UNS Kembangkan APD dan Filter Udara untuk Daerah Terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan

Seremoni pelepasan tim medis UNS Surakarta yang berangkat ke daerah terdampak kebakaran hutan dan lahan berlangsung di depan Gedung dr Prakosa UNS, Selasa, 27 Oktober 2026. (*Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng, SURAKARTA–Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengembangkan alat pelindung diri (APD) dan penyaring udara portabel untuk membantu petugas yang bekerja di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kedua perangkat tersebut dirancang untuk mengurangi paparan partikel dari asap kebakaran dengan memanfaatkan teknologi modifikasi dan bahan yang relatif mudah ditemukan.

Inovasi tersebut diperkenalkan oleh tim UNS sebelum keberangkatan untuk menjalankan misi di wilayah terdampak karhutla, Selasa, 27 Oktober 2026. Pengembangan perangkat ini dipimpin oleh dosen Fakultas Kedokteran UNS sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskuler, Darmawan Ismail.

APD yang dikembangkan tim tersebut dirancang untuk melindungi mata dan saluran pernapasan dari paparan asap. Perangkat ini dilengkapi pelindung wajah atau face shield serta sistem filtrasi untuk membantu menangkap partikel yang terbawa udara.

Darmawan mengatakan sistem penyaringan memanfaatkan spons dengan struktur beranyam. Susunan tersebut dirancang untuk membuat aliran udara melewati jalur yang tidak lurus sehingga peluang partikel tertangkap diharapkan meningkat.

Tim juga menggunakan gel berbahan deterjen untuk mendukung mekanisme adhesi dan kohesi atau gaya tarik yang membantu partikel menempel pada bahan penyaring.

“Untuk melindungi mata, APD dilengkapi face shield atau pelindung wajah. Sementara itu, perlindungan saluran pernapasan didukung sistem filtrasi yang dirancang untuk membantu menangkap partikel yang terbawa udara,” kata Darmawan saat ditemui di halaman Gedung dr. Prakosa UNS, Selasa.

APD tersebut juga dilengkapi kipas komputer untuk membantu menarik udara masuk ke perangkat. Sistem ini dirancang untuk menjaga aliran udara agar pengguna lebih nyaman saat bernapas. Saluran pembuangan udara turut disiapkan untuk mendukung sirkulasi selama perangkat digunakan.

Teknologi tersebut sebelumnya dikembangkan untuk membantu menghadapi paparan partikel di lingkungan berisiko, termasuk dalam konteks penanganan Covid-19. Tim UNS kemudian mengadaptasi prinsip teknologi itu untuk mendukung kebutuhan petugas pemadam kebakaran, kepolisian, dan relawan di wilayah terdampak karhutla.

Selain APD, tim UNS memperkenalkan penyaring udara portabel yang dapat dirakit menggunakan bahan-bahan sederhana. Komponen yang digunakan antara lain botol plastik bekas, spons, kain kasa, filter pendingin udara atau AC, selang, dan masker.

Perangkat ini terdiri atas tiga bagian utama, yakni kolektor udara, saluran penghubung, dan masker. Udara dialirkan melalui bagian penyaringan sebelum diteruskan melalui selang menuju masker. Sistem katup satu arah atau one-way valve digunakan untuk membantu mengatur aliran agar udara yang diembuskan pengguna tidak kembali ke wadah penampung.

Perangkat tersebut juga dapat dimodifikasi dengan menambahkan es pada bagian tertentu untuk membantu menghasilkan udara yang lebih sejuk. Rancangannya mengutamakan penggunaan bahan yang relatif mudah diperoleh sehingga dapat disesuaikan dengan ketersediaan komponen di daerah tujuan.

Tim UNS berencana mengadakan lokakarya perakitan alat filtrasi udara portabel di wilayah terdampak. Tim akan membawa contoh perangkat, sedangkan bahan untuk perakitan disesuaikan dengan ketersediaan di lokasi.

Perakitan diperkirakan membutuhkan waktu kurang dari 30 menit apabila seluruh komponen telah tersedia. Tim menargetkan pembuatan sekitar 100 unit di setiap daerah, dengan jumlah akhir bergantung pada ketersediaan bahan.

Melalui lokakarya tersebut, masyarakat dan petugas setempat akan diperkenalkan pada cara merakit perangkat sekaligus memahami fungsi setiap komponennya. Dengan demikian, mereka diharapkan dapat membuat alat serupa secara mandiri sesuai kebutuhan dan ketersediaan bahan di lingkungan masing-masing.

Meski dirancang untuk membantu mengurangi paparan asap, efektivitas penyaringan dan tingkat perlindungan perangkat tersebut tetap perlu dipastikan melalui pengujian. Penggunaan alat ini juga tidak serta-merta menggantikan APD pernapasan yang telah memenuhi standar keselamatan untuk pekerjaan berisiko tinggi. (*Thia/***)