Mengikis ‘Enam Musuh Jiwa’, 38 Remaja Ikuti Tradisi Potong Gigi di Pura Pemacekan Karanganyar

 

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Aroma dupa semerbak menyambut kedatangan ratusan umat Hindu di Pura Pasekan Agung atau Pura Pemacekan, Karanganyar, Sabtu (29/8/2026) pagi. Di salah satu sudut bale tradisional, suasana khusyuk terasa ketika 38 remaja berbusana adat duduk rapi menunggu giliran mengikuti upacara Metatah atau potong gigi.

Upacara ini menandai babak baru dalam hidup para remaja tersebut. Bagi umat Hindu, Metatah bukan sekadar ritual rutin, melainkan simbol peralihan usia dari masa kanak-kanak menuju dewasa.

Alasan Di balik Ritual Fajar dan Tembang Ibu

Prosesi diawali sejak fajar melalui tahapan yang disebut ngekeb. Secara biologis, embun dan udara pagi diyakini membuat kondisi gigi lebih lunak, sehingga memudahkan prosesi pengasahan gigi yang dilakukan oleh Juru Sangging (tokoh adat yang memimpin ritual).

Sebelum prosesi pengasahan gigi dimulai, peserta melewati tahapan Munggah De atau Meneden, yaitu prosesi penanda akil baligh yang diiringi lantunan tembang tradisional.

Sekretaris Panitia, Mangku Yoss Ade Putra, menjelaskan bahwa tembang tersebut menggambarkan dialog hangat antara ibu dan anak.

“Melalui tembang itu, seorang ibu mengetuk hati anaknya untuk bangun menyambut hari baru. Sang anak lalu menjawab dengan hormat bahwa ia siap melangkah. Ini adalah simbol restu orang tua agar anak siap mengarungi masa dewasa,” ujar Mangku Yos di lokasi acara.

Bukan Tindakan Medis, Melainkan Simbol Mengikis Sifat Buruk

Istilah ‘potong gigi’ sering kali disalahartikan oleh masyarakat awam sebagai prosedur medis. Pihak panitia menegaskan bahwa Juru Sangging bukanlah dokter gigi dan tidak ada bagian tubuh peserta yang dilukai.

Dalam ritual ini, enam gigi bagian atas—terdiri dari dua gigi taring dan empat gigi seri—diasah secara simbolis. Proses ini melambangkan pengikisan Sad Ripu, yaitu enam sifat buruk dalam diri manusia: nafsu, keserakahan, kemarahan, kemabukan, kebingungan, dan iri hati.

“Melalui kepasrahan dalam ritual ini, Sad Ripu diharapkan berubah menjadi Sad Guna, yaitu enam kualitas kebajikan yang bisa diamalkan kepada sesama,” kata Mangku Yos.

Meski tradisi ini kini paling populer dipelihara di Bali, ritual potong gigi sebenarnya memiliki jejak sejarah panjang yang berakar dari tradisi Jawa kuno.

Seleksi Peserta dan Kedatangan Rombongan Peziarah Bali

Pelaksanaan acara ini juga memperhatikan aturan adat dan pendidikan para peserta. Dari 50 orang yang mendaftar, panitia menyaringnya menjadi 38 peserta.

Penyaringan dilakukan karena aturan adat memperhatankan kondisi tertentu, seperti larangan bagi remaja perempuan yang sedang datang bulan. Selain itu, bagi pelajar yang tidak mendapat izin dari sekolah, panitia menyarankan untuk menunda agar tidak mengganggu kewajiban belajar.

Suasana di area pura kian semarak dengan hadirnya rombongan Penganyar dari Kabupaten Buleleng, Bali. Lebih dari 110 peziarah yang datang menggunakan 10 bus besar turut memadati Pura Pemacekan untuk bersembahyang bersama.

Rangkaian acara ditutup menjelang sore. Sebanyak 38 remaja yang telah menjalani ritual Metatah kini siap melangkah ke jenjang pendewasaan dengan semangat dan kepribadian yang baru. ( bre )