Kepala SMAN 1 Mojolaban Perkuat Integritas dan Keteladanan Guru melalui IHT

IN HOUSE TRAINING (IHT) : Peningkatan Kompetensi Guru untuk Memahami Kematangan Moral, Emosi, dan Spiritual dalam Berperilaku sesuai Kode Etik Guru. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu 21 Oktober ini diikuti seluruh guru SMAN 1 Mojolaban dengan menghadirkan Dr. Bramastia, M.Pd (baju batik) (istimewa /Fokusjateng.com)

Fokus Jateng -Sukoharjo, – SMA Negeri 1 Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo, menyelenggarakan In House Training (IHT) Peningkatan Kompetensi Guru untuk Memahami Kematangan Moral, Emosi, dan Spiritual dalam Berperilaku sesuai Kode Etik Guru. Kegiatan yang berlangsung pada Rabu 21 Oktober ini diikuti seluruh guru SMAN 1 Mojolaban dengan menghadirkan Dr. Bramastia, M.Pd., pemerhati kebijakan pendidikan sekaligus akademisi Pascasarjana FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, sebagai narasumber.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam memperkuat profesionalisme guru, tidak hanya dari aspek kompetensi pembelajaran, tetapi juga dalam membangun integritas, keteladanan, dan hubungan yang sehat serta bermartabat dengan peserta didik.

Kepala SMAN 1 Mojolaban, Bagus Bintang Sukarno, M.Pd., menegaskan bahwa profesionalisme guru tidak cukup diukur dari penguasaan materi dan kecakapan mengajar. Guru juga perlu memiliki kematangan moral, kemampuan mengelola emosi, kedalaman spiritual, serta karakter yang kuat dalam menjalankan tugas profesinya.

“Guru bukan hanya bertugas mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan keteladanan melalui sikap dan perilakunya. Karena itu, kita perlu terus mengasah skill, membangun mindset yang terbuka terhadap perubahan, menjaga attitude dan memperkuat karakter serta integritas,” tegas Bagus.

Ia mengajak seluruh guru menjadikan kegiatan IHT sebagai momentum untuk melakukan refleksi diri dan memperkuat komitmen terhadap kode etik profesi. Menurutnya, kode etik bukan sekadar aturan tertulis yang harus dipatuhi, melainkan komitmen moral yang perlu tercermin dalam setiap ucapan, sikap, keputusan, dan tindakan guru.

“Sebelum membentuk karakter peserta didik, kita harus bersedia merefleksikan dan memperbaiki diri. Kematangan moral membantu kita mengambil keputusan yang benar, kematangan emosional menuntun kita untuk bersikap bijaksana, sedangkan kematangan spiritual memperkuat nilai-nilai luhur dalam pengabdian. Inilah fondasi penting untuk menjadi guru profesional yang mampu memberikan teladan,” tambahnya.

 

Kematangan Moral, Emosi, dan Spiritual sebagai Fondasi Profesionalisme

Dalam pemaparannya, Dr. Bramastia, M.Pd., menekankan pentingnya pemahaman dan penerapan nilai-nilai etika dalam kehidupan profesional maupun sosial. Guru memiliki peran strategis sebagai figur teladan bagi peserta didik, baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Ia juga mengingatkan pentingnya memegang teguh prinsip kepemimpinan dan keteladanan pendidikan, yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Prinsip tersebut menegaskan bahwa guru harus mampu menjadi teladan, membangun semangat, sekaligus memberikan dorongan agar peserta didik berkembang secara optimal.

Lebih lanjut, Bramastia menjelaskan tiga aspek penting yang perlu diperkuat dalam diri seorang guru. Pertama, kematangan moral, yaitu kemampuan membedakan benar dan salah serta menjadikan prinsip etika sebagai dasar pengambilan keputusan. Kedua, kematangan emosional, yaitu kemampuan mengelola perasaan dan merespons berbagai situasi secara tenang, proporsional, dan bijaksana. Ketiga, kematangan spiritual, yaitu kesadaran untuk menjadikan nilai-nilai luhur dan keyakinan spiritual sebagai landasan dalam menjalankan profesi dan pengabdian.

“Ketiga aspek tersebut saling melengkapi dalam membentuk pribadi guru yang profesional, berintegritas, dan bertanggung jawab. Pemahaman terhadap kode etik perlu diwujudkan dalam perilaku nyata, terutama ketika guru menghadapi perbedaan pendapat, tekanan pekerjaan, persoalan kedisiplinan, maupun dinamika interaksi dengan peserta didik,” papar Bramastia.

 

Guru Perlu Membangun Komunikasi Efektif dan Empatik

Pada bagian akhir pemaparannya, Bramastia menyoroti pentingnya komunikasi efektif antara guru dan peserta didik. Menurutnya, komunikasi yang baik tidak hanya ditentukan oleh kejelasan pesan, tetapi juga oleh kemampuan memahami lawan bicara, mendengarkan secara aktif, dan mengelola emosi.

Guru perlu menyampaikan pesan secara jelas dan terstruktur, memperhatikan bahasa tubuh peserta didik, serta melakukan klarifikasi apabila terdapat informasi yang belum dipahami secara tepat. Sikap empatik dan kemampuan mengendalikan emosi juga menjadi bagian penting untuk mencegah kesalahpahaman dan membangun hubungan yang positif.

Melalui kegiatan IHT ini, SMAN 1 Mojolaban diharapkan semakin memperkuat budaya profesionalisme yang berlandaskan integritas, kematangan moral, pengendalian emosi, dan nilai-nilai spiritual. “Penguatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konseptual, tetapi tercermin dalam praktik pembelajaran, komunikasi sehari-hari, serta keteladanan guru di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Dengan demikian, penerapan kode etik guru tidak hanya menjadi kewajiban profesional, tetapi juga wujud tanggung jawab moral dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, bermartabat, dan mendukung perkembangan karakter peserta didik. (ist/***)