Gema Tayub di Balik Bukit Jatipuro Karanganyar : Saat Tradisi Tua Bertemu Sang Pemimpin

foto : bupati karananyar rober christanto bersendau gurau dengan warga jito ngepungsari jatipuro sembari menyerap aspirasi

FOKUSKATENG.COM, KARANGANYAR – Udara malam di lereng Jatipuro biasanya hanya menyisakan sunyi, namun Senin malam (9/2/2026) kemarin, atmosfer di Dusun Jito, Desa Ngepungsari, mendadak berubah magis. Wangi kemenyan tipis beradu dengan aroma tanah basah, mengiringi denting gamelan yang memecah keheningan. Di sanalah, sebuah warisan leluhur bertajuk Paes Ageng Bersih Dusun kembali dihidupkan dengan penuh khidmat.

Namun, ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Di tengah kerumunan warga yang mengenakan pakaian adat, hadir sosok yang membuat malam itu kian bersejarah. Bupati Karanganyar, H. Rober Christanto  untuk pertama kalinya menginjakkan kaki langsung di tengah tradisi “sakral” warga Jito ini.

Bukan Sekadar Pesta, Tapi Janji Leluhur

Tradisi ini bukan sekadar hura-hura. Bagi warga setempat, Paes Ageng adalah nafas syukur atas harmoni alam dan kebersihan jiwa lingkungan. Puncaknya? Pagelaran Tayub.

Sinden mulai melantun, dan penari mulai meliuk. Gerakan gemulai penari tayub di bawah temaram lampu panggung seolah menyihir siapa saja yang hadir. Di sinilah letak uniknya: tayub bukan hanya hiburan, tapi simbol perekat kasta sosial. Rakyat dan pemimpin duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dalam lingkaran budaya yang hangat.

“Saya sangat bangga dengan semangat gotong royong yang ditunjukkan warga Dusun Jito. Semoga semangat kebersamaan ini menjadi contoh bagi desa-desa lain di Kabupaten Karanganyar,” ujar Bupati Rober dengan nada penuh apresiasi saat memberikan sambutan di tengah riuhnya suasana.

“Sejarah Baru bagi Dusun Kami”

Kehadiran orang nomor satu di Bumi Intanpari ini jelas menyulut haru. Getaran kebanggaan terpancar dari wajah-wajah warga yang selama puluhan tahun menjaga tradisi ini dalam kesunyian.

“Ini pengalaman yang sangat luar biasa bagi kami. Baru kali ini acara bersih dusun dihadiri langsung oleh Bupati. Kami merasa sangat terhormat,” ungkap salah seorang warga dengan mata berbinar.

Melalui denting saron dan langkah kaki para penari, malam itu Dusun Jito mengirimkan pesan kuat: bahwa kemajuan zaman tak akan pernah mampu melindas akar budaya selama kebersamaan masih terjaga. Tradisi ini bukan lagi sekadar warisan, tapi identitas yang akan terus abadi di tanah Karanganyar. ( rls/ bre )