IROPIN Dorong Puskesmas di Jateng Jadi Titik Deteksi Dini Gangguan Mata

Agenda IROPIN dalam PIT ke-4 dan Munas ke-8 berlangsung di Kabupaten Sukoharjo, 25-26 September 2026. (Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng, SUKOHARJO – Ikatan Profesi Optometris Indonesia (IROPIN) mendorong penguatan layanan deteksi dini gangguan penglihatan di Jawa Tengah dengan melibatkan puskesmas. Fasilitas kesehatan tingkat pertama dinilai dapat menjadi titik awal skrining gangguan refraksi sebelum kondisi tersebut berkembang dan mengganggu aktivitas masyarakat, terutama anak-anak.

Penguatan kompetensi optometris menjadi salah satu agenda IROPIN dalam PIT ke-4 dan Munas ke-8 yang berlangsung 25-26 September 2026. Kegiatan bertajuk Marking New Milestone: The First International Skills Scientific Meeting of IROPIN itu sekaligus menjadi seminar internasional pertama yang diselenggarakan organisasi tersebut.

Ketua IROPIN periode 2026-2031, Mohammad Husein mengatakan Jawa Tengah memiliki modal yang cukup untuk mengembangkan program tersebut. Saat ini terdapat sedikitnya 900 optometris di Jawa Tengah yang dapat bersinergi dengan pemerintah daerah, dinas kesehatan, dokter mata, perawat hingga kader kesehatan.

“Kami ingin menjadi garda depan untuk kesehatan mata. Kami bekerja sama dengan Perdami untuk mencegah jangan sampai kebutaan bertambah besar,” kata Husein dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-4 sekaligus Musyawarah Nasional (Munas) ke-8 IROPIN di Grand Mercure Solo Baru, Grogol, Sukoharjo, Jumat, 25 September 2026.

Menurut Husein, skrining tajam penglihatan perlu dilakukan sedini mungkin untuk mengetahui gangguan refraksi. Pemeriksaan tersebut penting dilakukan karena gangguan penglihatan kini tidak hanya ditemukan pada kelompok usia dewasa, tetapi juga mulai banyak dijumpai pada anak.

Penggunaan gawai menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Selain faktor keturunan, kebiasaan sehari-hari dapat berpengaruh terhadap kesehatan penglihatan dan masih dapat dicegah melalui perubahan perilaku serta pemeriksaan secara berkala.

“Kalau karena kebiasaan masih bisa kita cegah. Sekarang mulai dari usia lima tahun sudah banyak yang perlu diperhatikan. Bahkan sejak bayi lahir sudah harus dilakukan pemeriksaan,” ujar Husein.

Ketua IROPIN periode sebelumnya, Nova Joko Pamungkas mengatakan gangguan refraksi pada anak perlu mendapat perhatian karena dapat mempengaruhi proses belajar. Anak yang mengalami gangguan penglihatan dapat kesulitan melihat objek pembelajaran, termasuk tulisan di papan kelas.

IROPIN mencatat hasil riset pada 2025 terhadap sekitar 2.100 siswa SD, SMP dan SMA di lima provinsi menunjukkan prevalensi kelainan refraksi sebesar 30,8 persen. Angka itu meningkat dibandingkan penelitian sebelumnya yang berada di kisaran 24,7 persen.

“Artinya tiga dari 10 anak di Indonesia terkena refraksi. Ini warning bagi kita semua untuk lebih aware terhadap gangguan penglihatan,” kata Nova.

Husein mengatakan penguatan layanan di puskesmas dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan tersebut. Konsep vision center di puskesmas didorong agar masyarakat memiliki akses lebih dekat untuk melakukan deteksi awal gangguan penglihatan.

Jawa Tengah memiliki 883 puskesmas yang berpotensi menjadi bagian dari penguatan layanan tersebut. Pemeriksaan awal dapat melibatkan optometris bersama tenaga kesehatan lain sebelum pasien membutuhkan penanganan lebih lanjut oleh dokter mata.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah Zulfachmi Wahab mengatakan pemerintah provinsi mengapresiasi peran optometris dalam memperkuat pelayanan kesehatan mata. Menurut dia, penanganan gangguan penglihatan tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan kuratif, tetapi juga perlu diperkuat dengan upaya promotif dan preventif.

“Profesi optometris adalah profesi yang melayani langsung masyarakat terkait kesehatan mata. Karena itu, sinergi dengan dokter mata dan pemerintah sangat penting,” kata Zulfachmi saat mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.

Dia mengatakan usulan penguatan peran puskesmas dalam layanan kesehatan mata akan dibicarakan lebih lanjut dengan pemerintah provinsi. “Usulan ini sangat luar biasa. Nanti akan kami fasilitasi dan kami sampaikan kepada Bapak Gubernur,” ujarnya.

Ketua Panitia PIT ke-4 dan Munas ke-8 IROPIN, Nasim Fajriyah mengatakan forum tersebut diikuti 820 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Selain menjadi ajang peningkatan kompetensi, kegiatan itu menjadi ruang untuk memperkuat kontribusi optometris dalam pencegahan gangguan penglihatan dan kebutaan.

“Ini spesial karena kita mendapatkan status baru. Ini seminar ilmiah berskala internasional pertama dari PIT,” ujar Nasim. (*Thia/**).