Oleh: Indrawan Wahyu Prihana, Prodi: Agroteknologi, Unisri Surakarta
Fokus Jateng- SRAGEN-Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah rumah tangga dilakukan melalui kegiatan Workshop Pemanfaatan Limbah Dapur Menjadi Pupuk Organik Cair (POC) yang dilaksanakan pada 21 Juli 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) dengan sasaran utama kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Workshop tersebut diikuti oleh sekitar 50 peserta dan menghadirkan kader PKK sebagai peserta kegiatan. Melalui kegiatan ini, peserta diperkenalkan pada cara sederhana mengolah limbah organik rumah tangga agar tidak hanya berakhir sebagai sampah, tetapi dapat dimanfaatkan kembali menjadi bahan yang berguna bagi tanaman. Pupuk organik cair dipilih karena penggunaannya relatif praktis dan nutrisi yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Selain dapat diaplikasikan dengan cara dikocorkan ke tanah maupun disemprotkan, pembuatan POC juga memanfaatkan bahan yang umumnya tersedia di lingkungan rumah tangga.
Dalam workshop dijelaskan bahwa limbah dapur merupakan salah satu jenis limbah yang hampir selalu dihasilkan setiap hari. Limbah seperti kulit pisang, kulit pepaya, cangkang telur, kulit semangka, serta sisa sayuran dan buah dapat diolah menjadi bahan baku pupuk organik cair. Sebaliknya, bahan seperti minyak, deterjen, dan tulang tidak digunakan dalam proses pembuatan POC tersebut.
Pemanfaatan limbah dapur menjadi POC juga memiliki nilai ekologis. Limbah organik yang dibiarkan menumpuk berpotensi menimbulkan bau dan menjadi sumber masalah kebersihan lingkungan. Dengan pengolahan melalui fermentasi, limbah tersebut dapat dialihkan menjadi produk yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemeliharaan tanaman.
Dalam materi workshop, peserta juga diperkenalkan dengan beberapa unsur yang terdapat dalam limbah dapur, antara lain kalium (K), nitrogen (N), dan kalsium (Ca). Kalium berperan dalam membantu memperkuat batang dan mendukung proses pembuahan, nitrogen berkaitan dengan pertumbuhan daun, sedangkan kalsium berperan dalam membantu mengurangi risiko bunga dan buah mengalami kerontokan.
Proses pembuatan POC dilakukan menggunakan peralatan sederhana berupa galon bekas, kran, alat pengaduk, botol bekas, dan gunting. Bahan yang digunakan meliputi limbah dapur, EM4, gula jawa, dan air. Limbah dapur terlebih dahulu dipotong menjadi bagian yang lebih kecil agar proses penguraian berlangsung lebih mudah. Selanjutnya bahan dimasukkan ke dalam wadah fermentasi, dicampur dengan larutan dekomposer, kemudian difermentasi selama sekitar 10–14 hari di tempat teduh.
EM4 berfungsi sebagai aktivator dalam proses fermentasi. Mikroorganisme yang terdapat di dalamnya, seperti kelompok Lactobacillus dan ragi, membantu menguraikan senyawa kompleks dari limbah dapur menjadi bentuk yang lebih sederhana. Proses tersebut sekaligus membantu menekan perkembangan mikroorganisme pembusuk.
Peserta juga diberikan pemahaman mengenai tanda-tanda POC yang berhasil. Hasil fermentasi umumnya memiliki aroma khas yang menyerupai tape atau asam manis buah, warna kuning kecokelatan hingga gelap, serta dapat muncul lapisan putih pada permukaan cairan sebagai bagian dari proses fermentasi.
Tidak berhenti pada tahap pembuatan, workshop turut menjelaskan teknik penggunaan POC pada tanaman. Untuk metode kocor, POC dapat diencerkan dengan perbandingan 1 bagian POC dan 10 bagian air, sedangkan untuk penyemprotan digunakan pengenceran 1 bagian POC dan 20 bagian air.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap pengetahuan mengenai pengolahan limbah organik dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan rumah tangga. Kegiatan tersebut juga menjadi bentuk edukasi kepada masyarakat bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni memilah limbah dapur dan mengolahnya menjadi produk yang memiliki manfaat bagi tanaman.
Workshop pemanfaatan limbah dapur menjadi POC diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan satu kali, tetapi dapat mendorong kader PKK dan masyarakat untuk membangun kebiasaan pengelolaan limbah organik yang lebih bijak, produktif, dan ramah lingkungan. (ist/***)
