat, hingga pentingnya menjaga persatuan umat Islam di tengah perbedaan pandangan. (**/*Thia)
