Oleh: Aisyah Luthfiarti, mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar UNISRI
Fokus Jateng-SRAGEN,-Dunia pendidikan dasar tidak pernah lepas dari tantangan bagaimana merangsang tumbuh kembang anak secara menyeluruh, mencakup aspek kognitif, afektif, hingga psikomotorik. Pada fase usia kelas 3 Sekolah Dasar, keterampilan motorik halus memegang peranan yang sangat krusial sebagai fondasi dasar bagi kemampuan menulis, menggambar, serta koordinasi anggota tubuh lainnya. Namun, kenyataannya di lapangan, pembelajaran seni rupa sering kali berjalan monoton dan kurang mengoptimalkan media konkret yang dekat dengan keseharian siswa.
Berangkat dari kegelisahan akademik tersebut, mahasiswa KKN Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar menghadirkan sebuah inovasi pembelajaran praktis di SD Negeri Dukuh 01, Kecamatan Tangen, Kabupaten Sragen. Melalui pemanfaatan bahan alam yang melimpah di sekitar pedesaan, kegiatan pelatihan seni mozaik berbahan dasar biji-bijian dipilih bukan sekadar untuk mengisi waktu luang, melainkan sebagai sarana strategis merangsang kreativitas sekaligus ketelitian anak sejak dini.
Urgensi Pelatihan Mozaik bagi Pertumbuhan Anak
Seni mozaik merupakan teknik menempelkan potongan material atau biji-bijian pada bidang datar menggunakan perekat untuk membentuk sebuah pola tertentu. Bagi siswa kelas 3 SD, aktivitas ini terbukti secara psikologis mampu melatih kesabaran, konsentrasi, serta ketepatan koordinasi visual dan motorik. Saat jari-jari kecil anak memungut, memilih warna, dan menata biji-bijian seperti kacang hijau, jagung, atau kedelai di atas pola kertas, terjadi stimulasi saraf motorik halus yang intensif. Hal ini secara otomatis membentuk kebiasaan kontrol otot tangan yang lebih baik untuk menunjang aktivitas akademik sehari-hari.
Strategi dan Tahapan Pelaksanaan di Lapangan
Pelaksanaan program kerja mandiri ini dirancang secara sistematis agar mudah diserap oleh anak-anak. Langkah awal dimulai dengan pembagian lembar kerja berupa sketsa gambar yang menarik. Selanjutnya, mahasiswa PGSD memberikan demonstrasi langsung bagaimana cara mengoleskan lem secara presisi agar tidak terlalu basah, serta teknik menyusun biji-bijian agar melekat sempurna sesuai garis pola.
Proses berlanjut ke tahap praktik mandiri, di mana setiap siswa dibebaskan mengekspresikan imajinasi mereka dalam memadukan warna biji alami. Pendekatan belajar sambil bermain diterapkan untuk menjaga antusiasme peserta didik agar tidak mudah merasa jenuh.
Respon dan Dampak Nyata di Sekolah
Berdasarkan pengamatan langsung selama kegiatan berlangsung di ruang kelas 3 SDN Dukuh 01, tingkat keterlibatan siswa tergolong sangat tinggi. Mereka tampak antusias berlomba-lomba merapikan karya seni masing-masing. Pihak guru kelas turut memberikan apresiasi positif karena metode ini terbukti ampuh memecahkan kebosanan belajar di dalam kelas, sekaligus menghasilkan portofolio karya seni rupa yang bernilai estetis tinggi dari bahan-bahan sederhana yang ekonomis.
Kesimpulan
Pelatihan pembuatan seni mozaik biji-bijian di SD Negeri Dukuh 01, Tangen, Sragen, telah membuktikan bahwa optimalisasi potensi lokal dapat menjadi solusi efektif dalam dunia pendidikan dasar. Melalui kolaborasi aktif mahasiswa PGSD dan pihak sekolah, kegiatan ini berhasil meningkatkan kreativitas, fokus, serta keterampilan motorik halus siswa kelas 3 secara signifikan melalui media belajar yang menyenangkan dan bermakna.
Saran dan Pesan Penutup
Sebagai rekomendasi bagi pengembangan pembelajaran ke depan, metode seni kriya berbasis bahan alam seperti ini sebaiknya diaplikasikan secara berkala oleh guru kelas sebagai bagian dari muatan lokal atau jam pengembangan diri. Diharapkan, kreativitas pendidik dalam memanfaatkan benda-benda sederhana di lingkungan sekitar dapat terus dipupuk, sehingga proses belajar mengajar di sekolah dasar dapat terus kaya akan inovasi, inspiratif, serta berdampak jangka panjang bagi tumbuh kembang peserta didik. (ist/***)
