Menghidupi “Tuntunan” di Malam Sabtu Wage: Dari Suruh Karanganyar , Upaya  Sumanto Lestarikan Wayang Kulit 

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Suara keprak kayu dan denting saron memecah keheningan malam di Desa Suruh, Tasikmadu. Di sebuah kediaman yang hangat, sebuah layar putih (kelir) membentang luas. Bukan sekadar panggung hiburan, kelir itu adalah saksi bisu bagaimana nilai-nilai luhur leluhur dijaga agar tak lekang oleh waktu.

Jumat (20/2/2026) malam, Ketua DPRD Jawa Tengah, H. Sumanto, kembali menunaikan “ritual” budayanya. Setiap selapan sekali (35 hari), tepat pada malam Sabtu Wage, ia konsisten menggelar pentas wayang kulit. Bagi Sumanto, ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya menghidupi warisan budaya yang mulai terhimpit disrupsi digital.

Epos Kedaulatan di Balik Lakon “Sesaji Raja Suya”

Malam itu, lakon Sesaji Raja Suya dibawakan secara apik oleh duet dalang dari Paguyuban Dalang Karanganyar (PDK), Ki Sulardiyanto Pringgo Carito dan Ki Muhammad Ivan Rahadi.

Lakon ini membawa penonton menyelami masa keemasan Amarta, di mana Prabu Puntadewa (Yudistira) hendak menggelar upacara agung sebagai rasa syukur atas berdirinya Kerajaan Indraprasta. Namun, jalan menuju harmoni harus berhadapan dengan angkara murka Raja Jarasanda dari Magada.

Kemenangan Werkudara atas Jarasanda dalam lakon tersebut menjadi simbol kuat: bahwa kesejahteraan rakyat hanya bisa dicapai jika keserakahan ditumpas habis.

“Wayang kulit bukan hanya tontonan, tapi tuntunan hidup yang mengandung nilai-nilai filosofis mendalam tentang etika dan keadilan,” ungkap Sumanto dengan nada mantap di sela acara.

Menjaga Jati Diri di Tengah Modernisasi

Kehadiran tokoh-tokoh seni seperti Ketua KBSN Jawa Tengah, Agus Wariyanto, dan KGPH Benowo (adik mendiang PB XIII) menambah kekhidmatan acara. Bagi Sumanto, para dalang dan seniman adalah penjaga moral bangsa yang harus didukung penuh.

Ia menegaskan bahwa konsistensi menggelar wayang kulit di kediamannya adalah bukti nyata bahwa tradisi masih relevan dengan kepemimpinan masa kini. Nilai-nilai kepemimpinan yang adil dan bersih dari lakon Sesaji Raja Suya ia maknai sebagai pengingat dalam menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.

“Kami di legislatif akan terus mendukung upaya pelestarian ini, agar wayang kulit tetap menjadi identitas yang membanggakan bagi warga Karanganyar dan Jawa Tengah pada umumnya,” tandasnya.

Lebih dari Sekadar Sosialisasi

Meski acara ini juga menjadi sarana sosialisasi kebijakan melalui media tradisional, esensi budaya tetap menjadi panglima. Melalui sabetan wayang dan alunan gamelan, Sumanto ingin menunjukkan bahwa di bawah langit Jawa Tengah, budaya bukan sekadar sejarah di buku pelajaran, melainkan napas yang terus berdenyut setiap malam Sabtu Wage tiba. ( bre )