Fokus Jateng-SURAKARTA-Revitalisasi bangunan Generator atau Rumah Genset Prabuwinatan di Kompleks Keraton Surakarta Hadiningrat menjadi bagian awal dari upaya penataan kembali kawasan keraton. Bangunan bersejarah yang sempat rusak dan roboh akibat cuaca ekstrem sejak 2015 itu kini telah selesai dipugar dengan tetap mempertahankan material asli bangunan.
Peresmian bangunan generator Prabuwinatan yang telah selesai direvitalisasi diadakan Minggu petang, 30 Agustus 2026.

Para tamu undangan hadir dalam acara peresmian bangunan generator Prabuwinatan di kawasan Keraton Surakarta yang telah selesai direvitalisasi diadakan Minggu petang, 30 Agustus 2026. /*Thia
Sekretaris Jenderal Yayasan Kusumo Buwono, KPH Adipati Maji Noto Nagoro menjelaskan revitalisasi Generator Prabuwinatan dilakukan dengan mengedepankan prinsip kelestarian cagar budaya sesuai regulasi yang berlaku. Material asli dari bangunan lama yang roboh diselamatkan, dibersihkan, kemudian dimanfaatkan kembali.
“Atap bangunan masih utuh 100 persen dan kami gunakan kembali, sementara ubin lantai lama terpakai hingga 55 persen. Batu bata kuno keluaran 1920 ini sangat kokoh dan direkatkan kembali. Dulu, bangunan ini merupakan simbol modernisasi listrik pertama di Keraton Solo, dilengkapi lima kolam pendingin generator yang juga berfungsi sebagai antisipasi pemadam kebakaran,” katanya.
Wakil Ketua Yayasan Kusumo Buwono KPH Sahid Yasinco Kusumohadinegoro mengatakan revitalisasi tersebut tidak hanya bertujuan mengembalikan kondisi fisik bangunan, tetapi juga membawa misi untuk memperkuat kembali kebersamaan di lingkungan Keraton Surakarta.
Ia berharap keberadaan bangunan yang telah direvitalisasi dapat memberikan manfaat nyata, termasuk membuka potensi pendapatan bagi keraton. Manfaat tersebut diharapkan turut menjadi pintu masuk bagi pihak-pihak yang sebelumnya berselisih untuk kembali membangun komunikasi.
“Harapan kami, begitu hasil revitalisasi ini mulai kelihatan dan membawa manfaat nyata serta potensi pendapatan bagi Keraton, pihak-pihak yang berseteru bisa melunak dan kembali bersatu demi kebaikan bersama,” katanya.
Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Panembahan Agung Tedjowulan selaku Pelaksana Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, hadir dalam acara peresmian bangunan generator Prabuwinatan itu.
Tedjowulan mengatakan revitalisasi tersebut mengawali rencana penataan Keraton Surakarta yang telah dicanangkan sejak beberapa tahun lalu. Menurut dia, rencana revitalisasi sebelumnya telah dibicarakan bersama PB XIII, tetapi belum dapat direalisasikan karena berbagai pertimbangan dan hambatan.
“Sebetulnya rencana revitalisasi keraton sudah saya pikirkan bersama dengan PB XIII, namun waktu itu dengan berbagai pertimbangan dan hambatan sehingga belum dapat terlaksana,” katanya dalam sambutannya di acara peresmian itu.
Tedjowulan mengapresiasi pihak-pihak yang telah mengambil langkah untuk merevitalisasi bangunan Generator Prabuwinatan. Ia menyebut pemerintah juga akan mulai terlibat dalam revitalisasi sejumlah kawasan di dalam Keraton Surakarta pada September mendatang.
“Perlu saya sampaikan bahwa bulan September nanti pemerintah akan langsung masuk ke dalam keraton, seperti Keraton Kilen, Pakubuwanan, termasuk Museum Harsono Pustaka,” katanya.
Ia berharap proses revitalisasi dapat berjalan dalam suasana yang kondusif. Menurut dia, seluruh pihak yang merupakan bagian dari Keraton Surakarta perlu mengedepankan kepentingan bersama agar penataan dan pelestarian keraton dapat terus berjalan.
“Mari bicara untuk kebaikan keraton ke depan,” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta Maretha Dinar Cahyono, S.E., M.M. mengapresiasi revitalisasi bangunan tersebut. Menurut dia, pemugaran membuat bangunan dan tembok Prabuwinatan kembali mendekati bentuk semula sekaligus memperlihatkan kembali benda-benda yang berkaitan dengan fungsi rumah genset.
“Yang jelas, ketika dulunya tembok Prabuwinatan ini ada yang roboh, kan membuat tampilan tidak bagus, tidak baik. Nah, sekarang sudah diperbaiki sedemikian rupa, dikembalikan seperti bentuknya semula. Barang-barang yang dulunya ada di dalam tembok Prabuwinatan ini sudah ditampilkan, sehingga kita bisa melihat bahwa dulunya fungsi dari tembok yang roboh ini kan digunakan untuk rumah genset,” katanya.
Maretha mengatakan bangunan tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran sejarah, kunjungan wisata hingga kegiatan seni budaya. Namun, pemanfaatannya tetap perlu mendapatkan izin dari pihak Keraton Surakarta.
“Jadi bentuk aslinya bagaimana. Kemudian juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran, kemudian juga kunjungan, dan tempat pentas seni budaya. Jadi, silahkan nanti bisa dimanfaatkan. Kita juga nanti ketika memanfaatkan harus izin kepada pihak keraton,” katanya.
Kerja sama penataan kawasan tersebut turut melibatkan Yayasan Warna Warni Indonesia yang dipimpin Nina Akbar Tandjung dan Yayasan Tandhiyo Buwono Surakarta. Revitalisasi diharapkan menjadi salah satu langkah untuk menghidupkan kembali nilai sejarah kawasan Keraton Surakarta sekaligus membuka ruang pemanfaatan bangunan cagar budaya bagi masyarakat. (*Thia/***)
