Ratusan Manuskrip Kuno Ditemukan di  Cepogo Boyolali 

Fokus Jateng- BOYOLALI,- Ratusan naskah kuno ditemukan di Desa Tumang, Kecamatan Cepogo oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinas Arpus) Kabupaten Boyolali.

Naskah-naskah itu rata-rata ditulis pada abad ke-20, antara tahun 1917 hingga 1950, salah satunya Kitab Safinatun Najah yang ditulis pada tahun 1917.

Pustakawan Dinas Arpus Boyolali Anang Abdulharap mengungkapkan, pihaknya menggandeng ahli filologi untuk menentukan naskah yang didahulukan.

“Terkait kegiatan digitalisasi naskah ini, baik secara keseluruhan maupun sebagian, kami menggandeng para ahli filologi. Para filolog ini lebih memahami manuskrip mana saja yang perlu diprioritaskan untuk didigitalisasi terlebih dahulu,” katanya. Rabu 5 Agustus 2026.

Dari ratusan arsip yang tercatat, hanya sebagian kecil yang diproses pada tahap awal. Sisanya akan diagendakan pada proyek selanjutnya karena sebagian besar berupa dokumen kearsipan.

“Naskah-naskah selebihnya akan kami agendakan pada proyek selanjutnya. Selanjutnya kami akan berkoordinasi dengan pimpinan terkait kelanjutan digitalisasi maupun penelitian naskah tersebut,” ujarnya.

Dijelaskan, fisik manuskrip yang telah dikonservasi akan dikembalikan kepada pemiliknya. Kendati demikian, Dinas Arpus akan menyediakan tempat penyimpanan yang lebih layak.

“Karena sebelumnya, naskah hanya disimpan di lemari yang lembap dan rentan berisiko rusak akibat hama seperti tikus. Selain itu, agar dapat diakses luas, hasil digitalisasi juga akan didaftarkan ke Perpustakaan Nasional. Selain itu akan diunggah ke perpustakaan digital daerah Remen Maos,” paparnya.

Kepala Desa Tumang, Mawardi, naskah-naskah itu diketahui milik Cipto Raharjo, salah satu tokoh di Desa Tumang yang gemar menulis. Pihak desa kemudian berkonsultasi dengan ahli warisnya.

“Awalnya kami diundang oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Boyolali. Di sana terdapat masukan terkait pengumpulan naskah-naskah kuno. Kami laporkan dan sampaikan kepada dinas untuk ditindaklanjuti,” ujarnya.

Menurut Filolog khusus bahasa Jawa dan naskah kuno, Rendra Agusta yang ikut meneliti menyebut naskah-naskah itu rata-rata ditulis pada abad ke-20, antara tahun 1917 hingga 1950-an. Ada naskah berbahasa Jawa, Indonesia, maupun Arab.

“Untuk bahasa Jawa ada naskah bernama Roman Pedesaan yang menyerupai karya sastra. Ada juga yang berkaitan dengan perhitungan primbon,” jelasnya.

Kondisi naskah relatif baik meski ada beberapa yang berlubang. Dari ratusan arsip di rumah tua tahun 1877 milik Cipto Raharjo, sementara 7 naskah beraksara Jawa dan Pegon telah dipilih untuk didigitalisasi.

Sementara itu Filolog lin yang berfokus pada bahasa Arab, Asep Yudha Wiraraja mengatakan, tim juga menemukan naskah kitab Safinatun Najah, berisi mengenai ilmu fikih dasar, seperti wudu, tayamum, salat, hingga pengurusan jenazah.

“Saya cukup terkejut ketika menemukan naskah Safinatun Najah. Ini kitab yang tradisinya masih hidup di pondok pesantren,” katanya.

Ia menyampaikan, kitab itu asli ditulis oleh penulis pertama, Syekh Salim tahun 1855 M dan disempurnakan Syekh Nawawi Al-Bantani tahun 1875 M.

“Safinatun berarti perahu, Najah berarti keselamatan. Maknanya jika seseorang memahami dasar fikih Islam ini, ia akan selamat mengarungi kehidupan,” katanya. ( yull/*”)