Kebakaran Gunung Lawu Karanganyar Meluas 490 Hektar, Ketua DPRD Jateng Minta Gunakan Dana Tak Terduga dan Tingkatkan Mitigasi

 

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Gunung Lawu semakin meluas hingga mencapai 490 hektare. Kobaran api yang kian mendekati sumber mata air warga memicu kekhawatiran rusaknya instalasi pipa air bersih. Menanggapi kondisi darurat ini, Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, menegaskan komitmen pemerintah daerah bersama jajaran Forkopimda dalam penanganan bencana tersebut.

Sumanto menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kabupaten Karanganyar telah berkoordinasi erat dengan TNI serta Kepolisian untuk mempercepat pemadaman dan menangani dampak kebakaran.

“Sudah dalam mitigasi. Dari Forkopimda juga sudah memberikan perhatian. Dari Pak Kapolda dan Pak Pangdam, Pemerintah Provinsi dan Kabupaten bersama-sama berupaya menyelesaikan persoalan kebakaran Gunung Lawu,” kata Sumanto usai menghadiri kegiatan di Balai Desa Ngijo, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar, Selasa (20/10/2026).

Penggunaan Dana Tak Terduga (BTT)

Untuk mendukung percepatan operasional penanganan darurat, Mantan Ketua DPRD Karanganyar tersebut mendorong dimanfaatkannya Dana Tak Terduga (BTT) yang dialokasikan di APBD Provinsi maupun Kabupaten.

“Anggaran bisa menggunakan Dana Tak Terduga, karena kejadian ini tidak terduga. Di provinsi maupun kabupaten juga tersedia,” ujar Sumanto.

Ia berharap sinergi lintas instansi—mulai dari Pemda, aparat keamanan, hingga relawan di lapangan—dapat meminimalkan dampak lingkungan dan risiko bagi masyarakat sekitar. Selain pemadaman langsung, langkah mitigasi ketat di area rawan juga terus didorong agar api tidak semakin meluas.

Status Tanggap Darurat dan Pemadaman Udara (Water Bombing)

Meningkatnya eskalasi kebakaran mendorong Pemkab Karanganyar menetapkan status tanggap darurat. Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyampaikan bahwa operasi pemadaman kini diperkuat dengan bantuan armada udara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI.

“Bupati sudah koordinasi dengan kami. Sudah ditingkatkan menjadi tanggap bencana. Juga ada dua helikopter dari TNI yang nanti dioperasionalkan oleh BNPB,” kata Gubernur Luthfi.

Meskipun pemadaman udara melalui water bombing telah dilaksanakan dalam dua sorti penerbangan, petugas di lapangan menghadapi kendala cuaca ekstrem dan angin kencang yang menyulitkan manuver helikopter. Oleh karena itu, tim gabungan paralel melakukan pemadaman manual serta pembuatan sekat bakar (firebreak) guna menahan laju perambatan api. ( bre )