Kemenekraf Luncurkan Santri Matic di Solo, 200 Santri Ikuti Pelatihan Digital

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya (ketiga dari kiri) hadir dalam peluncuran program Santri Melek Teknologi (Santri Matic) di Pondok Pesantren Al Muayyad, Surakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026. ( *Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng, SURAKARTA – Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) meluncurkan program Santri Melek Teknologi (Santri Matic) di Pondok Pesantren Al Muayyad, Surakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026. Kota Surakarta atau Solo menjadi lokasi pertama pelaksanaan program yang bertujuan membekali santri dengan keterampilan pembuatan konten kreatif dan pemasaran digital.

Sebanyak 200 santri dari 22 pondok pesantren di Solo Raya mengikuti pelatihan perdana tersebut. Kemenekraf menggandeng Kementerian Agama, Masyarakat Ekonomi Syariah wilayah Surakarta, dan Shopee Indonesia untuk memberikan pembekalan sekaligus membuka akses pemasaran produk pesantren melalui platform digital.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya mengatakan program tersebut merupakan upaya meningkatkan kapasitas santri agar mampu memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mengembangkan potensi usaha di lingkungan pesantren.

Menurut dia, Indonesia memiliki lebih dari 42 ribu pesantren dengan jumlah santri hampir 6,2 juta orang. Selain itu, terdapat sekitar 800 sekolah menengah kejuruan (SMK) berbasis pesantren yang menyimpan potensi untuk dikembangkan.

“Kita menyadari bahwa pemberdayaan ekonomi santri bukan semata-mata tentang membuka akses pasar, tetapi juga tentang memperkuat kapasitas, meningkatkan kompetensi, serta membangun kepercayaan diri para santri agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” ujar Teuku Riefky.

Dalam pelatihan tersebut, para santri belajar membuat konten video kreatif untuk mengemas cerita dan produk unggulan pesantren. Mereka juga mendapatkan pembekalan mengenai pemasaran digital, termasuk pemanfaatan marketplace untuk memperluas jangkauan pasar.

Produk yang berpotensi dikembangkan antara lain fesyen muslim, kerajinan, dan kuliner halal. Peserta juga diperkenalkan dengan peluang memperoleh penghasilan sebagai kreator konten, penjual, maupun afiliator.

Teuku Riefky mengatakan, kolaborasi dengan Shopee diharapkan menjadi jalur distribusi sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk pesantren.

“Di sinilah kami berkolaborasi dengan Shopee. Kita melihat ini juga bisa menjadi jalur distribusi akses pasar dari produk-produk yang dihasilkan oleh berbagai pesantren yang ada di Indonesia,” katanya.

Ia berharap pelatihan tersebut dapat memperkuat unit usaha pesantren, mengembangkan UMKM, sekaligus membuka peluang penghasilan tambahan bagi santri.

Sebagai tindak lanjut pelatihan perdana di Surakarta, Teuku Riefky mendorong pembentukan Komunitas Alumni Santri Matic Solo Raya. Komunitas tersebut diharapkan menjadi wadah bagi santri dari berbagai pesantren untuk berbagi pengetahuan, memproduksi konten positif, memasarkan produk, dan membangun kolaborasi usaha digital.

“Kami ingin dari Pondok Pesantren Al Muayyad ini lahir Komunitas Alumni Santri Matic Solo Raya, sebuah jejaring santri digital antarpesantren yang terus aktif memproduksi konten positif, memasarkan produk-produk pesantren, dan mencetak wirausaha digital mandiri,” kata Teuku Riefky.

 

Santri Didorong Jadi Kreator

Wali Kota Surakarta, Respati Ardi yang hadir dalam peluncuran tersebut menyatakan Pemerintah Kota Surakarta siap mendukung pengembangan program Santri Matic.

Menurut Respati, perkembangan teknologi digital perlu diikuti kalangan pesantren. Namun, ia mengingatkan agar santri tidak hanya menjadi penjual atau reseller produk milik pihak lain.

