Penanganan Kasus Perahu Terbalik, Polres Boyolali Lakukan Upaya Proses Diversi

Garis polisi terpasang di perahu maut di Waduk Kedungombo Boyolali. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Dalam menangani kasus Anak Berhadapan dengan Hukum (ABH) yang menimpa Terkait tersangka Ga (13), nahkoda perahu tenggelam yang mengakibatkan sembilan orang meninggal.Tim penyidik PPA Sat Reskrim Polres Boyolali mengupayakan proses diversi.

Kapolres Boyolali, AKBP Morry Ermond melalui Kasat Reskrim AKP Edi Marudin dan Kanit PPA, Iptu Widodo, mengunkapkan penyelesaian diversi dipilih mengingat tersangka masih di bawah umur. Belum lagi untuk peradilan anak juga mensyaratkan usia mnimal 14 tahun.

“Sedangkan Ga masih berusia 13 tahun,” katanya, usai pemeriksaan tersangka di Mapolres Boyolali. Kamis (20/5/2021).

Menurut Kanit PPA, sejumlah pertanyaan telah diajukan tim penyidik kepada tersangka Ga. Saat dalam pemeriksaan, tersangka sesuai aturan didampingi petugas dari Balai Pemasyarakatan (Bapas) dan tim kuasa hukum serta orang tuanya.

“Pertanyaan yang diajukan terkait peristiwa yang terjadi pada Sabtu (15/5) tersebut,” katanya.

Adapun tersangka kedua, Kardiyo HS selaku pemilik perahu dan warung apung Gako, disebutkan masih menjalani pemeriksaan. Hingga saat ini, lanjut Kanit PPA, masih dalam proses pemerikasaan. “Sehingga kami belum bisa memberikan keterangan,”imbuhnya.

Terpisah, kuasa hukum tersangka Ga, Wawan Muslih menaku sepakat dengan tim penyidik untuk melakukan diversi.
“Kami sepakat karena itu sesuai aturan yang berlaku. Dimana diversi berarti pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana,” katanya.

Menurut Wawan, kliennya mengaku menjelaskan secara rinci kejadian itu. Diawali saat wisatawan naik ke perahu. Bahkan, Ga sempat mengingatkan agar tidak semua wisatawan naik perahu sekaligus. “Sempat diingatkan oleh nahkoda, namun penumpang nekat naik,” katanya.

Dia menambahakan, bahwa sebenarnya di dalam perahu disediakan pelampung. Jumlahnya sesuai dengan kapasitas perahu sekitar 12 orang. Hanya saja, penumpang enggan mengenakan pelampung yang sudah tersedia. “Bahkan, pelampung yang berada di perahu terinjak- injak penumpang sehingga kemudian dipindahkan ke perahu lainnya,” kata Wawan.

Terkait kemampuan Ga mengoperasikan perahu mesin, Wawan Muslih menjelaskan, bahwa kemampuan itu diperoleh secara otodidak. Sebagai anak dilingkungan waduk, maka tidak heran jika dia bisa belajar sendiri dengan melihat keseharian kegiatan di sana.

“Kegiatan sebagai nahkoda hanya dilakukan pada Sabtu- Minggu saja. Selain karena ramai pengunjung, juga dia libur sekolah. Sehingga oleh pak dhenya (Kardiyo HS) diminta untuk membantu mengantar penumpang yang akan ke warung apung milik Kardiyo HS,” ujarnya.

Disisi lain, Wawan menyatakan bakal ke sekolah tempat Ga belajar untuk menjelaskan proses hukum yang dialami Ga. “Ya karena Ga tetap memiliki hak untuk menyelesaikan pelajaran di sekolahnya. Apalagi jika nantinya benar- benar jadi diversi, dia tetap bisa melanjutkan sekolah,” pungkasnya.