Paparan Covid-19 di Boyolali Melandai Selama Pemberlakuan PPKM Darurat

Kepala Dinkes Boyolali Ratri S. Survivalina (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Selama pemberlakuan PPKM darurat trend angka paparan Covid 19 di Boyolali melandai setidaknya dalam dua pekan terakhir. Diawal perpanjangan PPKM level IV ini, Boyolali masuk zona risiko rendah dengan skor indeks kesehatan masyarakat (IKM) 2,45. Penurunan kasus ini juga membuat bed occupancy rate (BOR) RS Rujukan Covid-19 turun diangka 64 persen.

“Penilaian IKM itu dari penilaian puncak kasus tertinggi. Karena puncak kasus tertinggi kita diangka 2.900 an lebih. Makanya kalau ada penambahan di bawah angka itu maka dianggapnya nilainya bagus. Meski kalau dilihat angka mutlaknya masih cukup besar,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali Ratri S. Survivalina, saat ditemui dikantornya, Senin (26/7/2021).

Dijelaskan pelonggaran PPKM tidak hanya menggunakan indikator IKM saja. Namun, juga indikator lain terkait level dari PPKM yakni level 1-4. Pelevelan itu didasarkan pada jumlah angka murni kasus yang terjadi di daerah tersebut. Saat ini Boyolali memang berada di zona kuning, namun, level kasusnya masih masuk level III.

“Iya, sejak dua hari terakhir Boyolali memasuki zona risiko rendah atau zona kuning. Meski demikian masyarakat hendaknya jangan sampai terlena, tetap terapkan protokol kesehatan (Prokes) dan tetap waspada. Menilik varian baru covid-19 lebih cepat penularannya,” katanya.

Selain itu, pemberlakuan PPKM darurat juga berdampak pada membuat bed occupancy rate (BOR) atau ranjang perawatan yang mulai menurun. Menurut Ratri S Lina, terhitung sejak Minggu (25/6) petang BOR di Boyolali berada diangka 64 persen.

“Sisi lain dari penurunan kasus ini, bed occupancy rate (BOR) RS Rujukan Covid-19 turun diangka 64 persen,” katanya.

Disebutkan dari kapasitas 391 tempat tidur di delapan RS rujukan covid-19 baru terisi 251 tempat tidur. Sedangkan bangsal RS yang mencapai 100 persen yakni di ICU dengan ventilator RSPA dengan 6 tempat tidur, ICU di RS Hidayah dengan 2 tempat tidur dan ICU RSUD Simo dengan 2 tempat tidur.

“Dengan dikuranginya mobilitas masyarakat bisa menurunkan angka kasus positif kemudian yang mondok (dirawat,red) di RS juga mulai berkurang. Hanya PR kami angka kematiannya masih tinggi,” pungkasnya.