Fokus Jateng, SURAKARTA–Surakarta akan menjadi tempat pertemuan seniman, akademisi, peneliti, dan budayawan dari enam negara Asia Tenggara melalui Re:Write: Panji 2026 ASEAN Festival & Seminar. Festival internasional yang berlangsung di Bale Pangenggar, Taman Balekambang, pada 27–28 November 2026 itu akan mengangkat cerita Panji sebagai warisan budaya bersama bangsa-bangsa ASEAN.
Enam negara yang dijadwalkan terlibat dalam kegi atan tersebut adalah Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Laos, dan Kamboja. Mereka akan mengikuti sejumlah agenda, mulai dari seminar internasional, diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD), pertunjukan kesenian, hingga pameran kebudayaan.
Festival yang diselenggarakan Yayasan Arjasura bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta tersebut menjadi upaya memperkuat posisi cerita Panji sebagai common heritage atau warisan budaya bersama masyarakat Asia Tenggara.
Cerita Panji telah mendapatkan pengakuan UNESCO melalui program Memory of the World. Warisan budaya tersebut tidak hanya berkembang di Indonesia, tetapi juga menyebar dan mengalami berbagai penyesuaian dalam tradisi kesenian sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Surakarta Mareta Dinar Cahyono mengatakan pemerintah kota siap mendukung penyelenggaraan festival berskala internasional tersebut. Kesiapan itu ditunjang keberadaan Taman Balekambang yang memiliki nilai historis sekaligus menjadi salah satu ruang publik penting bagi masyarakat.
Menurut Mareta, pemilihan Taman Balekambang sebagai lokasi kegiatan memiliki keterkaitan dengan sejarah dan perkembangan kebudayaan di Kota Surakarta.
“Taman Balekambang merupakan ruang publik yang lahir dari sejarah panjang kebudayaan. Menjadikan tempat ini sebagai panggung publik skala internasional adalah keputusan yang sangat tepat secara historis maupun ekologis,” kata Mareta dalam konferensi pers di Graha Wisata Niaga Surakarta, Kamis, 5 November 2026.
Mareta, didampingi CEO Taman Balekambang Dhimas Dwi Pramana Putra, menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Surakarta memastikan kesiapan fasilitas dan berbagai kebutuhan pendukung acara. Persiapan tersebut dilakukan untuk menyambut delegasi dari negara peserta maupun masyarakat yang ingin menyaksikan festival.
Dhimas turut mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut, khususnya dalam memastikan kesiapan infrastruktur, kenyamanan pengunjung, serta pengelolaan kawasan Bale Pangenggar sebagai lokasi utama festival.
Salah satu agenda penting dalam festival ini adalah seminar internasional dan FGD yang mempertemukan akademisi, peneliti, serta pemangku kepentingan dari negara-negara peserta. Forum tersebut akan membahas pemanfaatan cerita Panji sebagai warisan budaya bersama, termasuk peluang pengembangannya melalui pendidikan, penelitian, dan kegiatan kebudayaan.
Sejumlah pembicara yang dijadwalkan hadir antara lain Dr. Rudy Wiratama, S.IP., MA dan Dr. Tatik Harpawati, S.S., M.Sn dari Indonesia, Dr. Thaneerat Jatuthasri dari Thailand, Dr. Soo Pong Chua dari Singapura, serta Prof. Nooriyah Mohamad dari Malaysia.
Festival Director ASEAN Panji Cultural Festival Wejoseno Yuli Nugroho mengatakan keterlibatan berbagai negara dan komunitas lokal menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan festival. Menurut dia, cerita Panji tidak cukup dibicarakan dalam forum akademis, tetapi juga perlu dihidupkan melalui praktik kesenian yang berkembang di masyarakat.
“Panji adalah milik bersama seluruh warga ASEAN. Melalui perpaduan seni topeng, wayang, pertunjukan reog rakyat, serta diskusi ilmiah lintas negara, kita merawat memori kolektif ini agar terus hidup dan relevan bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, penyelenggara juga menjadwalkan penandatanganan akta kesepakatan bertajuk “Panji Sebagai Common Heritage ASEAN”. Dokumen itu rencananya diserahkan langsung kepada Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon.
Kesepakatan tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kerja sama lintas negara dalam pelestarian dan pengembangan cerita Panji. Dengan demikian, upaya menjaga warisan budaya tersebut tidak hanya dilakukan oleh satu negara, tetapi juga melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan dari negara-negara yang memiliki keterkaitan sejarah dengan cerita Panji.
Penyelenggaraan festival tahun ini merupakan edisi ketiga setelah pertama kali diinisiasi pada 2018. Kegiatan tersebut sempat vakum sebelum kembali diselenggarakan dengan konsep dan cakupan internasional.
Melalui pertemuan lintas negara ini, Surakarta diharapkan menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman mengenai pelestarian budaya. Festival tersebut sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi Panji kepada masyarakat luas dan memperkuat posisinya sebagai warisan budaya bersama Asia Tenggara. (*Thia/**)