Santri, kata dia, juga perlu memiliki kemampuan mengembangkan ide bisnis, membangun model usaha, dan menciptakan produk sendiri.

“Fundamental bisnis model juga harus diajarkan kepada para santri. Jangan sampai santri hanya menjadi reseller produk-produk ekonomi kreatif. Santri juga harus jadi kreator ekonomi kreatif,” ujar Respati.

Ia mengatakan, Pemkot Surakarta juga tengah menggagas program Santri Next Level untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing santri. Respati berharap program pemberdayaan tersebut dapat membantu santri lebih mandiri dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Sementara itu, Deputy Director Government Relations Shopee Indonesia Balques Manisang menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurut dia, produk-produk pesantren memiliki peluang untuk dikembangkan dan dipasarkan lebih luas melalui platform digital.

Ia mencontohkan sarung sebagai salah satu produk khas pesantren yang berpotensi dikembangkan menjadi produk unggulan dengan daya tarik tersendiri.

“Mudah-mudahan ini bisa menjadi program yang berkelanjutan. Kita melihat potensi dari santri, kita kolaborasi program Santri Matic agar produknya bisa dikenal lebih luas,” kata Balques.

 

Kemenag Dorong Penguatan Keterampilan

Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengatakan pengembangan keterampilan teknis menjadi salah satu kebutuhan penting dalam pemberdayaan santri.

Menurut dia, pendidikan pesantren selama ini telah membekali santri dengan keterampilan dasar atau soft skill, seperti kejujuran, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab. Namun, bekal tersebut perlu dilengkapi keterampilan teknis agar santri mampu menghasilkan produk dan mengembangkan usaha.

“Santri itu soft skill-nya sudah kuat. Jujur, disiplin, tidak neko-neko, mandiri, bertanggung jawab. Tetapi yang belum ada di santri adalah keterampilannya. Negara penting untuk menjembatani agar santri yang soft skill-nya sudah kuat, sekarang bagaimana cara menjembatani hard skill-nya,” ujar Basnang.

Ia mengungkapkan, berdasarkan pendataan Kementerian Agama, terdapat sekitar 4.000 pesantren yang memiliki Balai Latihan Kerja (BLK). Fasilitas tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan keterampilan santri dalam berbagai bidang usaha.

Namun, sebagian BLK belum beroperasi secara optimal. Karena itu, diperlukan kerja sama lintas kementerian untuk menghidupkan kembali fasilitas tersebut agar dapat dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan.

Selain itu, terdapat sekitar 800 SMK berbasis pesantren. Keberadaan sekolah vokasi tersebut dapat menjadi sarana pengembangan keterampilan santri, mulai dari bidang fesyen, membatik, hingga pembuatan mesin.

“Kalau ada SMK di pondok pesantren, sebenarnya ada pintu, ada jalan untuk kita mengembangkan fesyen santri, membatik, mengembangkan kemampuan membuat mesin. Itu bisa nyambung dengan BLK dan SMK di bawah pondok pesantren,” katanya.

Basnang juga mengusulkan kolaborasi antara Kementerian Agama, Kemenekraf, dan Pemkot Surakarta untuk menyelenggarakan kegiatan dalam rangka Hari Santri 2027.

Salah satu kegiatan yang diusulkan adalah festival batik santri serta festival sarung dan peci di Kota Solo. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkenalkan kreativitas santri sekaligus memperkuat identitas budaya Nusantara.

Menurut Basnang, sarung dan peci merupakan bagian dari identitas Indonesia yang perlu dibanggakan dan diperkenalkan kepada generasi muda.

“Ketika kita menggunakan peci dan sarung, sebenarnya kita sedang menguatkan identitas asli Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, ia melihat peluang kerja sama pengembangan pariwisata religi. Kawasan makam tokoh agama, misalnya, dapat dilengkapi informasi biografi tokoh serta produk khas yang bisa diperkenalkan kepada para peziarah. (*Thia/***)