UPDATE COVID-19: Ada 48 Klaster Aktif di Boyolali

Dinkes Boyolali sudah tidak lagi menggunakam swab PCR sebagai sarana tracing dan skrining. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Sejak awal Juni lalu, angka paparan covid-19 di Boyolali baik yang berdasarkan hasil swab PCR maupun pemeriksaan RDT antigen meningkat. Ditambah adanya mutasi virus delta dengan penyebaran yang cepat. Di sisi lain, sudah ada dua klaster dari Kudus yang diduga membawa virus varian baru ini. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinkes Boyolali, Ratri S. Survivalina. Selasa (6/7/2021).

Dijelaskan sampai saat ini ada 48 klaster aktif yang ada di Boyolali. Klaster aktif ini didominasi klaster keluarga dengan total kasus aktif 3.301. Pasien yang menjalani perawatan sebanyak 294 sedangkan yang menjalano isolasi mandiri sebanyak 3.007. Penambahan kasus pada pukul 14.08 (6/7) sebanyak 433. Angka kesembuhan 72,2 persen dan angka kematian 4,0 persen.

“Boyolali masih berada dizona risiko sedang dengan skor indeks kesehatan masyarakat (IKM) 2,08. Lonjakan kasus ini diduga berasal dari varian baru, karena penyebarannya sangat cepat dan masif,” katanya.

Ratri S. Survivalina menegaskan terkait penegakan diagnose Rapid Diagnostic Test (RDT) antigen Covid-19. Dimana tidak lagi mematok swab polymerase chain reaction (PCR) sebagai sarana tracing dan skrining. Kendala antrian waktu dan tempat pemeriksaan laboratorium ditengarai menjadi faktor penggantian ini. Penggantian tes pemeriksaan covid-19 dari swab test menjadi RDT antigen atau swab antigen Covid 19.

Hal tersebut sesuai surat keputusan Kepala Dinkes Boyolali nomor 443.4/0152/4.2 tahun 2021, tentang penggunaan rapid diagnostik test antigen sebagai alat pemeriksaan covid-19. Surat keputusan ini berlaku mulai awal Juni lalu.
Adapun Boyolali masuk dalam wilayah kriteria C pada penggunaan swab antigen. Penggunaan alat swab antigen sudah diberlakukan sebagai alat pemeriksaan covid-19.

“Sehingga penggunaan swab antigen berlaku untuk proses tracing atau pelacakan dan skrining pada klaster penularan covid-19,” katanya.

Dikatakan untuk daerah dengan Kriteria C, yakni daerah dengan waktu pengiriman sampel untuk pemeriksaan NAAT (nucleic acid amplification test) atau PCR lebih dari 24 jam dan waktu tunggu hasil pemeriksaan NAAT/PCR lebih dari 48 jam, maka RDT Antigen digunakan untuk pelacakan kontak, penegakan diagnosa dan skrining.

“Bila hasil pemeriksaan pertama (entry test) RDT Antigen Positif, maka yang bersangkutan langsung isolasi dengan status Terkonfirmasi Positif Covid-19. Namun, bila hasil RDT Antigen Negatif, yang bersangkutan lanjut karantina,” ujarnya.

Selanjutnya pada hari ke-3 (untuk yang bergejala) dan pada hari ke-5 (untuk yang tidak bergejala), dilakukan pemeriksaan kedua (exit test). Bila tetap negatif, maka dianggap sehat dan selesai masa karantina. Bila positif, langsung menjalani masa isolasi kasus terkonfirmasi positif COVID-19.

“Waktu tunggu swab PCR bisa sampai 10 hari. Ini cukup lama. Sehingga kami memberlakukan swab antigen sebagai alat tes untuk tracing dan skrining. Akurasi swab antigen mencapai 92 persen hampir sama dengan swab PCR,”pungkasnya.