Strategi Digital di Tengah Lesunya Pasar: Pedagang Hewan Kurban di Karanganyar Manfaatkan Medsos Imbas Rupiah Melemah

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) berdampak nyata pada penurunan daya beli masyarakat dalam mencari hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha di Kabupaten Karanganyar. Guna menyiasati sepinya pembeli di lapak fisik, para pedagang kini mulai memutar otak dengan merambah strategi pemasaran digital.

Fenomena lesunya pasar konvensional ini salah satunya terlihat di kawasan pinggir Jalan Solo-Tawangmangu, Desa Papahan, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Di jalur utama tersebut, lapak-lapak hewan kurban musiman tampak lebih sepi peminat dibandingkan tahun lalu.

Stok Masih Menumpuk dan Harga Terjun Bebas

Salah satu pekerja lapak di kawasan tersebut, Bandono (44), mengungkapkan penurunan omzet yang cukup signifikan. Menurutnya, antusiasme masyarakat untuk berkurban tahun ini merosot tajam.

“Tahun lalu sisa 3 ekor, tahun ini masih ada 16 ekor hewan yang belum laku di sini,” ujar Bandono saat ditemui di lapak dagangannya, Senin (25/5/2026).

Penurunan ini terjadi meski para pedagang sudah mengantisipasinya dengan mengurangi jumlah pasokan, dari 40 ekor pada tahun lalu menjadi hanya 30 ekor tahun ini. Tak hanya jumlah peminat yang berkurang, harga jual hewan kurban jenis kambing dan domba juga terpaksa dipangkas demi memikat pembeli.

  • Harga Tahun Ini: Berkisar antara Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per ekor.

  • Harga Tahun Lalu: Mampu menembus angka Rp 5 juta per ekor.

“Rata-rata banyak yang menawar saja. Ada yang jadi beli, ada yang tidak. Harga kambing turun dan daya beli masyarakat memang sedang menurun,” keluh Bandono.

Terobosan “Omah Qurban Jaya”: Hadapi Badai Ekonomi Lewat Media Sosial

Melihat situasi pasar fisik yang kurang bergairah di tengah badai melemahnya Rupiah, langkah progresif diambil oleh Omah Qurban Jaya (sebelumnya disebut Rumah Kurban Jaya), salah satu penyedia hewan kurban di Kabupaten Karanganyar.

Mereka tidak lagi sekadar mengandalkan metode konvensional dengan mendirikan lapak kandang dadakan di pinggir jalan utama agar dilihat oleh pengendara yang melintas.

Raefan Zulfa Dwitama (22), salah satu anggota Omah Qurban Jaya, menjelaskan bahwa digitalisasi pemasaran menjadi kunci bertahan di tengah lesunya ekonomi. Melalui platform seperti Facebook, Instagram, hingga TikTok, mereka berusaha menjangkau target pasar yang lebih luas.

“Kita harus bisa merambah pemasaran yang lebih luas, kita mainkan medsos,” kata Zulfa, Senin (25/5/2026).

Kolaborasi Penjualan Fisik dan Digital Mulai Berbuah Hasil

Zulfa mengakui bahwa jumlah kunjungan pembeli yang datang langsung ke lapak fisik pada H-2 Idul Adha tahun ini memang lebih rendah dari tahun lalu—di mana tahun lalu lapak fisiknya bisa menjual 15 ekor kambing, sementara tahun ini hanya 10 ekor.

Namun, berkat penetrasi lewat media sosial yang menawarkan hewan kurban berupa sapi, kambing, hingga domba, Omah Qurban Jaya berhasil mencatatkan angka penjualan yang cukup baik dari akumulasi kedua metode pemasaran tersebut.

“Dari hasil gabungan penjualan konvensional dengan pemasaran melalui media sosial, saat ini kami sudah berhasil menjual 4 ekor sapi dan 30 ekor kambing,” ungkap Zulfa.

Strategi yang diterapkan oleh Omah Qurban Jaya menjadi bukti bahwa adaptasi teknologi digital menjadi katup penyelamat bagi para pelaku usaha musiman di Kabupaten Karanganyar dalam menghadapi fluktuasi ekonomi global yang menekan pasar domestik. ( bre /gdn)