Fokus Jateng, SURAKARTA – Suara tembang Macapat mengalun tanpa iringan gamelan di lingkungan Keputren Pura Mangkunegaran, Selasa malam, 3 November 2026. Para nini duduk bersama, melantunkan bait demi bait tembang dalam suasana yang tenang.
Malam itu, mereka mengiringi laku Sengkeran G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura menjelang pernikahannya dengan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian.
Selama tiga malam, para nini melantunkan tembang Macapat dalam bentuk kosongan atau tanpa iringan gamelan. Bait-bait yang mereka nyanyikan menjadi bagian dari rangkaian persiapan batin calon temanten putri sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Para nini merupakan abdi dalem perempuan sepuh yang menyimpan pengetahuan tentang tembang dan tata cara Mangkunegaran. Melalui lantunan Macapat, mereka tidak hanya mengiringi prosesi, tetapi juga menyampaikan nasihat dan doa bagi Gusti Sura.
Menyiapkan Diri Menjelang Pernikahan
Sengkeran merupakan masa ketika calon temanten menepi sejenak dari kesibukan persiapan pernikahan. Tradisi ini memberikan ruang untuk menenangkan pikiran, menghayati nasihat keluarga, dan mempersiapkan diri memasuki kehidupan baru bersama pasangan.
Rangkaian Sengkeran Gusti Sura diawali dengan prosesi sungkeman. Di hadapan para sesepuh keluarga, ia menyampaikan bakti dan memohon restu kepada ibundanya.
Dalam suasana tersebut, persiapan pernikahan tidak hanya berkaitan dengan tata upacara. Ada pula hubungan antara anak dan orang tua, restu keluarga, serta kesadaran atas tanggung jawab yang akan dijalani setelah menikah.
Juru Bicara Dhaup Ageng K.P.H. Tjuk Susilo menjelaskan bahwa Sengkeran bukanlah bentuk pengasingan bagi calon temanten.
Tradisi tersebut menjadi jeda untuk berefleksi dan memantapkan komitmen sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Di tengah rangkaian pernikahan yang melibatkan banyak orang, calon temanten memperoleh waktu untuk mempersiapkan diri.
Nasihat dalam Lantunan Macapat
Selama masa Sengkeran, para nini melantunkan tembang Macapat yang berisi nasihat tentang kehidupan berumah tangga. Pesan-pesan itu mencakup pendampingan, keselarasan, ketulusan, dan harapan agar pasangan dapat menjalani kehidupan dengan baik.
Lantunan Macapat menjadi pengantar nasihat yang disampaikan secara perlahan. Bait-baitnya tidak hanya didengarkan, tetapi juga menemani Gusti Sura menjalani masa persiapan menjelang pernikahan.
Bagi para nini, melantunkan tembang dalam rangkaian Dhaup Ageng bukan sekadar menjalankan tugas sebagai abdi dalem. Mereka turut meneruskan pengetahuan yang telah dipelajari dan diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Melalui suara mereka, tradisi yang telah lama hidup di lingkungan Mangkunegaran kembali hadir dalam sebuah peristiwa keluarga.
Para Nini Menjaga Tradisi
Di balik rangkaian Dhaup Ageng, terdapat peran para abdi dalem yang menjaga agar setiap tahapan dapat dijalankan sesuai tata cara Mangkunegaran. Para nini menjadi salah satu bagian penting dalam keberlangsungan tradisi tersebut.
Pengetahuan tentang tembang dan tata cara upacara tidak hanya tersimpan dalam catatan. Pengetahuan itu terus hidup melalui orang-orang yang mempelajari, melantunkan, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Dalam Sengkeran Gusti Sura, lantunan Macapat menjadi penghubung antara tradisi yang diwariskan dan keluarga yang sedang memulai babak baru.
Di tengah persiapan pernikahan, suara para nini mengingatkan bahwa Dhaup Ageng bukan hanya tentang pertemuan dua insan. Ada pula doa, nasihat, dan pengetahuan budaya yang turut mengiringi perjalanan mereka. (*Thia/**)
