Pemkab Boyolali Salurkan 3,6 Juta Liter Air Bersih ke 35 Desa Terdampak Kekeringan

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Ari Wahyu Prabowo (Dok /Fokusjateng.com)

Fokus Jateng-BOYOLALI  – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali telah menyalurkan hampir 3,6 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan di berbagai wilayah. Bantuan tersebut didistribusikan ke 110 dukuh pada 35 desa dan kelurahan yang tersebar di 11 Kecamatan wilayah Boyolali, selama periode awal Juni hingga awal Agustus 2026.

Penanganan krisis air bersih dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah meningkatnya dampak kekeringan. Distribusi air dilakukan melalui ratusan titik penyaluran yang ditangani Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali.

Selain mendistribusikan air bersih sebagai langkah jangka pendek, Pemkab Boyolali juga menyiapkan strategi jangka menengah dan panjang untuk mengurangi persoalan krisis air yang terus berulang setiap musim kemarau.

“Pemkab sudah melakukan mitigasi wilayah terdampak kekeringan,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, Kamis 10 September 2026.

Hingga saat ini, Pemkab Boyolali telah mendistribusikan sekitar 3,6 juta liter air bersih. Bantuan tersebut menyasar 27.923 jiwa yang tersebar di 110 dukuh pada 35 desa di wilayah Boyolali.

Penyaluran air bersih tersebut menjadi langkah awal sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau.

“Distribusi air tidak hanya ditujukan untuk kebutuhan rumah tangga. Sejumlah fasilitas publik yang terdampak krisis air juga menjadi sasaran penyaluran, termasuk fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, dan fasilitas keagamaan,” paparnya.

Menurut Ari, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan aktivitas masyarakat dan pelayanan publik tetap dapat berjalan meski pasokan air bersih mengalami keterbatasan.

“Akan tetapi, distribusi air bersih atau droping air masih menjadi solusi sementara,” katanya.

Ia menegaskan, pemerintah perlu menyiapkan langkah jangka menengah dan panjang agar persoalan kekeringan tidak terus berulang setiap musim kemarau.

“Distribusi air bersih ini baru penanganan sementara. Tantangan kita adalah bagaimana membangun ketahanan air di wilayah-wilayah yang terdampak sehingga persoalan ini bisa diselesaikan dalam jangka menengah dan panjang,” ujarnya.

Untuk penanganan jangka menengah, Pemkab Boyolali berencana memperbanyak pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan. Hanya saja, upaya tersebut masih menghadapi kendala karena tidak semua daerah memiliki sumber air tanah yang bisa dimanfaatkan.

“Untuk memperbanyak sumur bor, kendalanya tidak semua ada sumber airnya,” imbuhnya.

Sementara untuk penanganan jangka panjang, pemerintah akan mendorong terciptanya ketahanan air di masing-masing wilayah terdampak kekeringan. Diantaranya melalui kolaborasi dengan institusi pendidikan hingga pemerhati lingkungan untuk melakukan konservasi lingkungan.

“Yang tidak kalah penting adalah penanganan jangka panjang, yakni dengan menciptakan ketahanan air di masing-masing wilayah kekeringan. Kita kolaborasi dengan institusi pendidikan dan pemerhati lingkungan untuk konservasi lingkungan,” ujarnya. (yull/***)