Logo, TikTok, hingga QRIS, Mahasiswa KKN UNISRI Dampingi Bank Sampah Induk Kecik

Oleh: Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta

 1. Anissa Nur Fitrianingtiyas (Ilmu komunikasi)

2. Puspa Ayu Sriningtyas Surya Kusuma Samara Tungga (Manajemen)

3. Abraham Wicaksono (Manajemen)

Fokus Jateng-SRAGEN — Tiga mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta mendampingi pengelola Bank Sampah Induk (BSI) Kecik, Desa Kecik, Kecamatan Tanon, Sragen, memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usahanya. Pendampingan yang berlangsung pada Rabu 19 Agustus 2026 itu diarahkan untuk memperkuat identitas produk sekaligus membuka jalur promosi dan transaksi secara daring.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Puspa Ayu Sriningtyas Surya Kusuma Samara Tungga, Abraham Wicaksono, dan Anissa Nur Fitrianingtiyas. Masing-masing menjalankan program

kerja individu, namun ketiganya dirancang sebagai satu rangkaian: memperkuat tampilan produk, membangun media promosi, serta menyediakan sarana transaksi dan pemasaran digital.

Diketahui, BSI Kecik selama ini mengolah sampah menjadi produk bernilai jual, diantaranya pupuk organik

dan media tanam. Unit usaha yang dikelola Catur Sunarwan itu menjadi salah satu potensi ekonomi warga Desa Kecik. Hanya saja, produk yang dihasilkan belum memiliki identitas

visual yang seragam dan pemasarannya masih bertumpu pada jaringan pembeli dilingkungan sekitar.

Dari titik itulah pendampingan dimulai. Abraham Wicaksono menggarap program bertajuk transformasi digital UMKM melalui branding dan packaging produk. Ia membantu menyiapkan desain logo, desain kemasan produk, serta banner usaha bagi BSI Kecik. Pembenahan tampilan tersebut menjadi bekal ketika produk mulai dikenalkan ke ruang digital. Kemasan dengan logo dan informasi produk yang jelas membuat pupuk organik dan

media tanam BSI Kecik lebih mudah dikenali, baik saat dipajang langsung maupun ketika difoto untuk kebutuhan promosi daring.m

Adapun Anissa Nur Fitrianingtiyas melalui program digitalisasi bank sampah induk berbasis media sosial, ia membuat akun TikTok BSI Kecik dan menyiapkannya sebagai kanal promosi sekaligus edukasi.

“Konten yang disusun tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga merekam kegiatan bank sampah,” kata Anisa.

Dengan cara tersebut, warga bisa mengenal proses pengolahan sampah menjadi pupuk organik dan media tanam, sementara BSI Kecik memiliki ruang untuk memperluas jangkauan promosinya.

Sementara itu, Puspa Ayu Sriningtyas Surya Kusuma Samara Tungga menutup rangkaian dengan pendampingan digitalisasi UMKM melalui pemanfaatan QRIS, Google Maps, dan marketplace. Ia mendampingi pengelola menyiapkan QRIS sebagai metode pembayaran

digital, mendaftarkan titik lokasi BSI Kecik di Google Maps, serta membuat toko Shopee lengkap dengan foto dan katalog produk.

Pendampingan tidak berhenti pada pembuatan akun. Pengelola juga dikenalkan pada cara dasar mengoperasikan marketplace, mulai dari mengunggah produk hingga mengelola pesanan, agar kanal yang sudah dibuat dapat terus dijalankan secara mandiri.

Dari seluruh rangkaian kegiatan, BSI Kecik kini memiliki logo, desain kemasan, dan banner usaha; akun TikTok sebagai media promosi dan edukasi; serta QRIS, titik lokasi di Google Maps, dan toko Shopee sebagai sarana transaksi dan pemasaran.

Manfaatnya akan dirasakan bertahap. Produk memiliki identitas visual yang lebih jelas, pembeli lebih mudah menemukan lokasi usaha melalui peta digital, dan tersedia alternatif

pembayaran nontunai bagi pelanggan. Pemasaran pun tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penjualan langsung karena produk sudah dapat diakses melalui marketplace.

Ketiga mahasiswa berharap perangkat digital yang sudah tersedia dapat terus dimanfaatkan pengelola setelah masa KKN berakhir. Dengan identitas produk yang tertata, media promosi

yang aktif, serta kanal transaksi dan pemasaran yang siap digunakan, BSI Kecik diharapkan mampu mengembangkan pemasaran pupuk organik dan media tanam secara berkelanjutan. (ist/***)