FOKUSJATENG.COM, YOGYAKARTA — Rasa takut akan tusukan jarum acap kali menjadi alasan utama masyarakat enggan melakukan tes darah secara berkala. Padahal, skrining dini sangat krusial mengingat tingginya angka kasus diabetes yang terlambat terdeteksi. Menjawab tantangan tersebut, empat mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan inovasi hangat yang memadukan dunia kedokteran dan teknologi modern: Glicovia, alat deteksi dini prediabetes non-invasif yang hanya berbasis sampel saliva (air liur).
Inovasi ini lahir dari keprihatinan atas tingginya angka diabetes di Indonesia. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas edisi ke-11, Indonesia berada di peringkat kelima dunia dengan 20,4 juta penderita diabetes pada tahun 2024. Ironisnya, sekitar 73,2% kasus belum terdiagnosis dan 29,8 juta penduduk lainnya diperkirakan berada di fase prediabetes—fase tanpa gejala yang sering kali terabaikan.
Sinergi Lintas Disiplin Karya Anak Bangsa
Glicovia merupakan hasil kolaborasi manis antara ilmu kesehatan gigi dan teknologi informasi. Tim ini diketuai oleh Alya Ramadhani bersama anggotanya Naefi Luthfia Zahra dan Emmily Martha Renaunia dari Fakultas Kedokteran Gigi, serta Hendra Kurnia Maliqi dari Program Studi Teknologi Informasi. Di bawah bimbingan Dr. drg. Indra Bramanti, M.Sc., Sp.KGA(K)., mereka membuktikan bagaimana kolaborasi antarjurusan mampu memecahkan masalah kesehatan masyarakat.
Keunggulan riset ini juga berhasil memboyong pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) 2026 yang didukung oleh Ditjen Diktiristek melalui Direktorat Belmawa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Cara Kerja Canggih di Balik Kemudahan
Meskipun penggunaannya sangat sederhana dan tanpa rasa sakit, teknologi di balik Glicovia terbilang cukup kompleks. Alat ini memanfaatkan sensor elektrokimia untuk membaca tiga biomarker penting dalam air liur: kadar glukosa, fruktosamin saliva, dan tingkat keasaman (pH).
Data dari sensor tersebut kemudian diproses menggunakan algoritma kecerdasan buatan berbasis Support Vector Machine (SVM) untuk menentukan risiko prediabetes pengguna. Terintegrasi dengan Internet of Things (IoT), hasil pemeriksaan dapat langsung dipantau secara real-time dan disimpan secara digital lewat platform khusus.
“Kami ingin menghadirkan metode skrining yang tidak hanya akurat, tetapi juga lebih nyaman bagi masyarakat,” ujar Alya Ramadhani, Ketua Tim Glicovia. “Dengan memanfaatkan saliva serta mengintegrasikan AI dan IoT, kami berharap deteksi dini prediabetes dapat dilakukan lebih luas sehingga risiko berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2 dapat ditekan sejak awal.”
Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan
Tak hanya ramah bagi pasien, Glicovia juga mengusung konsep green diagnostics. Karena tidak lagi memerlukan sampel darah konvensional, penggunaan bahan habis pakai medis—seperti jarum suntik dan strip darah—dapat dipangkas secara signifikan. Di samping itu, riwayat kesehatan berbasis digital memudahkan dokter maupun pasien dalam melacak perkembangan kondisi tubuh secara jangka panjang.
Saat ini, pengembangan Glicovia telah mengantongi ethical clearance dan memasuki tahap pembuatan prototipe serta pengujian data. Tim UGM ini menargetkan Glicovia dapat melenggang hingga ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) dan kelak dapat diproduksi secara masal untuk memperkuat fasilitas pelayanan kesehatan primer di seluruh Indonesia. ( rls/ bre )
