Jelang Ramadhan, Warga Lereng Merapi Selenggarakan Sadranan 

Fokus Jateng-BOYOLALI,-Warga lereng Gunung Merapi-Merbabu menggelar tradisi “sadranan” hingga pertengahan Februari mendatang. Kearifan lokal ini sebagai cara mereka untuk berkomunikasi kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sesama warga masyarakat.

Seperti yang terlihat di di komplek pemakaman umum Dukuh Mlambong, Desa Sruni, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah menggelar tradisi nyadran atau sadranan. Ratusan warga di lingkungan sekitar, mereka kenduri di komplek makam untuk mendoakan para leluhur menjelang bulan Ramadan.

“Tradisi nyadran atau sadranan ini sudah berlangsung turun temurun sejak jaman dahulu, sejak nenek moyang,” kata tokoh masyarakat setempat, Jaman, di sela-sela tradisi Nyadran di makam Dukuh Mlambong, Selasa 3 Februari 2026.

Sadranan dilaksanakan di bulan Syaban atau Ruwah (dalam penanggalan Jawa). Tujuannya untuk mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia, agar diampuni dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya serta mendapat tempat terbaik disisi Allah SWT.

“Nyadran ini dilaksanakan di tanggal 15 di bulan Syaban atau Ruwah, jelang bulan Ramadhan, untuk mendoakan para leluhur kami,” jelasnya.

Tradisi ini diawali dengan bubak atau bersih-bersih makam, yang telah dilakukan sehari sebelumnya atau Senin 2 Februari 2026 pag. Para warga dari berbagai dukuh itu bergotong-royong membersihkan rumput-rumput liar di makam-makam leluhurnya masing-masing. Mereka juga membersihkan komplek makam.

Lalu, keesokan harinya dilaksanakan sadranan. Ratusan warga dari berbagai dukuh itu berbondong-bondong ke makam dengan membawa aneka kue, makanan dan lauknya yang dibawa dalam tenong atau keranjang rinjing.

Warga juga membawa bunga mawar sebagai bunga tabur untuk nyekar di makam para leluhurnya. Kenduri sadranan diiawali dengan pembacaaan surat Yasin dan dzikir tahlil untuk mendoakan para leluhur di makam cikal bakal. Dipimpin tokoh agama setempat.

Kemudian dilanjutkan doa bersama dan diakhiri dengan makan bersama. Aneka kue dan makanan yang dibawa warga dari rumah, dibuka. Warga pun bebas mengambil makanan, tak hanya yang dibawanya, tetapi juga milik warga lainnya. Acara tradisi ini pun berlangsung khidmat dan meriah.

Tradisi sadranan hari ini juga dilaksanakan warga di sejumlah wilayah di kecamatan Cepogo. Pelaksanaan sadranan ini setiap daerah pun waktunya berbeda-beda, tergantung kepercayaan warga setempat. Namun digelar sebelum bulan Ramadan. ( yull/**)