FOKUSJATENG.COM, SOLO — Film dokumenter kerap dipandang sebelah mata sebagai tontonan yang berat, kaku, dan membosankan. Padahal, lewat sudut pandang yang dekat dengan keseharian, film dokumenter mampu menjadi cermin sosial, merekam realitas, hingga menumbuhkan empati masyarakat terhadap berbagai isu krusial di sekitar kita.
Semangat inilah yang terus disuarakan oleh para pegiat film independen di Solo. Muh. Amiin, salah seorang penggiat film dokumenter, menilai bahwa kehadiran festival dokumenter konsisten menjadi ruang belajar alternatif yang penting bagi publik.
“Film dokumenter punya kekuatan untuk merekam realitas secara jujur. Lewat karya-karya anak muda dan dokumenteris lokal, kita diajak melihat persoalan sosial secara lebih dekat, bukan cuma sebagai tontonan, tapi juga bahan refleksi bersama,” ungkap Amiin saat membahas pentingnya ruang apresiasi bagi sineas dokumenter.
Semangat merawat ekosistem sinema inilah yang kembali diusung oleh Perkumpulan Solo Documentary (SODOC) melalui ajang Solo Documentary (SODOC) Film Festival 2026. Menginjak penyelenggaraan ke-6, festival ini digelar selama tiga hari pada 23–25 Oktober 2026 di HOOK Omah Sinten Ngarsopuro, Jl. Diponegoro No. 34–54, Keprabon, Banjarsari, Kota Surakarta. Festival ini turut didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI dan dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah pusat dan daerah hingga Badan Perfilman Indonesia.
Usung Tema “FASE”: Nonton Film Sambil Peduli Lingkungan
Tahun ini, SODOC mengusung tema “FASE”. Tema tersebut merefleksikan perubahan dan masa peralihan dalam dinamika kehidupan. Di tengah berbagai ketidakpastian, ada proses belajar dan cara baru untuk membaca realitas agar film dokumenter tetap hidup sebagai ruang percakapan publik.
Menariknya, festival ini memadukan perayaan seni dengan aksi kemanusiaan yang nyata. Tiket masuk pemutaran film dibanderol sangat terjangkau, yakni mulai dari Rp10.000. Sebagian dari hasil penjualan tiket tersebut nantinya akan didonasikan untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang masif terjadi di Indonesia.
Uniknya Nama Program: Mengangkat Kuliner Khas Solo
Sebagai wadah yang lahir dari denyut nadi Kota Surakarta, SODOC konsisten menyelipkan kearifan lokal dalam setiap detailnya. Nama-nama program utama festival ini diambil dari ragam kuliner khas Solo:
1. Program Pemutaran (Pawon)
Sektor pemutaran film dibagi menjadi kategori kompetisi dan ekshibisi:
- Layar Liwet: Kompetisi film dokumenter khusus pelajar SMA/SMK.
- Layar Selat: Kompetisi film dokumenter tingkat mahasiswa.
- Layar Tengkleng: Ekshibisi karya masyarakat yang menyoroti isu-isu lokal Soloraya.
- Layar Brambang Asem: Ekshibisi film dokumenter bertema umum tanpa batas wilayah.
- Layar Dhayoh: Pemutaran film tamu spesial yang telah diakui di kancah nasional maupun internasional.
Dari total 64 karya yang mendaftar sejak Maret hingga Juni 2026, tim kurator telah menyaring 15 film terbaik yang siap diputar selama festival.
2. Program Non-Pemutaran (Pasemon)
Pengunjung juga disuguhkan beragam kegiatan edukatif dan pameran seni yang menarik:
- Forum Yang Paripurna (FYP): Diskusi publik membahas isu-isu hangat yang butuh perhatian bersama.
- Jagongan: Ruang creative sharing dan berbagi pengalaman teknis maupun non-teknis pembuatan film bersama para juri.
- Rame Ati: Pameran fotografi yang terhubung dengan tema besar festival.
- Kumandhang: Pementasan seni tradisi, modern, hingga kontemporer.
- Pungkas Bebungah: Malam puncak penganugerahan bagi film dokumenter terbaik.
Jadwal Kegiatan SODOC Film Festival 2026
Bagi masyarakat yang ingin datang menyaksikan karya-karya inspiratif ini, berikut adalah jadwal rangkaian acara penayangannya:
| Hari / Tanggal | Waktu |
|---|---|
| Jum’at Pon, 23 Oktober 2026 | 18.30 – 21.30 WIB |
| Sabtu Wage, 24 Oktober 2026 | 09.00 – 21.30 WIB |
| Minggu Kliwon, 25 Oktober 2026 | 09.00 – 22.15 WIB |
Melalui kolaborasi antara dokumenteris, komunitas, dan pemerintah, ajang ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya apresiasi film dokumenter yang kreatif, edukatif, serta membawa dampak sosial yang nyata bagi masyarakat luas. Informasi lengkap dan pembaruan acara dapat diakses melalui akun Instagram resmi @Solo_Documentary. ( rls/bre/thea)
