FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Warga Desa Jaten dengan segala keterbatasan hanya bermodal Semangat berupaya melestatikan budaya tradisional di Kabupaten Karanganyar melalui perhelatan Festival Budaya Anak dan Remaja “Jaten Gelar Budaya Rakyat Jilid 2 (Jaladara #2)”.
Event yang digelar 8 selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu (28-30/11/2025), di Lapangan Indraprastha, Kampung Wayang Jaten, ini tak hanya memperingati Hari Wayang Nasional dan Dunia, tetapi juga menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi ke-108 Kabupaten Karanganyar.
Digagas oleh Sanggar Seni Madhangkara bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Karanganyar, Jaladara #2 menyajikan pesta seni dan edukasi budaya yang padat.
Pembukaan acara pada Jumat (28/11/2025) ditandai dengan pemukulan gong oleh Kepala Disparpora Karanganyar, Hari Purnomo. Turut hadir Camat Jaten, Juli Padmi Handayani, serta jajaran Forkopimca dan tokoh masyarakat lainnya.
Hari Purnomo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam terhadap eksistensi Kampung Wayang Jaten, yang ia sebut sebagai kawasan wisata edukasi yang patut dibanggakan.
“Kampung Wayang Jaten didedikasikan untuk seni pertunjukan tradisional, khususnya wayang. Dengan terselenggaranya Jaladara ke-2 ini, masyarakat dapat menikmati beragam kesenian tradisional, dari alunan gamelan hingga pertunjukan wayang kulit, yang merupakan warisan leluhur kita yang adiluhung,” ujar Hari Purnomo.
Apresiasi serupa juga datang dari Camat Jaten, Juli Padmi Handayani, yang mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung suksesnya acara ini.
Puncak perhatian dalam pembukaan acara ini adalah Orasi Budaya yang disampaikan oleh Ketua Sanggar Seni Madhangkara, Ki Cahyo Kuntadi. Dengan tegas, Ki Cahyo menyoroti peran sentral wayang dalam peradaban dan moralitas bangsa.
“Kebudayaan adalah napas kehidupan, dan dalam bentang peradaban, wayang hadir sebagai ensiklopedia nilai-nilai kehidupan. Wayang melampaui hiburan semata,” tegasnya.
Ki Cahyo Kuntadi mempertegas bahwa wayang adalah bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi atau bayang-bayang kehidupan serta media utama penyampai nilai-nilai budi pekerti kemanusiaan, yang penuh dengan tatanan dan tuntunan.
Selama tiga hari pelaksanaannya, Jaladara #2 diisi dengan serangkaian kegiatan menarik yang melibatkan generasi muda, antara lain:
Kirab Budaya Srawung yang menjadi pembuka meriah, Pentas Tari Karang Tumandang dari Sanggar Seni Sentono Budoyo, Pergelaran wayang kulit dengan lakon “Jawatageni” oleh dalang Ki Hazel Abirama.
Acara ini juga diisi dengan penampilan seni karawitan anak dan berbagai tari-tarian tradisional, festival teater, Uji Kelayakan Siswa Madhangkara (Pedalangan dan Karawitan), dan bazar kuliner yang turut meramaikan suasana.
Festival Jaladara #2 ini diharapkan menjadi pengingat kolektif bahwa budaya, khususnya wayang, adalah akar jati diri bangsa yang harus terus dihidupkan, dijaga, dan diwariskan kepada generasi penerus. ( bre )
