Bleketepe dan Adang Sepisan, Doa Mangkunegaran untuk Dhaup Ageng

Pimpinan Mangkunegaran, Mangkoenagoro X bersama G.K.P. Mangkoenagoro IX melaksanakan tradisi Adang Sepisan dalam rangkaian upacara Dalem Dhaup Ageng G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dengan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian, 4 November 2026. (Istimewa/*Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng, SURAKARTA–Anyaman daun kelapa terpasang di Bangsal Tosan Pura Mangkunegaran, Rabu, 4 November 2026. Di tempat yang sama, tanaman dan hasil bumi yang disusun dalam Tuwuhan menyertai doa bagi kehidupan baru kedua calon temanten. Sementara itu, di Pawon Ageng, beras mulai dituang ke dalam dandang pusaka untuk menandai kesiapan keluarga menyambut para tamu.

Tiga prosesi adat tersebut menjadi bagian dari rangkaian Hajad Dalem Dhaup Ageng G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dengan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian.

Pemasangan Bleketepe, pembukaan Singup Tuwuhan, dan Adang Sepisan dilaksanakan secara berurutan pada pagi hari. Prosesi diikuti S.I.J. K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X, G.K.P. Mangkoenagoro IX, dan sederek dalem.

Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti, mengatakan ketiga prosesi tersebut merupakan bagian dari tradisi yang mengiringi persiapan pernikahan di lingkungan Mangkunegaran.

“Tiga prosesi dilaksanakan secara berurutan pagi ini, yaitu pemasangan Bleketepe, pembukaan Tuwuhan, dan Adang Sepisan,” ujarnya.

Bleketepe berupa anyaman daun kelapa yang dipasang di bagian depan sebagai penanda dimulainya hajatan. Setelah pembacaan ujub dan doa, Mangkunegara X menyerahkan Bleketepe secara simbolis kepada abdi dalem untuk dipasang di Bangsal Tosan.

Tradisi ini juga mengandung harapan agar seluruh rangkaian hajatan berjalan lancar dan keluarga terlindungi.

Setelah pemasangan Bleketepe, Mangkunegara IX membuka Singup Tuwuhan. Susunan tanaman dan hasil bumi yang menjadi bagian dari Tuwuhan membawa doa bagi kesuburan, pertumbuhan, dan kehidupan baru yang baik bagi kedua calon temanten.

Bagi Mangkunegaran, kedua prosesi tersebut bukan sekadar persiapan tempat untuk menyelenggarakan pernikahan. Bleketepe dan Tuwuhan menjadi simbol doa keluarga yang mengiringi Gusti Sura dan Kanjeng Dimas memasuki kehidupan rumah tangga.

 

 

Dari Pawon Ageng, keluarga bersiap menjamu tamu

 

Rangkaian adat berlanjut ke Jayengan atau Pawon Ageng. Di tempat ini, Mangkunegara X dan Mangkunegara IX melaksanakan Adang Sepisan dengan dipandu R.Ay.T. Anna Hoedoko.

Keduanya menuangkan beras ke dalam dandang sebagai bagian dari tata cara menanak nasi untuk pertama kalinya dalam rangkaian hajatan.

Adang Sepisan menggunakan dua piranti masak pusaka Mangkunegaran, yakni Nyai Dandang dan Nyai Sumyang. Kedua peralatan tersebut secara khusus digunakan dalam rangkaian Dhaup Ageng.

Penggunaan piranti masak pusaka itu menjadi penghubung antara hajatan keluarga yang berlangsung saat ini dan tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Dalam Dhaup Ageng yang kembali diselenggarakan Mangkunegaran setelah 18 tahun, Adang Sepisan juga memiliki makna sebagai penanda kesiapan keluarga menerima para tamu.

“Ini menjadi perlambang bahwa kami siap menerima tamu dan menyelenggarakan Dhaup Ageng,” kata Ayu.

Bagi keluarga Mangkunegaran, kesiapan menyambut pernikahan tidak hanya berkaitan dengan tempat dan rangkaian upacara. Kegiatan memasak untuk pertama kalinya dalam hajatan juga menjadi bagian dari persiapan menjamu dan berbagi dengan para tamu.

Rangkaian pada Rabu sore berlanjut dengan Nyantri, yakni penerimaan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian beserta keluarga oleh keluarga calon temanten putri.

Tahapan ini menjadi bagian dari pertemuan dua keluarga sebelum Gusti Sura dan Kanjeng Dimas menjalani prosesi pernikahan. (Thia/**)