FOKUS JATENG – PT BCA Syariah memperluas akses pembiayaan konsumer dengan menawarkan beragam produk, mulai dari kepemilikan emas, rumah, kendaraan bermotor, hingga pembiayaan multijasa untuk kebutuhan ibadah umroh dan program bayi tabung. Digitalisasi melalui aplikasi BSya menjadi salah satu strategi perseroan untuk mempermudah masyarakat mengakses layanan tersebut.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah menurunkan batas minimum pembiayaan emas dari sebelumnya 10 gram menjadi 5 gram. Kebijakan ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memiliki logam mulia melalui skema pembiayaan perbankan syariah dengan nilai awal yang lebih rendah.
Direktur BCA Syariah Pranata mengatakan minat masyarakat terhadap pembiayaan emas terus meningkat. Berdasarkan data perseroan hingga Agustus 2026, pembiayaan emas tumbuh 81,76 persen menjadi Rp598 miliar.
Menurut Pranata, emas masih menjadi salah satu pilihan investasi jangka panjang bagi masyarakat. Untuk memperluas akses nasabah, BCA Syariah tidak hanya menurunkan batas minimum pembiayaan, tetapi juga menyediakan kemudahan pengajuan secara digital.
Nasabah dapat mengajukan pembiayaan emas melalui fitur Emas iB pada aplikasi BSya. Pilihan produk logam mulia yang dapat dibiayai juga diperluas. Jika sebelumnya berfokus pada emas produksi Antam, kini nasabah dapat memilih produk dari Galeri 24 dan Hartadinata.
Digitalisasi tersebut menjadi bagian dari upaya perseroan memperluas jangkauan layanan perbankan syariah. Nasabah dapat mengakses produk pembiayaan melalui aplikasi tanpa harus bergantung sepenuhnya pada proses layanan secara langsung.
Pembiayaan Rumah dan Kendaraan Tumbuh
Selain emas, BCA Syariah mencatat pertumbuhan pembiayaan pada sektor kepemilikan aset. Hingga Agustus 2026, pembiayaan kepemilikan rumah atau KPR meningkat 24,17 persen menjadi Rp1.784 miliar.
Pada periode yang sama, pembiayaan kendaraan bermotor tumbuh 32,59 persen menjadi Rp78 miliar. Pertumbuhan pada kedua produk tersebut menunjukkan perkembangan pembiayaan konsumer perseroan di tengah kebutuhan masyarakat terhadap kepemilikan aset jangka panjang.
KPR dan pembiayaan kendaraan menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin memperoleh rumah maupun kendaraan dengan skema pembiayaan sesuai prinsip syariah. Kejelasan akad dan ketentuan pembayaran menjadi bagian penting dalam layanan tersebut.
BCA Syariah juga menyediakan pembiayaan multijasa untuk memenuhi kebutuhan di luar kepemilikan aset. Produk ini mencakup pembiayaan perjalanan ibadah umroh serta kebutuhan kesehatan dan perencanaan keluarga, termasuk program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).
Kepala Satuan Kerja Bisnis Ritel dan Konsumer BCA Syariah Bukit Mas Siahaan menjelaskan pembiayaan umroh menjadi salah satu layanan yang ditawarkan untuk membantu nasabah merencanakan perjalanan ibadah.
Pembiayaan multijasa juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain yang memerlukan biaya relatif besar, termasuk program bayi tabung. Dengan fasilitas tersebut, nasabah memiliki alternatif pembiayaan untuk merencanakan kebutuhan keluarga tanpa harus mengandalkan seluruh dana sekaligus.
Meski menawarkan berbagai kemudahan, penggunaan pembiayaan tetap memerlukan perencanaan yang matang. Nasabah perlu mempertimbangkan tujuan pembiayaan, ketentuan akad, besaran angsuran, dan kemampuan membayar agar kewajiban keuangan tidak mengganggu kebutuhan sehari-hari.
Aset Keuangan Syariah Capai Rp3.264 Triliun
Pengembangan produk dan layanan digital BCA Syariah berlangsung di tengah pertumbuhan industri keuangan syariah nasional. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan total aset keuangan syariah Indonesia mencapai Rp3.264 triliun per Juni 2026, tumbuh 9,82 persen secara tahunan.
Namun, pangsa pasar keuangan syariah nasional masih berada di level 11,24 persen. Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah OJK Dian Masyita menilai peningkatan akses masyarakat, daya saing, relevansi produk, dan kesesuaian dengan prinsip syariah menjadi faktor penting untuk memperluas perkembangan industri.
Tantangan tersebut mendorong pelaku industri keuangan syariah untuk mengembangkan layanan yang lebih mudah dijangkau sekaligus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Digitalisasi menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas akses, terutama bagi nasabah yang menginginkan proses layanan lebih praktis.
Melalui aplikasi BSya, BCA Syariah berupaya mengintegrasikan akses layanan perbankan dengan beragam kebutuhan pembiayaan. Produk yang ditawarkan mencakup pembiayaan emas, KPR, kendaraan bermotor, dan multijasa.
Meski demikian, kemudahan akses digital perlu diimbangi pemahaman nasabah terhadap produk yang dipilih. Sebelum mengajukan pembiayaan, masyarakat perlu menentukan tujuan penggunaan dana, mempelajari akad yang berlaku, serta menghitung kemampuan membayar berdasarkan kondisi keuangan masing-masing.
Dengan mempertimbangkan ketiga aspek tersebut, pembiayaan dapat digunakan secara lebih terukur untuk memenuhi kebutuhan saat ini maupun mendukung perencanaan keuangan jangka panjang. (*Thia/***)
