Fokus Jateng, SURAKARTA – Gelar akademik bukanlah jaminan kesuksesan seseorang. Kemampuan beradaptasi, keberanian menghadapi tantangan, integritas, serta kemauan untuk terus belajar justru menjadi bekal penting dalam menapaki dunia profesional.
Pesan tersebut disampaikan praktisi perbankan nasional, Adity Indarani, saat menjadi pembicara dalam sesi Alumni Sharing pada Wisuda Periode IX Tahun 2026 Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Di hadapan 1.399 wisudawan, Sabtu, 31 Oktober 2026, Adity mengajak para lulusan untuk tidak menjadikan gelar akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.
Alumnus Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS angkatan 2004 itu kini menjabat sebagai Vice President di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Perjalanan kariernya menjadi salah satu contoh bagaimana pendidikan, pengalaman, dan kemauan mengembangkan diri dapat membuka peluang di tingkat global.
Komitmennya dalam meningkatkan kompetensi membawanya memperoleh beasiswa perusahaan untuk melanjutkan pendidikan MBA di Warwick Business School, University of Warwick, Inggris. Ia juga mengikuti program pendidikan eksekutif di SDA Bocconi, Italia, dan University of British Columbia, Kanada. Pengalamannya semakin luas melalui program magang di lembaga keuangan global HSBC dan J.P. Morgan di Eropa.
Namun, bagi Adity, keberhasilan tidak semata-mata diukur dari jabatan maupun pencapaian profesional. Di tengah kesibukan karier, ia tetap berupaya menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dari dua anak. Ia juga aktif dalam edukasi literasi keuangan serta gerakan Srikandi BUMN yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, kelompok disabilitas, dan pendidikan.
Dalam sesi berbagi pengalaman tersebut, Adity menggarisbawahi satu pesan penting, yakni “Your degree is not your identity”. Menurut dia, gelar dan predikat akademik merupakan pencapaian yang patut disyukuri, tetapi tidak sepenuhnya menggambarkan kapasitas seseorang.
“Semasa kuliah, IPK kerap dipandang sebagai tolok ukur segalanya. Namun, di dunia profesional, penilaian kehidupan jauh lebih kompleks. Tidak ada satu angka pun yang mampu menggambarkan kemampuan seseorang dalam memimpin, bangkit dari kegagalan, mengambil keputusan sulit, maupun membangun kepercayaan,” ujarnya.
Ia mengingatkan para wisudawan agar tidak terjebak dalam rasa rendah diri ataupun terlalu cepat berpuas diri. Dunia kerja, kata dia, tidak hanya menguji kemampuan seseorang dalam menjawab persoalan akademis, tetapi juga kecakapan menyelesaikan masalah nyata yang kerap tidak memiliki jawaban pasti.
Adity juga menekankan pentingnya kemauan untuk terus belajar atau continuous learning. Para lulusan baru diminta tidak mudah cemas ketika melihat perjalanan karier orang lain yang tampak lebih cepat.
Menurut dia, setiap orang memiliki waktu dan perjalanan masing-masing. Mendapatkan pekerjaan lebih lambat, belum memperoleh promosi, atau mengalami penolakan bukan berarti seseorang kehilangan potensi.
“Jangan biarkan ketakutan membatasi langkah ketika kenyataan berjalan di luar rencana. Jangan merasa tertinggal hanya karena rekan lain lebih dahulu memperoleh pekerjaan atau promosi jabatan. Jangan pula menjadikan penolakan sebagai nilai akhir dari potensi diri,” katanya.
Selain kemampuan dan kemauan belajar, Adity mendorong para lulusan UNS untuk berani menunjukkan kapasitas diri. Mereka tidak cukup hanya bekerja keras di belakang layar, tetapi juga perlu berani menyampaikan gagasan, mengambil tanggung jawab baru, dan tampil dalam persaingan global.
“Terkadang, hambatan terbesar bukanlah kurangnya kompetensi, melainkan keraguan kita untuk menunjukkan kemampuan tersebut,” tuturnya.
Menutup sesi berbagi, Adity menyampaikan pesan “Dream big, but stay human”. Ia mengajak para wisudawan untuk berani memiliki cita-cita besar tanpa kehilangan empati dan kepedulian terhadap sesama.
Menurut dia, perjalanan setelah wisuda akan diwarnai berbagai pengalaman, mulai dari keberhasilan, kegagalan, keberanian, hingga kehilangan. Karena itu, para lulusan diharapkan tidak hanya mengejar pencapaian karier, tetapi juga mampu menjaga nilai kemanusiaan.
“Hari ini Saudara meninggalkan UNS dengan membawa gelar baru. Namun, kisah terbaik dalam hidup Saudara baru saja dimulai. Semoga kelak Saudara tidak hanya bangga atas pencapaian karier, tetapi juga merasa damai dan bangga terhadap diri sendiri sebagai manusia yang utuh,” pungkasnya. (ANur/**)
