FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Pemandangan pedagang pasar atau pengusaha lokal yang sibuk membawa segepok uang tunai ke bank hanya untuk menyetor retribusi dan pajak daerah perlahan bakal makin langka di Kabupaten Karanganyar. Pasalnya, era pembayaran serba manual kini resmi bergeser menuju era digital yang lebih aman dan praktis.
Langkah transformatif tersebut ditandai dengan peluncuran aplikasi SIIP TENAN sekaligus penyegaran fungsi Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar dalam acara High Level Meeting (HLM) P2DD di Rumah Dinas Bupati Karanganyar, Senin (14/9/2026).
Aplikasi SIIP TENAN dihadirkan untuk mengakselerasi transaksi nontunai berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Inovasi ini menyasar berbagai kanal—mulai dari merchant, UMKM, transaksi jual beli, hingga pembayaran retribusi dan pajak daerah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Karanganyar, Kurniadi Maulato, menegaskan bahwa tren digitalisasi keuangan Pemkab Karanganyar terus menunjukkan grafik positif. Saat ini, capaian transaksi nontunai di lingkungan Pemkab telah melampaui angka 95 persen.
“Pemanfaatan digitalisasi terbukti efektif meminimalisasi potensi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD). Muara dari seluruh transparansi ini adalah menjaga raihan opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dari BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Karanganyar,” jelas Kurniadi.
Respon Positif Pengusaha: Bebas Oknum, Bayar Pajak Jadi ‘Ayam Tentrem’
Terobosan yang diinisiasi oleh Badan Keuangan Daerah (BKD) Karanganyar bekerja sama dengan Bank Jateng dan Bank Indonesia ini mendapat sambutan hangat dari kalangan pelaku usaha.
Direktur Utama PT Tiga Lalung Kahuripan Group, Rahmat Effendi, mengaku inovasi sistem pembayaran pajak digital ini sudah ditunggu para pengusaha sejak lima tahun lalu karena berhasil memangkas birokrasi yang berbelit.
“Alhamdulillah hari ini diluncurkan SIIP TENAN. Kami sebagai pengusaha sangat dimudahkan sekali. Cukup scan, tidak perlu membawa uang tunai untuk setor ke bank, sudah bisa lunas,” ujar Rahmat.
Tak sekadar praktis, Rahmat mengapresiasi keandalan sistem ini dalam menutup celah penyelewengan dana retribusi oleh oknum tidak bertanggung jawab.
“Sering kali kita melihat ada oknum-oknum yang menangkap setoran pajak tetapi tidak sampai ke negara. Jadi kita bayar rada tenang, ayam, tentrem, dan yakin setoran itu sampai ke negara serta bermanfaat,” tambahnya.
Lonjakan Transaksi QRIS dan Inovasi ‘Soundbox’ Pasar Tradisional
Adopsi pembayaran nontunai masyarakat Bumi Intanpari memang mencatatkan angka fenomenal. Data Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan transaksi QRIS di Karanganyar hingga Juli 2026 menjadi salah satu yang tertinggi di Solo Raya:
Nominal Transaksi Menembus Rp1,293 triliun (melonjak 163,9% )
Volume Transaksi Melesat hingga 14,71 juta transaksi (tumbuh 180,3% )
Ekosistem Merchant Mencapai 130.289 pedagang (tumbuh 31,8% )
Plt Kepala Unit Implementasi Kebijakan Sistem Pembayaran KPw BI Solo, Irfin Handilistawan, mengapresiasi konsistensi Pemkab Karanganyar. Untuk mendukung kenyamanan transaksi di pasar tradisional seperti Pasar Tawangmangu, kolaborasi perbankan kini juga memperkenalkan perangkat Soundbox.
“Dengan fitur konfirmasi suara transaksi secara real-time, para pedagang tidak perlu lagi mengecek ponsel secara manual untuk memastikan dana masuk. Transaksi jadi jauh lebih praktis dan aman,” tutur Irfin.
Ke depan, Pemkab Karanganyar tengah menyiapkan perluasan skema e-retribusi hingga ke sektor pelayanan kebersihan (sampah) serta seluruh pasar tradisional di wilayah Karanganyar. ( BRE)
