Mahasiswa KKN Universitas Slamet Riyadi Bekali Siswa SD Kelas 6 dengan Public Speaking untuk Stop Bullying

Oleh: Shalma Dwi Hapsari

Mahasiswa Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, KKN PPM Kelompok 93 Karangasem Tanon Sragen

Fokus Jateng, SRAGEN — Kepercayaan diri berbicara di depan umum menjadi salah satu keterampilan penting yang perlu ditanamkan sejak dini. Hal tersebut turut menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNISRI melalui program pelatihan public speaking bertema Stop Bullying untuk siswa kelas 6 SD di SD Negeri 2 Karangasem, Karangasem, Tanon, Sragen, pada 6 Agustus 2026.

Program yang dilaksanakan pada periode 6 Agustus 2026 tersebut mengusung kegiatan “Percaya Diri Public Speaking Bertema Stop Bullying.” Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembentukan karakter siswa sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang ramah anak.

Potensi dan Tantangan di Lingkungan Sekolah Dasar

Sekolah dasar memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak. Di usia kelas 6, siswa mulai menghadapi transisi menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun, berdasarkan observasi mahasiswa, masih terdapat sejumlah siswa yang mengalami kesulitan berbicara di depan kelas akibat rasa takut diejek atau menjadi korban bullying.

Kondisi tersebut diperparah dengan masih adanya perilaku bullying di lingkungan sekolah, baik berupa ejekan verbal, pengucilan sosial, maupun tindakan fisik ringan. Padahal, dampak bullying dapat menghambat perkembangan kepercayaan diri dan prestasi belajar siswa.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN merancang program pelatihan public speaking yang terintegrasi dengan edukasi anti-bullying. Program ini bertujuan membekali siswa dengan keterampilan berbicara di depan umum sekaligus keberanian menolak perilaku perundungan.

Tidak Sekadar Latihan Bicara

Program pelatihan public speaking tidak berhenti pada teknik berbicara di depan kelas. Mahasiswa terlebih dahulu melakukan observasi dan pendataan terhadap tingkat kepercayaan diri siswa serta pemahaman mereka tentang bullying.

Setelah itu, dilakukan penyusunan materi pelatihan yang mencakup teknik public speaking dasar (postur, suara, kontak mata) dan kalimat asertif untuk menolak bullying. Materi kemudian disampaikan melalui metode interaktif yang disesuaikan dengan karakteristik anak SD.

Kegiatan pelatihan diikuti oleh 21 siswa kelas 6 SD Negeri 2 Karangasem. Beberapa metode yang digunakan antara lain:

1. Penyampaian materi interaktif menggunakan video animasi dan cerita bergambar tentang bullying.

2. Latihan public speaking mini, di mana setiap siswa maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri, membacakan hasil tulisan mereka, dan menyampaikan kalimat menolak bullying.

Respons Positif dari Siswa dan Guru

Respons positif ditunjukkan oleh para siswa dan guru. Mereka antusias mengikuti rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. Beberapa siswa yang awalnya sangat pemalu, kini berani maju ke depan kelas tanpa ditunjuk.

Bagi siswa, keberadaan pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam berbicara sekaligus membekali mereka dengan cara menolak bullying secara tegas dan sehat.

Public Speaking sebagai Investasi Jangka Panjang

Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman untuk menerapkan ilmu komunikasi dan broadcasting secara langsung di tengah masyarakat. Keterampilan public speaking yang selama ini banyak dipelajari secara akademis diterapkan dalam bentuk pendampingan yang sederhana namun memiliki manfaat praktis bagi siswa.

Tujuan program tersebut tidak hanya meningkatkan kemampuan berbicara siswa, tetapi juga mendorong mereka agar semakin menyadari pentingnya menghargai diri sendiri dan orang lain. Dengan kepercayaan diri yang kuat dan pemahaman tentang anti-bullying, siswa diharapkan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang di lingkungan yang positif.

Kegiatan ini juga menunjukkan bahwa pencegahan bullying di tingkat sekolah dasar tidak selalu harus dimulai dari strategi yang kompleks. Langkah sederhana seperti melatih siswa berbicara dengan percaya diri, mengajarkan kalimat asertif, dan membangun komitmen bersama dapat menjadi bagian awal dari proses menciptakan sekolah ramah anak.

Penguatan karakter secara berkelanjutan juga menjadi pekerjaan bersama. Siswa, guru, orang tua, dan generasi muda dapat berkolaborasi untuk menciptakan ekosistem sekolah yang semakin aman, nyaman, dan mendukung perkembangan anak.

Program KKN UNISRI di SD Negeri 2 Karangasem tersebut menjadi contoh bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dimulai dari kebutuhan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dari sebuah pelatihan public speaking, terdapat upaya yang lebih besar untuk membangun kepercayaan diri siswa sekaligus mencegah perilaku bullying sejak dini.

Dengan demikian, program “Percaya Diri Public Speaking” bukan sekadar melatih siswa berbicara di depan kelas, tetapi dapat menjadi langkah awal bagi anak-anak untuk lebih dikenal, lebih dipercaya, dan semakin siap menghadapi tantangan di masa depan. (ist/****)