Habitat Pulih, Surili Jawa di Merbabu Masih Terjaga

FokusJateng.com – BOYOLALI — Populasi primata endemik Surili Jawa (Presbytis fredericae) sebagai satwa prioritas, terpantau masih terjaga di kawasan ini Taman Nasional Gunung Merbabu.

Hasil monitoring Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (Balai TN Gunung Merbabu) tahun 2025 menyebut keberadaan 37 individu Surili Jawa tersebar di sejumlah habitat penting kawasan Gunung Merbabu. Temuan tersebut menjadi indikator positif bahwa ekosistem hutan pegunungan di Merbabu masih mampu mendukung  kelangsungan hidup satwa liar endemik Jawa.

“Satwa liar hanya dapat bertahan apabila habitatnya tetap terjaga. Temuan ini menjadi sinyal positif bahwa upaya perlindungan kawasan dan pemulihan ekosistem di Gunung Merbabu berjalan dengan baik,” kata Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Anggit Haryoso dalam keterangan resminya pada Rabu 10 Juni 2026.

Dijelaskan, Surili Jawa merupakan salah satu primata endemik Pulau Jawa yang keberadaannya semakin terbatas akibat tekanan terhadap habitat alaminya. Spesies sangat bergantung pada kondisi hutan pegunungan yang sehat.

Resor Selo menjadi salah satu kantong  habitat penting bagi spesies tersebut. Pada area pengamatan seluas 96 hektar, petugas mencatat keberadaan 16 individu Surili Jawa. Kelompok Surili Jawa terbesar yang terpantau berjumlah 13 individu.

Keberadaan individu dewasa, remaja, hingga anakan yang teramati selama monitoring menunjukkan proses reproduksi masih berlangsung secara alami di habitatnya.

“Kehadiran anakan tersebut menjadi tanda bahwa populasi primata di Merbabu masih berkembang dan memiliki peluang keberlanjutan yang baik di alam liar, ” ujarnya.

Balai TN Gunung Merbabu juga mencatat pemeliharaan dan pemulihan habitat pakan sebagai faktor penting yang mendukung kelangsungan hidup kedua spesies tersebut. Vegetasi kemlandingan gunung (Albizia lophanta) yang sempat terdampak kebakaran hutan tahun 2019 kini kembali tumbuh dan mendominasi beberapa area habitat primata di Merbabu.

“Vegetasi tersebut tidak hanya menjadi sumber pakan utama Surili Jawa, tetapi juga dimanfaatkan Lutung Budeng sebagai tempat berlindung dan beraktivitas,” jelas Anggit.

Pemulihan vegetasi pasca kebakaran menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan dan mendukung keberlangsungan satwa liar di dalamnya.

Di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem pegunungan akibat perubahan lingkungan dan aktivitas manusia, keberadaan primata endemik yang masih terjaga menjadi pengingat penting bahwa perlindungan habitat merupakan kunci utama konservasi satwa liar.

Balai TN Gunung Merbabu menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat monitoring populasi, perlindungan habitat, serta pemulihan ekosistem kawasan konservasi secara berkelanjutan. Menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi kawasan, tetapi juga memastikan satwa liar tetap memiliki rumah yang aman untuk hidup dan berkembang.

“Keberadaan Surili Jawa di Gunung Merbabu menjadi simbol bahwa alam yang dijaga dengan baik akan tetap mampu menopang kehidupan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.”  (ist/**)