Fokus Jateng-BOYOLALI,- Menyemarakkan bulan Ramadhan, Pengurus Anak Ranting [PAR] NU Desa Winong Boyolali menggelar serasehan “Strategi Makmurkan Masjid”, di ruang utama, Takmir Masjid An Nuur Plosokerep, pada Senin 9 Februari 2026.
Acara yang didukung Basnaz Boyolali ini diikuti 90 orang dari pengurus takmir, pemuda, perwakilan muslimah, serta pengurus masjid di sekitarnya.
Untuk memantik semangat audiens dan mengeksplorasi pengalaman dari masjid lain, serasehan menghadirkan 2 pembicara yakni Ustadz Kusnadi Ikhwani penulis buku “Strategi Memakmurkan Masjid” serta Ustadz Lutfanudin Pakar Kemasjidan dari Masjid Agung Al Falah Sragen.
Mohtar Riadi selaku perwakilan takmir menyampaikan bahwa di era Nabi Muhammad masjid bukan hanya tempat ritual, melainkan juga berfungsi sebagai tempat pendidikan dan urusan masalah sosial.
“Jaman Nabi Muhammad masjid digunakan untuk ibadah, pertemuan umat Islam, pengembangan pendidikan, baitul mall, penyelesaian masalah sosial, menyalatkan orang meninggal, dan penginapan bagi musafir” papar Mohtar.
“Kita harus mendorong agar masjid ke depannya bisa menjadi pusat budaya dan pengembangan peradapan”, lanjutnya.
Sementara Ustadz Kusnadi menceritakan bahwa jalan memodernisasi manajemen masjid dimulai sejak tahun 2016. Banyak kendala dan tantangan misalnya ketika imam masjid akan digaji biar bisa fokus. Ada juga yang belum bisa menerima ketika masjid harus buka dan memberi pelayanan selama 24 jam tiap hari.
“Dengan keyakinan dan kita berhidmat total untuk memakmurkan baitullah, serta managemen yang terbuka akhirnya kendala bisa teratasi” jelas Ustad Kusnadi.
“Hari-hari ini Masjid Al Falah Sragen menyediakan buka puasa sebanyak 1.500 paket dari para donatur yang sedekah, menggaji puluhan staf kaum muda dan imam, dan membina 31 masjid lain. Hal ini bisa karena publik/jamaah sudah percaya pengelolaan yang amanah dan terbuka” lanjut Pengusaha Ayam Geprek ini.
Sementara Ustadz Lutfanudin berbagi kiat untuk fokus khidmat di masjid sejak tahun 2017.
“Saya fokus saja kepada masjid dengan menjadi imam dan mengajar mengaji. Ketika kita fokus urusan akhirat, urusan dunia akan mengikuti” tegas Istadz Lutfa.
Acara kemudian dilanjutkan dengan dialog yang dipandu H.M. Ismail, dengan mempersilahkan peserta untuk menanyakan segala pernik pernik dalam pengelolaan masjid. Banyak pertanyaan yang muncul, namun karena waktu terbatas, acara ini diakhiri dengan buka bersama. ( ist/**)
