Menyusuri Jejak Perjuangan dan Intelektual, Pemkab Karanganyar Selamatkan Belasan Naskah Kuno Peninggalan Pengikut Pangeran Diponegoro

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Menjaga warisan leluhur agar tak lekang oleh waktu dan zaman terus digalakkan di Kabupaten Karanganyar. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Karanganyar bergerak cepat melakukan identifikasi, pendataan, hingga perekaman digital terhadap belasan naskah kuno bersejarah yang tersimpan di Dusun Sintru, Desa Doplang, Kecamatan Karangpandan, Selasa (27/10/2026).

Naskah-naskah berharga tersebut disimpan oleh Sariman Abdul Azis (62), warga setempat. Buku-buku kuno ini bukan sekadar lembaran kertas biasa, melainkan warisan leluhur dari KH Hasan Tafsir, seorang ulama besar sekaligus pengikut Pangeran Diponegoro yang menetap di Karangpandan usai Perang Jawa.

Koleksi tersebut kini dirawat oleh istri Sariman, Komariah (60), yang merupakan keturunan canggah (generasi keempat) dari KH Hasan Tafsir. Komariah menceritakan, belasan naskah itu awalnya dijaga oleh sang ayah, Ali Muhammad, yang semasa hidupnya dikenal sebagai tokoh agama setempat.

Sebelum berpulang, sang ayah sempat berpesan agar buku-buku tersebut diletakkan di masjid atau disimpan dengan baik. Mengingat kondisi fisik naskah yang sempat mengalami pelapukan akibat penyimpanan lama di lemari kayu, keluarga akhirnya mengamankannya di dalam kotak kontainer dengan bantuan sejumlah pelajar dari Solo beberapa waktu lalu.

“Ayah saya berpesan, buku itu diletakan di masjid tidak apa-apa, dan tidak boleh dibawa keluar masjid. Akhirnya saya memutuskan untuk disimpan di rumah,” ujar Komariah saat ditemui di kediamannya, Selasa (27/10/2026).

Penyelamatan Tanpa Kepemilikan Beralih

Kepala Disarpus Karanganyar, Nurhayati, menegaskan bahwa langkah penelusuran dan digitalisasi ini merupakan wujud nyata kepedulian pemerintah dalam melestarikan kekayaan budaya masa lalu.

Dalam prosesnya, tim Disarpus melakukan pemeriksaan secara teliti lembar demi lembar lantaran beberapa naskah sempat tercampur. Nurhayati memastikan bahwa proses digitalisasi ini dilakukan tanpa bermaksud mengambil atau memindahkan hak kepemilikan dari keluarga ahli waris.

“Tujuannya adalah melestarikan naskah budaya warisan leluhur kita. Secara umum tahap pertama kita digitalkan, versi digital. Jadi, kami dari perpustakaan tidak bermaksud mengambil. Tetap kita minta keridaan pemilik atau ahli waris,” ungkap Nurhayati.

Jejak Intelektual dan Spiritual Ulama Karangpandan

Sementara itu, Ketua Tim Konsultan dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) yang juga ahli filologi, Asep Yudha Wirajaya, memaparkan bahwa naskah-naskah tersebut memuat khazanah keagamaan yang sangat kaya dan mendalam.

Dari hasil penelaahan awal, naskah-naskah itu ditulis menggunakan aksara Arab dan Arab Pegon berbahasa Jawa, dengan dominasi tulisan tangan serta beberapa lembar cetakan. Isinya beragam, mulai dari ilmu kalam, syariat, pembahasan Al-Qur’an, teks talqin jenazah, hingga catatan yang berkaitan dengan tradisi keislaman dan tarekat Syattariyah.

Bahan yang digunakan pun bervariasi, mulai dari daluang (kertas tradisional dari kulit kayu) hingga kertas buatan Eropa dari abad ke-19.

“Keilmuan KH Hasan Tafsir luar biasa, beliau bukan kyai biasa, tapi sudah sampai guru spiritual,” puji Asep.

Menuju Pengakuan Nasional

Kepala Bidang Perpustakaan Disarpus Karanganyar, Heriyadi Warsito, menambahkan bahwa penelusuran di rumah Sariman ini menambah daftar panjang lokasi penyimpanan naskah kuno yang berhasil diidentifikasi oleh pihaknya. Hingga kini, tercatat sudah ada enam lokasi yang menjadi sasaran pendataan.

Selanjutnya, hasil dari identifikasi dan pendataan ini akan dievaluasi untuk diusulkan kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) agar naskah-naskah berharga tersebut mendapatkan label atau sertifikasi resmi sebagai naskah kuno nusantara.

Dengan langkah kolaboratif antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat ini, jejak langkah serta pemikiran para ulama besar di Karanganyar diharapkan tetap abadi dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi mendatang. ( gd/bre)